Jadi dia mungkin akan menjadi vote getter. Yang tinggal tunjuk tangan, jutaan pendukungnya akan mengalirkan dukungan ke partai atau sosok yang di sukai Anies.
Bagi mereka yang biasa bully Anies tujuh kali sehari atau bahkan lebih melebihi orang sakit akut minum obat, tontonlah roasting komedian Kiky.
Sambil tertawa, perhatikan raut wajah Anies ketika Kiky menyebut Ahok.
Atau ketika Kiky menyebut Formula E, Gubernur pengendali air bukan banjir atau Gubernur dengan banyak kebijakan tapi banyak yang tidak tuntas.
Sudah perhatikan wajah Anies? Jelas dia tenang. Tidak tersinggung. Bahkan bisa menikmati.
Kata dia ke Kiky: "Tangannya dingin banget...", menunjukkan kuasa psikologis Anies yang tahu bahwa sebenarnya Kiky ketakutan roasting dia.
Dan jangan lupa... Tayangan itu sudah di edit.
Sekaligus menunjukkan bahwa Anies punya hak untuk menentukan mana scene yang bisa ditayangkan
Dia paham se pahamnya bahwa dia adalah media darling...
Nilai jualnya sangat tinggi. Yang bisa memberi pemasukan milyaran bagi stasiun TV. Walhasil yang ditonton adalah. Tawanya yang lepas. Bukan kecut seperti beberapa menteri yang di panggang Kiky.
Semua gesture Itu menunjukkan bahwa dia sangat prepare dalam pertunjukan yang dia sudah tahu pasti bahwa dia bakal dibully.
Bully is my business.
Senjata dia menangguk dukungan.
Dari orang kecil Jakarta yang dimanjakan aneka bantuan termasuk bantuan KJP yang lebih besar dari Ahok.
Atau dari ribuan warga Tanah Merah di Jakarta Utara yang dulunya dianggap liar kini sudah bisa mengurus sertifikat.
Atau warga kampung akuarium yang merasa didukung setelah berdarah-darah melawan Ahok.
Dan mereka yang mendukung di dunia nyata untuk Anies maju jadi Presiden.
Kalangan menengah - yang suka atau tidak - juga harus anggukkan kepala akan fakta bahwa selama dia menjabat Gubernur tidak sekalipun dia melaporkan orang yang menghujatnya ataupun memfitnahnya.
Pendukungnya - jikapun melaporkan yang memfitnah Anies - tidak sekalipun berusaha keras memenjarakan orang yang dilaporkan.
Kebalnya Anies di roasting Kiky bahkan menikmati menunjukkan kekuatan Anies sebenarnya. Yang luar biasa ndablek. Karena dia paham betul permainan politik negeri ini.
Sejauh bisa merangkul simpul kekuasaan dan membiarkan mereka cari keuntungan, Anies berada diatas angin. Untuk dia bikin apapun. Untuk dia keluarkan kebijakan apapun. Dan semua simpul kekuasaan diam.
Jika ada kritikan, Anies segera tahu bahwa Itu cuma timbulan biar dikata kerja dan mengkritik. Jadi hanya netizen yang tiap hari minum obat sakit kepala melihat kelakuan Anies yang absurd. Yang ngawur. Yang menghamburkan uang. Yang aneh-aneh.
Celakanya, bacotan netizen justru menjadi pupuk subur bagi meningkatnya dukungan Anies jadi Presiden.
If anything..
Terjadi benturan keras antara PDI P dan Gerindra hingga gagal mewujudkan skenario Prabowo-Puan sebagai Presiden Dan Wakil Presiden dengan Pak Jokowi sebagai menteri senior yang membawahi semua Menko.
Maka Anies bisa menyalip sebagai kuda hitam.
Secara teoritis dan nafas kultural Indonesia, sangat kecil kemungkinan Anies jadi Presiden Dia bukan pribumi. Keturunan Arab.
Jadi dia mungkin akan menjadi vote getter. Yang tinggal tunjuk tangan, jutaan pendukungnya akan mengalirkan dukungan ke partai atau sosok yang di sukai Anies.
Dalam konteks ini, Anies setara dengan Jokowi. Yang punya semua kartu hidup dan manjur dipakai dimanapun dan dalam kondisi apapun. Kartu yang bebas menertawakan mereka yang menertawakannya.
Kartu Itu bisa As atau Joker.
***
Welcome Citizen Polite!
Setelah melalui perjalanan cukup panjang sebagai website warga menulis politik yang ekslusif, kini PepNews terbuka untuk publik.
Para penulis warga yang memiliki minat dan fokus pada dunia politik mutakhir Tanah Air, dapat membuat akun dan mulai menuangan ide, pandangan, gagasan, opini, analisa maupun riset dalam bentuk narasi politik yang bernas, tajam, namun tetap sopan dalam penyampaian.
Wajah berganti, tampilan lebih “friendly”, nafas tetaplah sama. Perubahan ini bukan hanya pada wajah dan rupa tampilan, tetapi berikut jeroannya.
Apa makna dan konsekuensi “terbuka untuk publik”?
Maknanya, PepNews akan menjadi web portal warga yang tertarik menulis politik secara ringan, disampaikan secara bertutur, sebagaimana warga bercerita tentang peristiwa politik mutakhir yang mereka alami, lihat dan rasakan.
Konsekuensinya, akan ada serangkaian aturan adimistratif dan etis bagi warga yang bergabung di PepNews. Aturan paling mendasar adalah setiap penulis wajib menggunakan identitas asli sesuai kartu keterangan penduduk. Demikian juga foto profil yang digunakan.
Kewajiban menggunakan identitas asli berikut foto profil semata-mata keterbukaan itu sendiri, terlebih untuk menghindari fitnah serta upaya melawan hoax.
Terkait etis penulisan, setiap penulis bertanggung jawab terhadap apa yang ditulisnya dan terhadap gagasan yang dipikirkannya.
Penulis lainnya yang tergabung di PepNews dan bahkan pembaca umumnya, terbuka memberi tanggapan berupa dukungan maupun bantahan terhadap apa yang ditulisnya. Interaktivitas antarpenulis dan antara pembaca dengan penulis akan terbangun secara wajar.
Agar setiap tulisan layak baca, maka dilakukan “filtering” atau penyaringan tulisan berikut keterangan yang menyertainya seperti foto, video dan grafis sebelum ditayangkan.
Proses penyaringan oleh administrator atau editor dilakukan secepat mungkin, sehingga diupayakan dalam waktu paling lambat 1x24 jam sebuah tulisan warga sudah bisa ditayangkan.
Dengan mulai akan mengudaranya v2 (versi 2) PepNews ini, maka tagline pun berubah dari yang semula “Ga Penting Tapi Perlu” menjadi CITIZEN POLITE: “Write It Right!”
Mari Bergabung di PepNews dan mulailah menulis politik!
Pepih Nugraha,
CEO PepNews