Antara Fadli Zon, Jokowi dan Prabowo

Kamis, 14 Februari 2019 | 21:35 WIB
0
420
Antara Fadli Zon, Jokowi dan Prabowo
Fadli Zon

Sosok Wakil Ketua DPR RI; Fadli Zon, belakangan ini kian santer dibicarakan publik lantaran sejumlah kontroversi yang dibuatnya, mulai dari puisi "doa yang tertukar" hingga pernyataan menohok yang menolak penganugerahan Medali Kemerdekaan Pers untuk Jokowi. Sikap kontroversial seperti ini tidak bebas dampak.

Fadli malah lebih gencar memainkan aksi kritiknya terhadap Jokowi sebagai petahana, ketimbang menonjolkan peran demokratisnya sebagai Wakil Ketua DPR RI dan sebagai Anggota Dewan Pengarah Badan Pemenangan Nasional (BPN) pasangan calon Prabowo Subianto-Sandiaga Uno. 

Malah muncul kritik bahwa Fadli terkesan lebih fokus pada tampilannya di Acara Talkshow Indonesia Lawyers Club (ILC) ketimbang menjalankan tugasnya sebagai Wakil Ketua DPR RI.   

Berbagai kritik yang dilontarkan Fadli Zon entah terhadap berbagai situasi politik, hukum maupun terhadap kinerja pemerintah, menuai kritik balik dari publik, yang tidak sedikit jumlahnya.

Menurut hemat saya, kritik yang benar, daya terobos dan peluang diterimanya, sangat bergantung pada motivasi si aktor kritik. Kalau kritik yang dilancarkan itu dilatarbelakangi oleh kebencian, demi melemahkan elektabilitas pihak tertentu dengan bualan semata, maka sifat kritik itu otomatis kontraproduktif.

Menurut saya, kebiasaan Fadli Zon melancarkan kritik yang terus disimak publik, bukan tanpa dampak. Pernyataan-pernyataan menohok dari Fadli Zon sebagai Anggota Dewan Pengarah Badan Pemenangan Nasional (BPN) pasangan calon Prabowo Subianto-Sandiaga Uno, bisa berdampak pada menurunnya elektabilitas Prabowo dan Sandiaga Uno.

Apalagi banyak di antara kritiknya terhadap paket petahana Jokowi justru bersentuhan langsung dengan apa yang sebenarnya paling diinginkan oleh rakyat.

Tim BPN Prabowo-Sandi, mestinya menyadari bahwa berhadapan dengan paket petahana, tidaklah cukup kalau terlalu sering menggunakan sistem kampanye negatif. Persoalannya adalah sekalipun berbagai aksi kritik dilancarkan, tidak dapat menyangkal kenyataan bahwa hampir seluruh masyarakat Indonesia, paling nampak Papua dan NTT, telah mengalami dari dekat bukti pelaksanaan janji Jokowi sebagai petahana terkait dengan infrastruktur dan program lainnya.

Malah hampir seluruh masyarakat Indonesia tahu tentang siapa itu Prabowo kalau berbicara tentang masa-masa kritis antara Indonesia dan Timor Leste waktu itu. Tidak dapat disangkal bahwa fakta pelanggaran HAM seperti ini, justru lebih kuat dan lebih cepat mempengaruhi publik kalau benar-benar dimainkan secara serius.

Tetapi tim BPN Jokowi-Ma’ruf menyadari itu bahwa dalam kampanye, fokusnya pada adu gagasan visi-misi terhadap publik bukan mencari-cari fakta masa lalu dari pihak lain hanya demi keuntungan pribadi.

Kalau Fadli Zon tidak mengubah pola kritiknya, besar kemungkinan, kekecewaan publik terhadap Fadli makin menjadi-jadi dan belakangan bisa menjadi boomerang terhadap dirinya, tim BPN dan paket Prabowo-Sandi.

Hemat saya, Prabowo-Sandiaga dan tim lainnya mesti secepatnya menyadari strategi ini sebagai sesuatu yang harus dievaluasi dan dibenahi lagi. Mengapa? sebab strategi seperti ini disinyalir bukannya melemahkan elektabilitas paket petahana Jokowi melainkan atas cara ini, strategi ala Fadli berpotensial memangsa tuannya sendiri.   

 

***