Fear of Missing Out

Individu dapat belajar untuk mengelola FOMO mereka dan menemukan keseimbangan antara kebutuhan sosial dan kesehatan mental yang sehat.

Minggu, 5 Maret 2023 | 07:05 WIB
1
561
Fear of Missing Out
Oleh : Tan Jessica Florencia, Mahasiswi Psikologi Universitas Katolik Widya Mandala.

Berkembangnya media sosial mempercepat perkembangan pengetahuan dari seluruh panca dunia. Penyebaran informasi yang pada mulanya hanya melalui mulut ke mulut dan komunikasi dilakukan dengan surat menyurat. Pada masa kini, seiring dengan berkembangnya populasi manusia, perkembangan teknologi telah mencapai puncaknya.

Manusia pada masa kini dapat dengan mudah bertukar informasi, maupun berkomunikasi melalui media sosial. Sama halnya dengan apapun yang berkembang secara pesat dengan jangka waktu yang relatif pendek, sesuatu yang berlebihan tentu tidak baik.

Perkembangan teknologi yang sangat pesat memiliki banyak pro dan kontra dari penikmatnya. Media sosial memudahkan kehidupan individu yang tinggal jauh dari lingkungan dan keluarganya untuk mencapai komunikasi yang lebih efisien.

Namun, media sosial maupun teknologi dapat mencapai pemanfaatan yang buruk, bila digunakan dengan tujuan yang salah.

Media sosial mencakup hal baik dan buruk secara bersamaan, hal ini berkaitan dengan cara individu melihat fenomena yang dipublikasikan.

Presentase penggunaan media sosial tertinggi pada saat ini telah dipegang oleh tiktok, instagram, dan whatsapp. Tiktok adalah suatu aplikasi yang berguna untuk memudahkan individu melihat video dari pancanegara.

Hal ini tentu banyak menimbulkan pro dan kontra dalam masyarakat, salah satu hal yang menjadi kontra ialah ketika tiktok digunakan sebagai sarana untuk menipu maupun mencuri identitas seseorang.

Tidak dapat dipungkiri bahwa meskipun terdapat banyak cyber crime dalam tiktok, namun tiktok dapat memberikan sarana pengetahuan luas dan koneksi yang dapat diperoleh oleh pengguna. Hal ini kembali lagi pada tujuan utama individu dalam pemanfaatan teknologi, maupun media sosial. 

Merokok ialah suatu kebiasaan yang dibentuk dari pola dini. Individu perokok berat cenderung terjadi karena adanya kebiasaan yang menjadikannya kecaduan akan nikotin.

Akhir-akhir ini dalam video yang diunggah di tiktok oleh seorang wanita asal London menceritakan dirinya terkena kanker tenggorokan yang membuat dirinya harus menggunakan alat bantuan hanya untuk bernafas maupun berbicara. Video tersebut tentu membangkitkan simpati dari penontonnya dan menjadi informasi bahwa merokok dapat menyebabkan dampak yang buruk bagi kesehatan dalam jangka panjang.

Merokok yang pada mulanya tabu untuk dilakukan oleh anak dibawah umur, pada masa kini menjadi perokok ialah hal yang dianggap keren. 

Banyak anak yang masih ada di bangku SD telah menjadi perokok aktif. Hal ini menimbulkan spekulasi dari masyarakat bahwa ada pola asuh yang salah, maupun lingkungan dan pergaulan yang buruk.

Selain rokok, penyebaran video dari banyak kalangan menggunakan vape atau rokok elektrik membuat beberapa individu tidak mau ketinggalan atau ingin merasa cukup up to date untuk dilihat. Fenomena tersebut dapat disebut sebagai fear of missing out yang memiliki arti bahwa individu banyak melakukan hal-hal yang keluar dari moral nya sendiri untuk tidak tertinggal.

Selain dari perokok dini, fenomena menggunakan kalimat kasar sebagai bahan bercanndaan juga banyak dilakukan untuk terlihat keren. Banyak hal yang telah keluar dari moral individu dan tetap dilakukan karena berkembangnya media sosial, sehingga definisi terlihat “keren” disimpulkan sebagai hal-hal yang dilakukan banyak orang. 

Fenomena FOMO atau "Fear of Missing Out" adalah suatu kecemasan atau ketidaknyamanan yang dirasakan oleh seseorang karena merasa bahwa ia sedang melewatkan pengalaman atau aktivitas yang menyenangkan yang sedang dijalani oleh orang lain, terutama di lingkungan sosial media.

Fenomena FOMO ini semakin meningkat seiring dengan perkembangan teknologi dan popularitas sosial media, yang memungkinkan seseorang untuk melihat dan membandingkan kehidupan mereka dengan orang lain. Kondisi ini seringkali menyebabkan seseorang merasa tertekan, cemas, dan tidak puas dengan hidupnya sendiri. FOMO dapat mempengaruhi orang dari berbagai latar belakang, usia, dan jenis kelamin.

Namun, fenomena ini seringkali terlihat pada generasi milenial dan generasi Z, yang tumbuh dewasa di tengah-tengah kemajuan teknologi dan terbiasa dengan budaya berbagi melalui media sosial. Fenomena FOMO dapat berdampak negatif pada kesehatan mental, seperti meningkatkan tingkat kecemasan, stres, dan depresi. Oleh karena itu, penting untuk mengenali tanda-tanda FOMO dan mengambil langkah-langkah untuk mengatasi ketidaknyamanan dan kecemasan yang muncul akibat fenomena ini, seperti dengan membatasi penggunaan media sosial, merencanakan kegiatan positif, atau menemukan cara-cara lain untuk merasa terhubung dengan orang lain secara positif.

Fenomena fear of missing out dapat secara langsung dikaitkan dalam psikologi sosial, karena pada dasarnya psikologi ialah suatu ilmu yang mempelajari perilaku manusia. Psikologi sosial adalah bidang ilmu psikologi yang mempelajari interaksi sosial dan pengaruhnya terhadap pemikiran, perilaku, dan emosi individu. Psikologi sosial mengkaji berbagai fenomena sosial, seperti persepsi sosial, sikap, pengaruh sosial, konformitas, stereotip, prasangka, dan konflik antar kelompok.

Di dalam psikologi sosial, terdapat beberapa teori dan model yang digunakan untuk menjelaskan fenomena sosial yang kompleks. Salah satu teori yang terkenal adalah teori kognitif sosial yang dikembangkan oleh Albert Bandura. Teori ini mengemukakan bahwa perilaku manusia dipengaruhi oleh faktor lingkungan, perilaku orang lain, dan faktor internal seperti keyakinan dan harapan individu.

Secara umum, psikologi sosial sangat penting untuk memahami dinamika sosial dan interaksi antara individu, kelompok, dan masyarakat. Dengan mempelajari psikologi sosial, individu dapat memahami lebih baik mengapa orang berperilaku seperti yang mereka lakukan, dan bagaimana individu dapat meningkatkan interaksi sosial yang positif di antara manusia.

Teori Albert Bandura dalam psikologi sosial dikenal sebagai teori kognitif sosial. Teori ini menekankan bahwa perilaku manusia dipengaruhi oleh faktor lingkungan, perilaku orang lain, dan faktor internal seperti keyakinan dan harapan individu.

Menurut teori ini, individu belajar melalui pengamatan dan interaksi dengan lingkungan sosial mereka. Bandura mengajukan bahwa ada tiga faktor utama yang memengaruhi belajar melalui pengamatan: (1) karakteristik model atau orang yang diamati, (2) karakteristik pengamat, dan (3) lingkungan atau situasi di mana pengamatan dilakukan. 

Albert Bandura juga menekankan pentingnya self-efficacy, yaitu keyakinan seseorang dalam kemampuannya untuk melakukan suatu tindakan. Menurut teori ini, self-efficacy memengaruhi perilaku individu, motivasi, dan kemampuan seseorang untuk mengatasi tantangan dan mengatasi rintangan. Teori kognitif sosial Bandura juga menekankan pentingnya reinforcement atau penguatan untuk memperkuat perilaku yang diinginkan.

Penguatan dapat berupa penguatan positif, yaitu memberikan hadiah atau penghargaan, atau penguatan negatif, yaitu menghilangkan stimulus yang tidak diinginkan. Secara keseluruhan, teori kognitif sosial Bandura sangat berpengaruh dalam psikologi sosial dan telah diterapkan dalam berbagai konteks, seperti dalam pendidikan, kesehatan, dan psikoterapi. Teori ini juga memperlihatkan pentingnya peran lingkungan dan interaksi sosial dalam membentuk perilaku manusia.

Fear of Missing Out (FOMO) adalah kecemasan atau rasa takut yang dirasakan seseorang ketika merasa tertinggal atau tidak terlibat dalam suatu aktivitas atau pengalaman yang dimiliki oleh orang lain. Kecemasan FOMO dapat terkait dengan penggunaan media sosial dan informasi yang berlebihan yang diterima oleh individu.

Dalam kaitannya dengan teori kognitif sosial Bandura, FOMO dapat dilihat sebagai hasil dari pengaruh lingkungan atau faktor pengamat dalam belajar melalui pengamatan. Individu belajar tentang kegiatan dan pengalaman orang lain melalui pengamatan dari media sosial dan lingkungan sosial mereka. Jika mereka melihat bahwa orang lain memiliki pengalaman yang lebih baik atau lebih menarik, maka mereka mungkin merasa tertinggal atau merasa tidak memadai. Dalam hal ini, FOMO dapat berdampak pada self-efficacy seseorang, yaitu keyakinan individu dalam kemampuannya untuk memilih dan mengambil keputusan. 

Penggunaan media sosial dan informasi yang berlebihan juga dapat memengaruhi lingkungan atau situasi dalam belajar melalui pengamatan. Penggunaan media sosial dapat memberikan penguatan positif dalam bentuk likes atau komentar, yang dapat meningkatkan self-efficacy individu dalam hal popularitas dan kepentingan. Namun, penggunaan media sosial juga dapat memengaruhi perilaku individu, termasuk kecemasan dan ketergantungan pada penggunaan media sosial.

Dalam hal ini, teori Bandura menunjukkan bahwa pengalaman individu dipengaruhi oleh interaksi antara karakteristik pengamat, karakteristik model, dan lingkungan atau situasi. Oleh karena itu, penting bagi individu untuk memahami pengaruh lingkungan dan lingkungan sosial mereka pada perilaku dan keyakinan mereka, dan untuk mengambil tindakan untuk memperkuat self-efficacy dan mengurangi kecemasan FOMO yang tidak perlu.

Telah disinggung dalam beberapa paragraf diatas bahwa FOMO berkaitan secara langsung dengan teori dari Albert Bandura mengenai self-efficacy. Jika seseorang memiliki tingkat self-efficacy yang tinggi, maka mereka akan merasa lebih percaya diri dalam memilih aktivitas atau pengalaman yang sesuai dengan minat dan kebutuhan mereka. Mereka juga lebih mampu untuk mengendalikan kecemasan FOMO dan merasa puas dengan keputusan mereka. Namun, jika seseorang memiliki tingkat self-efficacy yang rendah, mereka cenderung merasa cemas dan sulit untuk mengambil keputusan yang tepat, dan lebih mudah terpengaruh oleh kegiatan atau pengalaman orang lain. 

Sama halnya dengan fenomena yang buruk lainnya, FOMO dapat dihilangkan bila telah berakibat fatal bagi kehidupan seseorang. Untuk mengatasi kecemasan FOMO, seseorang dapat memperkuat self-efficacy mereka melalui beberapa cara.

Pertama, mereka dapat mencari pengalaman yang sesuai dengan minat dan kebutuhan mereka, dan bukan hanya karena merasa terpaksa mengikuti orang lain.

Kedua, mereka dapat melatih keterampilan dan kompetensi yang dibutuhkan untuk mencapai tujuan mereka, sehingga mereka lebih percaya diri dalam kemampuan mereka untuk mencapai hasil yang diinginkan.

Ketiga, mereka dapat mencari dukungan sosial dari orang-orang yang positif dan mendukung untuk memperkuat keyakinan diri mereka. Selain itu, mengatasi kecemasan FOMO juga dapat dilakukan dengan membatasi penggunaan media sosial dan mengurangi paparan informasi yang tidak diperlukan. Hal ini dapat membantu mengurangi perbandingan sosial yang tidak sehat dan memberikan lebih banyak waktu untuk fokus pada diri sendiri dan mencapai tujuan pribadi.

Dengan demikian, dengan memperkuat self-efficacy dan mengambil tindakan yang tepat, seseorang dapat mengatasi kecemasan FOMO dan mencapai kepuasan hidup yang lebih baik.

Secara keseluruhan, terdapat kaitan antara FOMO dan teori Bandura, khususnya melalui konsep self-efficacy. FOMO dapat mempengaruhi tingkat kecemasan individu dan membuatnya sulit mengambil keputusan yang tepat. Namun, dengan meningkatkan self-efficacy, individu dapat merasa lebih percaya diri dalam memilih aktivitas atau pengalaman yang sesuai dengan minat dan kebutuhan, serta lebih mampu untuk mengendalikan kecemasan FOMO.

Untuk memperkuat self-efficacy, individu dapat mencari pengalaman yang sesuai dengan minat dan kebutuhan, melatih keterampilan dan kompetensi yang dibutuhkan, dan mencari dukungan sosial dari orang-orang yang positif dan mendukung.

Selain itu, mengatasi kecemasan FOMO juga dapat dilakukan dengan membatasi penggunaan media sosial dan mengurangi paparan informasi yang tidak diperlukan. Dengan memahami kaitan antara FOMO dan self-efficacy dengan teori Bandura, individu dapat mengambil tindakan yang tepat untuk mengatasi kecemasan FOMO dan meningkatkan kepercayaan diri, baik dalam konteks individu maupun kelompok.

Konsep FOMO (Fear of Missing Out) dalam psikologi dapat dikaitkan dengan beberapa teori psikologi termasuk teori psikodinamika dari Sigmund Freud. Freud adalah seorang psikoanalis yang terkenal dengan teorinya tentang struktur kepribadian manusia, yaitu id, ego, dan superego.Dalam konteks FOMO, id dapat dianggap sebagai representasi dari kebutuhan bawah sadar seseorang untuk mendapatkan pengalaman yang menyenangkan dan memuaskan.

Ego bertindak sebagai penghubung antara kebutuhan bawah sadar dan realitas luar, sementara superego mewakili nilai-nilai sosial dan moral yang membentuk perilaku seseorang.

Menurut teori Freud, konsep FOMO dapat dianggap sebagai manifestasi dari kebutuhan bawah sadar untuk memenuhi dorongan instingual. Freud mengemukakan bahwa setiap individu memiliki dorongan-dorongan instingual yang berasal dari id, termasuk dorongan untuk memenuhi kebutuhan sosial dan untuk dicintai oleh orang lain. Ketika seseorang mengalami FOMO, dorongan instingual tersebut mungkin menjadi sangat kuat dan mengakibatkan ketidakseimbangan antara id, ego, dan superego.

Misalnya, keinginan untuk terus-menerus berada di tengah-tengah perhatian orang lain (dorongan id) mungkin bertentangan dengan nilai nilai moral atau tuntutan realitas seperti pekerjaan atau tanggung jawab lainnya (dorongan superego). 

Dalam hal ini, individu mungkin mengalami konflik antara kebutuhan bawah sadar mereka dan tuntutan dari lingkungan mereka. Freud percaya bahwa konflik ini dapat menyebabkan kecemasan atau distres emosional yang dapat mempengaruhi perilaku seseorang.

Dalam ringkasan, kaitan antara FOMO dan teori Freud menunjukkan bahwa konsep FOMO dapat dilihat sebagai manifestasi dari kebutuhan bawah sadar seseorang yang dijelaskan dalam teori psikodinamika Freud. Memahami konsep ini dapat membantu individu untuk memahami kebutuhan dan motivasi bawah sadar mereka dan memperoleh keseimbangan antara dorongan instingual dan tuntutan lingkungan mereka.

Kesimpulan yang dapat ditarik dari fenomena, teori, dan keterkaitan antara fenomena dan psikologi sosial ialah sesuatu yang terlalu berlebihan dalam aspek apapun akan menimbulkan ketidaksehatan individu dalam hidup, baik secara psikis maupun fisik. Fenomena fear of missing out dapat secara langsung dikaitkan dalam psikologi sosial, karena pada dasarnya psikologi ialah suatu ilmu yang mempelajari perilaku manusia.

Artikel ini menjelaskan bagaimana kecemasan dan ketakutan seseorang untuk melewatkan suatu pengalaman dapat mempengaruhi perilaku dan keputusan mereka. FOMO dapat menyebabkan individu untuk terus-menerus memeriksa media sosial atau menyesuaikan jadwal mereka untuk mengikuti acara atau aktivitas tertentu. Karena itu, FOMO dapat menjadi sumber stres dan tekanan sosial. 

Dalam kaitannya dengan teori Bandura tentang pembelajaran sosial, artikel ini menjelaskan bagaimana individu belajar dan meniru perilaku orang lain melalui pengamatan dan interaksi sosial. Dalam konteks FOMO, individu cenderung meniru perilaku orang lain untuk menghindari kecemasan dan ketakutan mereka untuk melewatkan pengalaman yang dianggap penting.

Selain itu, artikel tersebut juga membahas dampak teknologi dan media sosial dalam memperkuat dan memperluas pengaruh FOMO. Dalam hal ini, individu lebih rentan terhadap pengaruh dari orang-orang yang mereka ikuti di media sosial dan dapat mempengaruhi persepsi individu mengenai pentingnya sebuah pengalaman atau acara tertentu.

Sementara itu, teori Freud tentang psikoanalisis juga dapat memberikan pemahaman tentang FOMO. Freud berpendapat bahwa individu memiliki kebutuhan bawaan untuk memenuhi hasrat dan keinginan, termasuk keinginan untuk menghindari rasa tidak puas dan kekecewaan.

Dalam konteks FOMO, individu cenderung memperoleh kesenangan dan kepuasan dari pengalaman sosial, dan kehilangan pengalaman tersebut dapat menyebabkan rasa tidak puas dan kekecewaan.

Dalam kesimpulannya, artikel ini menyoroti bagaimana FOMO dapat mempengaruhi kesehatan mental seseorang dan bagaimana teori Bandura tentang pembelajaran sosial dan teori Freud tentang psikoanalisis dapat memberikan pemahaman yang lebih dalam mengenai fenomena ini. Namun, individu juga dapat belajar untuk mengelola FOMO mereka dan menemukan keseimbangan antara kebutuhan sosial dan kesehatan mental yang sehat.

***