Kampanye Buruk Perguruan Tinggi Negeri

Masalah terutama bukan pada anak-anak kita. Tapi terutama pada model parenting yang kita lakukan sejak dini. Bagaimana kita jadi teladan yang baik, bagaimana kita sedikit berani bersikap tega, agar anak-anak lebih berkarakter dan memiliki tanggung jawab.

Rabu, 20 April 2022 | 07:24 WIB
0
54
Kampanye Buruk Perguruan Tinggi Negeri
Wisuda (Foto: kompas.com)

Ketika ingin menuliskan tema "Ngrasani Jokowi" salah satu titik yang paling ingin saya sorot adalah makin memburuknya standar atau kualitas pendidikan di Indonesia. Saya tidak ngerti, dengan duit segitu banyak yang dialokasikan di sektor ini, dengan berbagai terobosan baru yang "katanya" akan dilakukan. Dengan hasilnya adalah rasa frustasi tak berujung yang tak alang kepalang. 

Frustasi yang katanya dianggap terobosan itu adalah mengalihkan pos menteri yang selama ini secara tradisional memang diperebutkan oleh dua lembaga yang berakar dari kota Jogja. Dulu, di masa Orde Lama yang kemudian dilanjutkan Orde Baru, adalah yang berbasis pada sistem pendidikan dan menteri-menteri yang berasal dari lingkungan Taman Siswa. Sebuah pendidikan yang berakar pada nasionalisme dan budi pekerti, yang kemudian justru dianggap kuno dan ketinggalan jaman. Dianggap demikian, justru ketika "institusi" ini sudah diserap habis semua nilai-nilai baiknya hingga tertinggal ampasnya. 

Pasca reformasi, sektor ini tampak jadi rebutan banyak pihak. Tapi kemudian sebagai perimbangan bahwa Kementrian Agama harus menjadi wilayah tradisonal NU, maka kemudian sektor pendidikan umum diserahkan pada Muhammadiyah. Yang memang secara tradisional banyak memilih ladang di sektor ini. Tampak baik-baik saja, sampai kemudian sebagaimana dulu NICA Belanda membonceng tentara Sekutu. Tiba-tiba bum, warna dan arahnya jadi sama tak jelasnya. 

Sekolah negeri berubah menjadi "sekolah beragama", hanya dengan mengubah kosa kata "budi pekerti" menjadi "ber-akhlak, beriman, ber-taqwa". Selebihnya ladang pendidikan adalah arena provokasi dengan baju bisnis, yang nyaris sama persis dengan kerjaan di sekolah-sekolah yang berbasis agama yang dikelola kementrian sebelahnya. Bahwa tanpa agama, maka bla bla bla.....

Maka, ini adalah sebuah tandem. Yang kemudian infiltrasinya merasuk ke kementerian-kementerian lain yang juga mengelola jenis-jenis pendidikan kejuruan atau kekhususan yang pada akhirnya wajahnya jadi sama saja. Mereka seperti rumah besar, tapi akhirnya tak lebih rumah tipe 36, ke segala penjuru arah lu lagi lu lagi. Menjadi rumah sempit yang tak lagi mampu menumbuh kembangkan generasi penerus bangsa. Tak akan pernah. Hanya besar di visi misi, tapi loyo dalam pertarungan dan kompetisi di dunia nyata...

Di era kedua inilah, kemudian Jokowi menunjuk Nadiem Makarim sebagai jalan keluar selaksa masalah sekaligus. Ya agar terbebas dari afiliasi masa lalu, kompetensi dunia kerja, dan mungkin yang terburuk "karepnya ya sekali lagi karepnya" dunia pendidikan yang makin efektif dan efisien. Mimpi mereka bahwa tak lagi butuh gedung sekolah, tak butuh lagi banyak guru yang sebenarnya tak betul-betul memiliki integritas dan kompetensi. Guru-guru yang tak mau lagi dianggap sebagai pahlawan tanpa tanda jasa, tapi juga tak kunjung jadi pengajar profesional. 

Tapi, begitulah karep tinggalah karep, maksud baik tinggalah maksud baik. Dunia pendidikan adalah medan perang politik sesungguhnya. Ia lebih sadis dari dunia bisnis. Apalagi sekedar agama yang selamanya sekedar kuda tunggang kalau memang gentleman, atau kalau pengecut yang sekedar kuda troya...  

Dan bila di tingkat pendidikan dasar dan menengah, seolah orang tua tak lebih kerbau dicocok hidung tak berdaya. Hanya karena berharap pendidikan gratis. Maka Perguruan Tinggi Negeri adalah anomali sempurna yang tak kalah mengerikannya. Sudah harus bayar mahal, untuk atas nama fasilitas pendidikan bermutu. Harus berebut kursi, hanya untuk kebanggan selama tiga hari puja puji di sosial media. Sementara si anak-anak dimanipulasi dengan nilai-nilai akademis yang tak benar-benar menunjukkan kapasitas dan kapabilitas mereka sebenarnya. 

Nilai tinggi dan selendang cum laude diberikan sebagai imbalan membayar kursi yang harus dibayar sangat mahal. 

Dan saat lulus, bingung dan galau ketika harus memasuki kerasnya dunia kerja. Dan solusinya melanjutkan ke jenjang pendidikan S2. Sebuah foto miniatur tentang keluarga dengan orang tua berwatak cash cow yang melahirkan generasi stroberi. Tampak sukses, ranum dan lezat, tapi ketika dipencet terasa ampang, gampang kempes lalu selebihnya loyo ... 

Ironis tersebut belum selesai, saat ketika sebuah agama dominan itu sudah berkuasa tiba-tiba kemudian watak dasarnya keluar. Sebuah watak primitif yang seharusnya tak boleh ada dalam dunia pendidikan. Dan hal itu seolah mencapai puncaknya, ketika seorang dosen UI yang sialnya justru seorang muslim, di satu pihak. Bagaimana ia disembelih oleh muslim yang lainnya dari PTN-PTN yang berbeda. Yang semestinya saling menghormati, melindungi, dan mengasihi.  

Boleh saya ceritakan detailnya? 

Pertama, entah apa yang ada dalam otak Dahlan Iskan, ketika di web-nya. Ia mengunggah postingan seorang dosen IPB bernama Desi Suyamto. Tak jelas apakah ia seorang dosen, bahkan DI pun meragukannya. Tapi intinya ia dengan cepat membuat sebuah riset pendek tentang kadar ke-akademis-an Ade Armando. Intinya ia ingin menafikan kadar popularitas AA, dengan menyajikan data-data capaian publikasi ilmiah dari Ade Armando berdasarkan metrik SCOPUS INDEX yang berskala internasional. Dan hasilnya ia menilai AA hanya bernilai 1. 

Disimpulkannya capaian publikasi ilmiah internasionalnya masih kalah dengan seorang mahasiswa pascasarjana yang baru lulus. Berita sampah tendensius seperti ini, kok bisa-bisanya terpublikasi. Hanya sekedar penguat sikap rasisnya, bahwa ia bisa memahami apa yang dialami oleh AA.

Kedua, seorang guru besar dari UGM, bernama Karna Wijaya. Yang juga entah karena saking jelek selera humornya. Sehingga ia kompak dengan istrinya bukan sekedar mentertawakan AA, tapi juga melecehkannya sedemikian rupa. Hingga apa yang terjadi sebagai sesuatu yang "pantas disembelih".

Bahwa ia hanya sekedar gunung es, bahwa ia hanya seorang sial dari mungkin ratusan dosen lain berwatak sejenis di PTN tertua di negeri ini. Cuitannya tak bisa disederhanakan sebagai salah pencet tuts hape atau gagal mengelola jari jemari.   

Ia adalah gambaran nyata, betapa pede dan leluasanya seorang akademisi bersikap seenaknya di ruang publik. Menarik untuk ditunggu sikap tegas apa yang akan diambil pimpinan UGM untuk membersihkan institusinya. Dari manusia-manusia berwatak pengecut yang gampang meminta maaf, tapi barangkali tak akan pernah bisa memperbaiki watak rasis, fasis, dan anti-humanis nya itu. 

Ketiga, dan ini sebenarnya tak ada kaitannya dengan kedua cerita di atas. Di mana sebuah lembaga penelitian resmi di ITB tanpa malu mempublikasi sebuah produk, ya alih-alih temuan ilmiah yang bermutu. Sekedar produk yang sangat sektarian, substitusi dari hal-hal yang tidak prinsipil dalam kehidupan publik. Sebuah cairan penghilang najis, yang sekedar mengganti tanah yang mudah didapatkan di mana saja. Produk yang alih-alih dipublikasi bisa didermakan guna diproduksi oleh masyarakat luas, tapi ia melindungi dengan paten dan hanya mereka yang berhak mendistribusikannya. 

Lalu di mana sisi pengabdian masyarakatnya? Dimana etika Tri Darma Perguruan Tinggi yang menjadi misi utama sebuah PTN. 

Ketiga fenomena di atas, semestinya makin menyadarkan masyarakat untuk jangan terlalu bangga dan menilai secara berlebihan lagi mengkuliahkan anak-anak mereka di PTN-PTN tersebut. Zaman berubah, harusnya juga selera dan cara pandang orang tua berubah.Tanpa sadar PTN terhormat yang secara rangking paling tinggi di Indonesia itu sedang mempertontonkan borok dan bosok sisi buruknya. 

Mereka bukan saja telah gagal, mereka dengan ringan mempermalukan dirinya sendiri....

NB: Kalau tidak seperti itu, lalu apa solusinya. Dari ketiga fenomena di atas, yang sangat terlambat adalah munculnya kesadaran beberapa orang tua, untuk tidak lagi mengkuliahkan anak-anaknya di dalam negeri. Saya justru heran, apa saja bacaan mereka hari-hari lalu Fenomena brengsek ini, sudah berlangsung nyaris 15 tahun terakhir. Terdapat puluhan alternatif pendidikan tinggi yang lebih beradab, futuristik, dan berkemanusiaan yang ada di luar negeri. Yang jauh lebih murah, jauh lebih bermutu, yang lebih memandirikan anak...

Kita harus kaya dulu untuk itu? Semudah itu juga? Tentu saja tidak!

Masalah terutama bukan pada anak-anak kita. Tapi terutama pada model parenting yang kita lakukan sejak dini. Bagaimana kita jadi teladan yang baik, bagaimana kita sedikit berani bersikap tega, agar anak-anak lebih berkarakter dan memiliki tanggung jawab. Bukan malah tiap hari flexing hasil ini itu, yang sebenarnya hanya situasional, melemahkan dan manipulatif. Sosial media bukan tempat report bagimana kita membesarkan anak-anak. Ia adalah media untuk melindungi masa depan anak-anak dari hasrat hidup orang tua yang keblinger, berlebihan dan tak terkendali. 

Anak-anak kita bukanlah kayu tebangan yang pasrah saja kita angkut kemana pun sesuai selera kita. Ia seharusnya adalah benih yang tumbuh menjadi pohon dengan batang yang kuat akarnya menghujam tanah...

***