Kebenaran Sains

Mempertentangkan agama dan sains tanpa memahami peta pikirnya adalah sebuah kekonyolan.

Kamis, 10 Juni 2021 | 22:13 WIB
0
36
Kebenaran Sains
Ilustrasi Mencari Kebenaran

Beberapa hari lalu, saya bertemu dan berdiskusi bersama seorang teman lama saya yang saat ini telah menjadi dosen di salah satu PT Swasta.

Dalam pertemuan dan diskusi singkat itu, ia beranggapan bahwa kebenaran dalam ilmu pengetahuan (Sains) adalah kebenaran mutlak. Bagi dia, kebenaran sains-lah yang bisa dipercaya, sedangkan kebenaran dalam agama tak bisa di andalkan.

Setelah pertemuan itu, kami berpisah. Dalam perjalanan pulang, saya bertanya dalam hati; bagaimana ia mengajari mahasiswanya dengan pemahaman seperti itu. 

Dalam kehidupan sehari-hari, yang kita temukan bukan hanya orang yang mabuk agama, tapi juga mabuk sains, terutama dikalangan "akademisi setengah matang". Mereka lupa, bahwa kebenaran dalam sains pun bersifat sementara, atau tidak mutlak. Kenapa bersifat sementara dan tidak mutlak? Karna dengan begitu ilmu pengetahuan (sains) bisa di uji, bisa di evaluasi, bisa mengurangi subyektivitas, dan bisa berkembang.

Kalau kebenaran dalam sains dianggap kebenaran mutlak, maka tidak perlu ada lagi pelitian dan penemuan terbaru.

Jika begitu, maka sesungguhnya kebenaran dalam sains tidak bisa berkembang, tidak bisa berevolusi, dan atau bahasa sederhananya, sains telah mati.

Jadi, tidak perlu membenturkan kebenaran sains dan agama. Sebab kebenaran sains dan agama memiliki wilayah dan tumpuan yang berbeda.

Perbedaannya itu ada pada dua hal; agama bertumpu pada keyakinan individu atau komunitas, sedangkan sains bertumpu pada fakta universal yang telah teruji.

Jadi, kebenaran dalam agama itu bersifat terbatas. Ia terbatas karna ada pada ranah keyakinan individu dan komunitas. Itu makanya kebenaran dalam agama kristen hanya diyakini oleh individu atau komunitas orang kristen saja. Begitu pun sebaliknya dengan agama atau kepercayaan yang lain. Berbeda dengan kebenaran dalam sains, dalam sains, kebenarannya bersifat universal. Ia bersifat universal karna ia melampaui sekat-sekat agama, suku, dan lain-lain.

Contoh, hukum gravitasi: Semua benda yang dilemparkan keatas pasti jatuh ke bawah. Hukum itu diyakini oleh semua orang tanpa pandang agama, suku, negara, dan lain-lain.

Jadi, mempertentangkan agama dan sains tanpa memahami peta pikirnya adalah sebuah kekonyolan. Salam

***