Catatan Paskah dari Calon Psikolog Muslimah

Jangan biarkan kematian dan kebangkitan-Nya sia-sia begitu saja, karena umat sendiri telah kehilangan harapan.

Senin, 5 April 2021 | 08:56 WIB
0
27
Catatan Paskah dari Calon Psikolog Muslimah
Ilustrasi salib (Foto: unair.ac.id)

Untuk sahabat-sahabat saya para umat Kristiani yang membaca ini, selamat merayakan Paskah. Semoga kebangkitan Sang Messias dapat menjadi pengingat bagi kita semua untuk bangkit juga melewati masa-masa yang kelam.

Sekalipun pandemi telah berlangsung lama sekali dan entah selesai kapan, semoga kasih-Nya tetap bisa menjadi pengingat bagi kita untuk tidak kehilangan harapan.

Kehilangan harapan dan ketidakberdayaan, dalam psikologi diistilahkan dengan "helplessness". Helplessness adalah ketika kita merasa apapun yang kita lakukan, selama apapun kita menunggu, dan sekeras apapun kita berusaha... Keadaan tetap sama. Kita merasa tidak ada yang bisa kita (atau bahkan Tuhan) lakukan untuk mengubah keadaan. Segalanya sia-sia.

Helplessness (ketidakberdayaan) bukan kondisi alami kita. Menurut Martin Seligman, ketidakberdayaan itu 'diperoleh', tidak pernah terjadi begitu saja. Perasaan tidak berdaya diperoleh dari pengalaman yang tidak menyenangkan dalam berinteraksi dengan dunia.

Misalnya, orangtua, pasangan, bos, sahabat, atau siapapun memperlakukan kita dengan tidak semestinya. Mungkin kekerasan psikologis, atau justru mengabaikan kebutuhan-kebutuhan emosional kita. Kita sudah berusaha ngomong ke mereka, sudah berusaha mengubah perilaku diri sendiri, dll, tapi mereka tetap tidak berubah. Akhirnya kita merasa bahwa orang di seluruh dunia akan seperti mereka, jadi apa gunanya berusaha? Menyerah sebelum perang. Sedih, overthinking, dan pesimis bahkan sebelum kenyataan hadir di depan mata. Manusia memang tidak ahli dalam mengambil sampel, satu sampel langsung digeneralisasi ke semuanya.

Contoh lain, kita minta bantuan ke beberapa orang, tapi ternyata mereka tidak bisa menolong kita. Kita menyimpulkan bahwa tak seorangpun di dunia ini yang bisa menolong kita. Jadi kita berhenti berusaha minta bantuan. Berhenti membuka diri untuk potensi-potensi.

Teman-teman, sebenarnya sangat wajar kalau manusia merasa 'helpless'. Siapapun juga pernah, karena dunia yang kita tempati memang 'kondisinya' seperti ini. Banyak orang berperilaku minus, banyak kejadian yang tidak mengenakkan.

Helplessness ini berbahaya. Bayangkan kita jatuh ke tengah laut dan tidak melihat daratan sama sekali, kita mungkin enggan berenang dan akhirnya tenggelam, karena berenang pun juga sama saja kalau kita ada di tengah samudera.

Helplessness itu seperti orang kecemplung laut yang tidak mampu melihat daratan, terlepas dari daratannya beneran ada atau tidak.

Maka, seperti yang dikatakan Seligman, helplessness adalah akar dari depresi. Kemudian, ketika depresi, seseorang cenderung memiliki pandangan yang negatif pada 3 hal sekaligus :

1. Dirinya sendiri

2. Orang lain

3. Masa depan

Relasi yang khas antara helplessness dengan depresi itu serupa lingkaran setan--satu sama lainnya saling menguatkan.

Itulah alasan utama bagi sebagian orang untuk memilih beragama. Sebab, hidup ini memang terlalu berat untuk dijalani seorang diri (tanpa harapan, pegangan, atau yang kita sebut sebagai "fantasi akan daratan").

Bagi kita yang memiliki alasan lain untuk beragama/bertuhan yang 'level'nya mungkin 'lebih tinggi', tolong tidak usah menghakimi. Karena semua orang hanya sedang berusaha untuk bahagia. Biarkan orang bebas memilih jalannya, sepanjang tidak merugikan siapa-siapa. 

Kita sedang belajar. Kita masih belajar untuk menyingkirkan ketidakberdayaan, serta menemukan makna hidup kita sendiri, semenyedihkan apapun peristiwa yang terjadi.

Kita masih belajar, untuk menjadi 'juru selamat' bagi keadaan psikologis kita sendiri.

Kita bisa. Kita pasti bisa. Tidak mungkin Dia disalib demi para manusia yang tidak berdaya apa-apa. Jangan biarkan kematian dan kebangkitan-Nya sia-sia begitu saja, karena umat sendiri telah kehilangan harapan.

Bukankah begitu iman kalian? 

(Tolong dikoreksi ya kalau salah).

Selamat paskah, ya.

Semoga tulisan ini bermanfaat terasa 'adem' untuk siapapun yang membacanya.

Salam sayang,

- Asa "Harapan" Firda Inayah

#AfiPsikologi

***