UAS: This Is Our Do and Don't!

Ketika umat Islam menyebut Ahok melakukan penistaan agama, saya membelanya dengan landasan konteks dan keadilan. Pun sekarang pada Ustad Abdul Somad.

Sabtu, 17 Agustus 2019 | 11:27 WIB
0
731
UAS: This Is Our Do and Don't!
Ustad Abdul Somad (Foto: Fajar.co.id)

Pada sesama firqoh/mazhab dalam Islam saja (intra agama) saya sering mengkritik pada sesiapa saja yang mempertentangkannya di media publik, misalnya, bagaimana mungkin mempertentangkan mazhab Syafi'i dan mazhab Hambali sedangkan Imam Syafi'i dan Imam Ahmad bin Hambal keduanya adalah ulama yang sama mulianya.

Perbedaan fikih pada keduanya harus kita hormati apa adanya tanpa mengagungkan yang satu dan mengecilkan yang lain. Apalagi mempertentangkan antaragama. Ibarat mempertentangkan 2 Nabiyullah yang sama-sama adalah kekasih Allah.

Dulu sekali saya pernah takjub kepada Irene Handono untuk proses kemualafannya. Berikutnya saya masih terkesima untuk pengetahuannya atas dua agama. 

Bagi yang mengenal Syaikh Ahmed Deedat Rahimahullah tentu juga akan mengagumi pengetahuan beliau atas kandungan Al Quran dan Bibel dengan sama baiknya. 

Saya sempat mengira Irene Handono, akan seperti demikian, ternyata ketersimaan saya lenyap tak berbekas manakala Irene menggunakan pengetahuannya untuk menjelek-jelekkan agama lamanya sebagai metode ceramahnya.

Baca Juga: Mungkinkah Indonesia Memberi Kewarganegaraan kepada Zakir Naik?

Jelas metodenya berbeda dengan yang digunakan Syaikh Ahmeed Deedat. Saya juga sempat mengira Zakir Naik akan menjadi penerus Syaikh Deedat, ternyata saya salah lagi.

Entah pendapat orang lain ya, tapi saya melihat metode Syaikh Ahmed Deedat adalah dengan menunjukan kekeliruan-kekeliruan pada Bibel, berdasarkan landasan-landasan ilmiah, bisa diargumentasikan dengan baik, bukan dengan memojokkan atau menjelekkan isi kandungannya apalagi pembawa Risalahnya. Tidak ada pretensi negatif untuk menegasikan agama samawi pra Islam ini pada Syaikh Ahmed Deedat.

Jangankan antaragama, aqidah intra agama Islam pun bisa berbeda-beda. Jika kita menegasikan bahwa di antara mereka tidak berbeda, atau semua agama adalah sama, itu adalah suatu kenaifan.

Maka menjadi biasa saja, jika seorang ustadz atau guru menerangkan perbedaan-perbedaan tersebut kepada para murid atau jamaahnya. Ini loh agama kita, agama mereka begini, jangan kalian ikuti, kita harus berpegang teguh pada agama kita.

Apakah menjadi tidak patut? Apakah menjadi sebuah pelecehan? Tentu tidak. Karena tugas guru memang menerangkan apa yang harus diketahui para murid, panduan "do and don't"-nya dalam agama mereka.

Menjadi tidak patut ketika pembicaraan internal antara guru dan murid di ruang private ini di-share ke ruang publik. Lalu dipertentangkan. Padahal ini "do and don't"- nya agama Islam (terhadap agama lain). 
Bukan "do and don't"-nya agama lain pada agamanya sendiri. Agama lain juga mungkin memiliki "do and don't"-nya sendirinya terhadap agama lainnya pula.

Dunia nyata dan dunia maya adalah dua ekosistem yg berbeda. Itu hal penting yang jangan diabaikan dalam mindset kita.

Apapun yang terjadi di dalam gereja hanya menganut hukum benar menurut penghuninya. Ketika diupload ke dunia maya bisa menjadi benar dan salah, menurut hukum penontonnya masing-masing.

Apapun yang terjadi di dalam masjid hanya menganut hukum benar menurut penghuninya. Ketika diupload bisa menjadi benar dan salah, menurut hukum penontonnya masing-masing, dan seterusnya.

So, please. Bagi agama lain, tidak patut mempertentangkan apa yang ada di ranah private orang lain. Tidak perlu mempublikasikan yang menjadi copyright milik orang lain.

Saya sebagai penganut toleransi beragama, tetap stick pada keidealisan saya. Ketika umat Islam menyebut Ahok melakukan penistaan agama, saya membelanya dengan landasan konteks dan keadilan. Pun sekarang pada Ustad Abdul Somad.

Baca Juga: Salam Kasih Umat Kristiani untuk Ustad Abdul Somad

Apakah tetap bisa bersikap adil sejak dalam pikiran, ketika agama kalian yang disinggung?

Pesan ini ditujukan wabil khusus pada mereka yang biasa berteriak tentang toleransi, kerukunan antarumat beragama, perdamaian dan persatuan bangsa. Ahok bisa salah, UAS bisa keliru, Irene bisa tidak bijak, dan semua dari kita juga bisa melakukan kekeliruan-kekeliruan serupa. 

Namun di luar benar atau salah yang sifatnya bisa sangat subyektif, apakah para pengusung toleransi dan kerukunan antarumat beragama, bisa tetap mengusung semangat itu di bumi nusantara, meskipun bumi sedang gonjang ganjing tak jelas arahnya?

Ataukah pembelaan masih dengan melihat orang per orang? Sehingga, ketika arah angin terasa menyerang diri sendiri, berlaku defensif meskipun itu akan menimbulkan gesekan horizontal yang akan melukai kerukunan antar umat beragama, akan tetap menjadi pilihan.

Menjadi adil memang tidak mudah, bukankah demikian?

***