Aku Ada, maka Aku Bosan

Kamis, 14 Maret 2019 | 07:49 WIB
0
31
Aku Ada, maka Aku Bosan
Ilustrasi bosan (Foto: Rumahfilsafat.com)

Descartes, pemikir Prancis, terkenal dengan pandangannya: Aku berpikir, maka aku ada. Sudah banyak penjelasan tentang pandangan itu. Banyak pula variasi diberikan terhadapnya. Saya hanya ingin menambah satu, yakni aku ada, maka aku bosan.

Mengapa bosan? Ya, ini salah satu penyakit lama saya. Saya gampang sekali merasa bosan. Ketika sibuk, saya bosan dengan kesibukan. Ketika tak ada pekerjaan, saya juga bosan.

Ternyata, saya tak sendirian dalam hal ini. Beberapa teman menceritakan hal yang sama. Yang juga menarik, kebosanan adalah penyakit lintas usia, dan bahkan lintas kelas sosial.

Ada yang bosan dengan kemiskinan. Sudah sejak kecil, seorang teman hidup serba pas-pasan. Ia ingin hidup makmur, seperti orang-orang di mall mewah. Ia merasa iri setiap kali melihat mereka.

Ada pula yang bosan dengan kekayaan. Mereka beruntung, karena lahir dari keluarga kaya raya. Cukup dengan bunga deposito, mereka bisa hidup, tanpa harus bekerja. Ironisnya, mereka juga dilanda kebosanan: bosan karena sudah kaya.

Saya ingin mengajukan pandangan sederhana. Bosan terjadi, karena ego menguat, yakni identitas “saya”. Di dalam ego terkandung ingatan, trauma dan harapan yang mengotori kejernihan saat ini. Akibatnya, orang tak mampu secara segar melihat saat ini. Ia pun merasa bosan.

Filsafat Kebosanan

Di dalam filsafat, kebosanan adalah tema yang cukup menarik perhatian. Bahkan, bagi beberapa pemikir, kebosanan adalah sumber kreativitas. Ketika rutinitas menikam tajam, pikiran lalu terbang ke berbagai arah. Disitulah kerap ditemukan ide-ide baru yang sebelumnya tak terpikirkan.

Namun, secara umum, kebosanan adalah musuh kehidupan. Orang ingin menghindarinya. Bahkan, tak berlebihan jika dikatakan, bahwa kebosanan adalah kematian yang menyelinap di sela-sela kehidupan. Orang seperti mati, ketika ia merasa bosan. (Anthony, 2011)

Martin Doehlmann, pemikir Jerman, membedakan dua bentuk kebosanan. Yang pertama adalah kebosanan situasional. Ini kebosanan yang lahir dari rutinitas. Analoginya seperti cat yang semakin lama semakin mengering, dan kemudian mengelupas.

Yang kedua adalah kebosanan eksistensial. Ini adalah kecemasan yang dialami setiap orang, akibat ketidakpastian hidup. Ketidakpastian dari segalanya membuat hidup terasa hampa dan tak bermakna, apapun yang dilakukan. Kebosanan ini berakar jauh di dalam hati setiap orang.

Andrew Anthony, di dalam artikelnya, melukiskan kebosanan sebagai perasaan tercekik. Orang seperti terjebak dalam penjara yang mencekiknya. Perasaan depresif dan hampa datang menerjang. Ini kiranya juga sejalan dengan pemaparan dari Lars Svendsen, pemikir Norwegia, dalam bukunya A Philosophy of Boredom.

Bagi Svendsen, kebosanan adalah perasaan terjebak. Orang merasa terjebak pada satu keadaan yang tak ia inginkan. Tidak hanya itu, orang bisa juga merasa terjebak, justru karena dunia yang amat luas, yang tak memberikan tempat untuknya.

Dalam keadaan biasa, waktu seolah mengepung dan menyerap kita. Ia berlalu begitu saja. Namun, dalam keadaan bosan, kita yang berusaha membunuh waktu. Kita melakukan apapun, supaya ia cepat berlalu.

Bahkan, menurut Anthony, kebosanan juga bisa berujung pada ekstremisme. Orang-orang bosan merasa, bahwa hidup ini hampa. Semua nilai tampak sia-sia belaka. Untuk mencari kesenangan sesaat, mereka bergabung dengan kelompok radikal, dan bahkan menjadi pelaku terorisme.

Pandangan Svenden ini kiranya bisa memberikan sudut pandang yang cukup bijak. Untuk menjadi manusia dewasa, orang harus menerima keadaan, bahwa hidup tidak bisa terus menerus penuh dengan sensasi. Ada saatnya, dimana hidup terasa kering dan hampa. Ada saatnya, semua terasa jenuh dan amat membosankan. Ini bukan berarti, bahwa hidup tidak bermakna, dan tak layak dijalani.

Zen dan Kebosanan

Sebagai bagian dari filsafat Asia dan Buddhisme, Zen memiliki sudut pandang yang menarik soal kebosanan. Pertama, kebosanan berakar pada ingatan. Orang melakukan kegiatan yang sama, dan terjebak pada ingatannya, sehingga ia merasa bosan. Ingatan membuat semua terlihat sama dan berulang. Tak ada lagi kesegaran sudut pandang.

Dua, kebosanan juga memiliki akar budaya. Kita hidup di jaman, dimana segala sesuatu bisa begitu mudah dan cepat terpenuhi. Teknologi memungkinkan itu semua. Akibatnya, kita jadi generasi yang manja, yang gampang bosan, ketika semua kebutuhannya sudah begitu mudah dan cepat terpenuhi.

Tiga, kebosanan juga mendorong orang untuk melarikan diri dari saat ini. Orang tidak lagi hidup dalam kesadaran akan saat ini, karena diterjang oleh ingatan masa lalu, dan kerinduan untuk mencari kesenangan sesaat, tanpa henti. Pelariannya pun beragam, mulai dari gaya hidup konsumtif, penggunaan narkoba sampai dengan bergabung dengan kelompok radikal.

Apa kiranya yang bisa ditawarkan oleh Zen tentang kebosanan? Ada banyak paham soal Zen. Salah satu yang mendasar adalah hidup dengan menyadari dan mengamati apa yang terjadi saat ini, tanpa penilaian apapun. Ketika kebosanan datang, ia hanya perlu disadari dan diamati sebagaimana adanya. Jangan menambahkan apapun.

Bosan itu seperti cuaca. Ia datang dan pergi, tanpa bisa sungguh dikendalikan. Ia bukanlah kenyataan yang utuh dan tak berubah. Dengan kesadaran dan pengamatan tanpa penilaian, bosan pun bisa berlalu, tanpa terlalu banyak meninggalkan luka.

Ini tentunya perlu dilatih. “Berada bersama bosan” adalah seni hidup yang penting di abad 21 ini. Jernih di tengah kebosanan berarti, orang tahu betul, bahwa ia sedang mengalami kebosanan. Lalu, Ia pun bisa menentukan dengan sadar, apa yang sebaiknya dilakukan.

Melampaui “Aku”

Akar dari kebosanan adalah ingatan dan kerinduan akan sensasi. Keduanya berakar pada sesuatu yang lebih dalam, yakni ego, atau “aku”. Ketiga ego menguat, maka kebosanan, dan beragam bentuk penderitaan lainnya, juga ikut menguat. Bagaimana cara keluar dari cengkraman ego?

Seluruh penelitian ilmiah dan tradisi filsafat menyatakan, bahwa ego adalah ilusi. Ia datang dan pergi, tanpa kendali. Ia buatan masyarakat, dan kemudian dianggap sebagai nyata. Mengira ego adalah kenyataan, apalagi kebenaran, adalah kesesatan berpikir yang akan menciptakan banyak derita yang sia-sia.

Jalan keluar lain yang mungkin adalah hidup sebagai pemula. Dengan melihat dunia apa adanya, tanpa prasangka dan penilaian apapun, orang akan memasuki kejernihan. Ego pun lenyap pada saat itu juga. Ini kiranya sejalan dengan pandangan Zen Master Shunryu Suzuki, bahwa inti utama Zen adalah hidup dengan pikiran seorang pemula.

Lalu bagaimana dengan ingatan, dan dorongan untuk mencari sensasi? Bukankah keduanya bagian sekaligus kebutuhan hidup manusia? Keduanya tak baik dan tak buruk. Jika dikelola dengan kesadaran, keduanya akan menjadi alat yang baik untuk kehidupan. Jika dijalani dengan kelekatan, bahkan kecanduan, keduanya akan menjadi sumber derita tiada tara.

Sampai detik ini, saya terus sadar dan mengamati betul kebosanan yang terus muncul dalam diri. Terkadang, ia datang, dan membawa temannya, yakni rasa cemas. Lalu, ia pergi, nyaris tanpa jejak.

Begitulah hidup. Yang jelas, semuanya baik-baik saja. Langit biru. Pohon hijau.

***