Natal

Bila kita meyakini Yesus sebagai Raja Damai, yang membawa shalom atau damai sejahtera, kita harus aktif mewujudkan damai sejahtera itu termasuk di tengah kehidupan bangsa kita.

Sabtu, 25 Desember 2021 | 13:26 WIB
0
75
Natal
Natal (Foto: kompas.com)

Seorang teman menanyakan pada saya, apakah saya punya artikel Natal yang damai dan tentu saja kisah yang umum, bisa dibaca tak hanya oleh mereka yang mengimani. Bila perlu saya harus menulisnya.

Lama saya merenungkan permintaannya itu. Tentu saja karena saya hanya seorang awam, bukan pengkhotbah, dan tentu saja memikirkan bagaimana menulis di luar koridor iman, yang seringkali terlalu subyektif dan sulit dipahami mereka yang tak mengimani. Sampai akhirnya saya berpikir untuk menuliskan kisah-kisah Natal yang mengesan bagi saya.

Pertama tentu saja saya tidak akan lupa menuliskan joke tentang Santa Claus. Hampir setiap tahun saya menemukan candaan tentang mengapa Santa Claus tidak pernah dirampok saat membagi-bagikan kado Natal di seluruh dunia. Padahal tak sedikit dari kado Natal itu berharga mahal, iPhone 12 misalnya. Dan santa pun seringkali harus mengirim kado di negeri penuh perampok seperti Indonesia.

Jawabannya selalu membuat saya tertawa, karena Santa pemegang sabuk hitam. Dan memang di tengah nuansa merah kostum Santa, akan terlihak sabuk hitam yang tentu menyiratkan bahwa Santa seorang jawara. Candaan ini selalu berhasil membuat saya tertawa. Setiap tahun!

Kisah lain yang terkenal tentu saja film Home Alone, si bocah nakal Kevin McCallister yang terpisah dari keluarganya saat liburan Natal. Mulanya Kevin saat menikmati kesendiriannya itu. Tak diganggu saudara-saudaranya. Merdeka untuk melakukan apapun yang diinginkannya. Namun ternyata di hari Natal, ia merindukan semua keluarganya, bahkan Buzz, kakaknya yang selalu mengganggu dan mengintimidasinya. Kevin pun menyesal pada semua kenakalannya selama ini.

Seperti biasa, kisah Hollywood jarang yang menggurui. Kevin tidak diazab atas kenakalannya pada keluarga selama ini. Keluarganya pun sangat merindukan dan kehilangan dirinya. Berusaha setengah mati untuk mencari Kevin, hingga akhirnya ia bertemu ibunya dalam suasana yang mengharukan.

Belakangan entah mengapa, kisah itu mengingatkan saya pada kisah anak domba yang hilang. Meski hanya satu, dan ada 99 domba yang selamat, gembala tetap bertaruh nyawa mencari domba yang hilang. Karena itulah kasih, tak ada yang dikecualikan dalam kasih.

Kisah lain tentang Natal yang cukup melekat di kepala saya ada dalam buku Suami Untuk Mama (Ein Mann für Mama) karya Christine Nostlinger. Kisah tentang Natal agak satir di situ. Saat itu sekolah Su Kratochwill, tokoh utama cerita, merayakan Natal sekaligus hari terakhir sekolah sebelum libur panjang. Seorang murid juara kelas diminta berpidato.

Bagian pidatonya menggugat perayaan Natal yang gegap gempita namun miskin kedamaian. “Damai Natal tak menyebabkan bom-bom napalm berhenti diledakkan di Vietnam,” demikian kutipan pidato yang saya ingat. Buku itu dirilis tahun 1972, tahun-tahun Perang Vietnam.

Kesederhanaan Natal yang mengharukan tentu saja tergambar dari kisah-kisah Laura Ingalls Wilder. Sebagai keluarga pioneer saat Amerika masih babad alas, kisah Natal keluarga Laura selalu bersahaja. Bagaimana mereka saling membuat sendiri hadiah untuk saudara-saudaranya, dengan segala benda yang ada di sekitarnya.

Salah satu kisah paling mengesankan saya adalah saat Laura pertama kalinya melihat pohon Natal. Keluarga Laura baru saja pindah di dekat suatu kota, sehingga keluarga mereka dapat kembali pergi ke gereja.

Gereja Laura membuat pohon Natal saat itu, dan Laura langsung takjub melihatnya. Jangan dikira pohon Natal masa itu mewah dan indah seperti yang kita lihat hari ini. Pohon Natal di gereja Laura hanyalah ranting yang dihias beberapa pita, dan digantungi hadiah-hadiah. Di beberapa tempat dipasangi lilin, karena tentu saja lampu hias belum ada saat itu. Lilin itu membuat lampu hanya dirayakan saat kebaktian dan harus diamati dengan seksama agar tidak timbul kebakaran.

Dalam persepsi kita yang hidup di zaman modern, pohon Natal Laura pasti terasa merepotkan dan jauh dari indah. Tetapi pandangan takjub, antusias dan kegembiraan Laura melihat pohon Natal sederhana itu mungkin jauh melebihi ketakjuban kita melihat pohon Natal indah masa kini. Antusiasme dan damai Natal yang kita rasakan, mungkin telah mengalami korosi dibanding apa yang dirasakan Laura.

Kisah pohon Natal Laura itu selalu mengingatkan saya bahwa kebahagiaan Natal bukan melulu pada atribut dan kemewahannya, melainkan pada hope, peace, love and joy sebagaimana lilin-lilin yang dinyalakan pada minggu-minggu Adven. Secara kebetulan pula kemarin saat ke toko buku, saya menemukan buku kumpulan khotbah Pendeta Jan S. Aritonang berjudul Christus Victor Atau Christus Crucifix. Pendeta Jan S. Aritonang saya kenal dari artikel-artikel tentang Sejarah Gereja.

Dalam salah satu khotbah tentang Natal di buku itu, diawali dengan pertanyaan: Bila kita merayakan Natal, gambaran Yesus macam apakah yang ada dalam diri kita? Sebagian akan mengingat Yesus dalam wujud bayi mungil dan imut seperti dalam banyak nyanyian. Ada lagi yang mengingat Yesus sebagai Raja Damai, yang tidak tampil mengendarai kuda atau kereta, melainkan naik keledai. Keledai sendiri adalah simbol perdamaian. Namun tak sedikit menggambarkan Yesus sebagai Raja Kemuliaan, dan menyambut kedatangan-Nya dengan penuh kemeriahan dan kemegahan.

Bagi kita, Tuhan yang gagah, menunggang kereta perang, memasuki alun-alun dengan sorak sorai kemenangan tentu membanggakan. Bagi banyak umat beragama, gambaran tersebut memang jauh lebih memikat, lebih mendorong keberanian kita untuk berjuang atau bahkan berperang atas nama agama ketimbang gambaran bayi lemah, terbungkus lampin sederhana dan berada di dalam palungan. Gambaran tentang Betlehem memang sering kurang heroik. Tak heran banyak yang lebih suka merayakan Natal dalam suasana meriah.

Bahkan suku-suku Jerman di Eropa masa lalu, menetapkan 25 Desember sebagai hari Natal karena sebelumnya pada tanggal itu mereka merayakan Deus Invictu Solis, Dewa Matahari sekaligus Dewa Perang. Karena itulah mereka lebih menyukai gambaran Yesus sebagai pemenang perang (Christus Victor) ketimbang Christus Crucifix, Yesus yang tersalib. Gambaran ini terasa cocok dengan Mazmur 24. Siapakah Raja Kemuliaan? TUHAN jaya dan perkasa, TUHAN perkasa dalam peperangan.

Kemudian Pendeta Jan S. Aritonang mengajak kita merenung. Kita patut mempertimbangkan apakah gambaran Yesus sebagai pahlawan perang yang dapat membakar semangat orang Kristen untuk mengangkat senjata cocok untuk kita?

Mazmur itu digubah di masa Raja Daud, saat kehidupan masyarakat Israel masih diwarnai aneka peperangan, termasuk kisah perlawanan dengan Goliath. Namun sekarang, tulis pendeta, kita justru diajak untuk lebih menekankan dan memperdengarkan pesan dan seruan perdamaian. Kita diajak melihat cakupan dan dimensi lain Yesus sebagai Raja Kemuliaan. Cakupan dan pengertian yang luas dan dalam, tidak hanya menyangkut hati dan perasaan.

PGI dan KWI pernah menetapkan tema dan pesan Natal yang berbunyi “Hiduplah selalu dalam damai satu dengan yang lain”. Bukan sekadar tidak berkelahi dan tidak saling mengganggu.

Bila kita meyakini Yesus sebagai Raja Damai, yang membawa shalom atau damai sejahtera, kita harus aktif mewujudkan damai sejahtera itu termasuk di tengah kehidupan bangsa kita. Memperlakukan setiap orang dengan adil, menerima hak dan kesempatan yang merata, tak ada yang diperkosa atau dilanggar hak asasinya. Sebagaimana Mazmur 24: "yang tidak menyerahkan dirinya kepada penipuan…."

Selamat Hari Natal

***