Elite Mental Kardus

Kamis, 7 Maret 2019 | 14:09 WIB
0
124
Elite Mental Kardus
Ilustrasi kardus (Foto: Bandar Kardus)

Duluuu, Partai Demokrat paling gencar mengkampanye “Katakan tidak pada korupsi!”. Tapi kita tahu, justeru banyak elite partai milik SBY itu, dipenjara karena kasus korupsi. Bukan hanya elite pengurusnya, melainkan menteri-menteri ketika partai itu berkuasa, dalam pemerintahan dua periode SBY.

Cilakaknya, partai ini juga konon paling gencar memerangi narkoba. Komitmennya untuk ikut dalam pemberantasan barang haram itu, kita bisa baca ulang dalam rekam jejak digitalnya. Tapi, lagi-lagi, dan justeru wasekjen mereka, ujung tombak partai dan die hard SBY itu, ketangkep Polisi di kamar sebuah hotel. Ketahuan ngisep sabu. Lengkap sudah?

Baiklah. Kita toleran. Prihatin. Itu musibah. Dan silakan bermain-main dengan kata, karena hanya itu yang bisa mengalahkan hasil pemotretan paling canggih teknologi kamera digital masa kini. Apakah itu kegagalan pemerintahan Jokowi. Apakah hukum tajam ke bawah tumpul ke atas. Apakah hanya sebagai korban, meski menjadi elite dengan kemudahan mendapat duit adalah pilihan dan perjuangan, dengan segala implikasinya termasuk kemudahan direhabilitasi?

Baiklah kita abaikan itu semua, karena masih banyak rakyat jelata mudah dikibuli elite dengan kata-kata. Entah itu elite politik, elite ekonomi, dan apalagi elite agama yang dalam banyak hal acap diperalat oleh kedua elite yang disebut sebelumnya. Yang terjadi hanya eksploitasi kebodohan, kemiskinan, kekalahan. Maka ajakan perubahan, apalagi revolusi mental, banyak musuhnya.

“Jangan pernah merobohkan pagar, tanpa mengetahui mengapa didirikan. Jangan pernah mengabaikan tuntunan kebaikan, tanpa mengetahui keburukan yang kemudian anda dapat,” ujar Buya Hamka (1908 – 1981).

Tak mudah menjadi manusia genah diri, integrated, apalagi berkarakter untuk menyebutnya persisten pada komitmen penegakan nilai-nilai kemuliaan. Cilakaknya, Herbert Feith dalam ‘The Indonesian Election of 1955’ menulis, demokrasi Indonesia elitis. Bisa jadi sampai sekarang, dengan kaum oligarkisnya. 

Sedangkan para jelata yang pinter dan bodoh, kini sama-sama bicara dengan gadget masing-masing. Komunikasi dan informasi kita jadi kalang-kabut, mencemplungkan kita dalam era post-truth, dan demen posting crat-crut. Semuanya bisa kebolak-balik. Yang (dianggap) benar dan salah, kini sama-sama mempunyai pembela. 

We endeavour to conceal our vices under the disguise of the opposite virtues, ujar Henry Fielding menggambarkan kepongahan elite yang lupa daratan. Kami berusaha untuk menyembunyikan keburukan kami di bawah penyamaran kebajikan yang berlawanan.

Di situ kita tak tahu lagi, ngapain mendirikan pagar, dan tahu-tahu terkubur dalam reruntuhan pagar itu?

Terus pura-pura bego, “Saya korban, Mak!”

Alamak, mental kardus.

***