Arrivederci Rossi

Sebagai guru yang baik, tentu Valentino Rossi ingin tahu sampai sejauh mana usaha para kadernya menggenggam kejayaan.

Selasa, 16 November 2021 | 16:13 WIB
0
93
Arrivederci Rossi
Tales Modif Blog

Bertahan dalam balapan, kata Valentino Rossi, bukan hanya tentang fokus dan kedisiplinan, tapi juga soal seni dan kejiwaan. Seorang pembalap, tidak bisa terus-menerus mengurung pikiran tentang balapan. Menurut Rossi, seorang pembalap mesti punya ruang untuk melegakan pikiran dan mengasah perasaan. Dengan cara itulah Rossi bisa bertahan lama di arena balap sampai 25 tahun lamanya.

Membalap, butuh sebuah kenyamanan timbal balik antara seorang pembalap dan motornya sendiri. Tengok saja bagaimana Valentino Rossi memperlakukan motornya seperti seorang wanita. The Doctor -panggilannya, mengatakan bahwa motor bukan hanya semacam kuda pacuan. Motor butuh dimengerti dan dipahami. Bagi Rossi, menjalin hubungan baik dengan motor akan memudahkan balapannya.

Hubungan antara Rossi dan motornya membuahkan banyak kejayaan sekaligus keunikan. Dengan motornya, ia selalu punya cerita menarik atau bahkan terobosan yang mengejutkan. Salah satu cerita itu terjadi pada medio 2005 di gelaran balap edisi Jerez. Situasinya waktu itu adalah balapan tinggal menyisakan beberapa lap dan Rossi masih ketinggalan dari Sete Gibernau. Mendekati suatu tikungan, ia menempel Gibernau dan tiba-tiba kaki bagian dalamnya bergelayut ketika hendak melalukan cornering. Rossi pun berhasil melewati Gibernau. 

Lantaran terkejut, rival-rivalnya seperti Stoner dan Hayden mengaku sempat ragu menyalip. Publik juga terheran-heran melihatnya, tapi setelah balapan usai, ada pula yang memujinya. Yang jelas, selama beberapa pekan setelah kejadian itu, publik balap motor gempar, dan gaya itu lantas melekat sebagai salah satu ciri khas seorang Valentino Rossi yang masih terus diingat sampai sekarang. Dan, hingga kini nyaris semua pebalap hebat mengikuti gaya Rossi. Bahkan gaya itu juga ditiru oleh para rider motorcross.

Gaya menurunkan kaki ketika menuju tikungan dari trek lurus itu, menurut Rossi lahir dari ketidaksadaran. Ia tidak bermaksud merencanakan hal-hal yang merugikan rider lain. Kata Rossi, ”Itu tak sengaja. Ini reaksi alami, karena dengan cara itu aku bisa mengerem lebih dalam dan rasanya aku bisa menambah sedikit hentakan pada setang motor sehingga bisa menstablikan motor ketika masuk tikungan.”

Menurut beberapa pengamat, dengan cara itu para rider bisa masuk tikungan dengan cara yang aman. Selain membuat kaki lebih relaks, gerak tubuh seperti itu memberi kesempatan bagi otak untuk memikirkan siasat di tikungan selanjutnya. Dengan itu pula, ketika akan memasuki tikungan, beban tubuh cenderung bertumpu di depan, dan posisi badan jadi lebih santai dalam melakukan braking.

Orang-orang bilang, kekuatan membalap Rossi terletak pada kehati-hatiannya dalam mengerem. Rossi handal melakukan late braking ketika memasuki tikungan dan peka melihat kesempatan di tengah kesempitan. Maka, tikungan sirkuit menjadi santapan empuknya. Sebab, di situ semua pebalap akan mempertaruhkan kecepatannya, mereka akan menakar kecepatan dan mencari celah di waktu yang tepat.

Kendati tampilannya terkesan urakan dengan rambut kusut-mawut dan tindik di telinga, di sirkuit ia cenderung terlihat stabil, penuh teknik, dan peka terhadap situasi sekitar. Gaya balap Rossi bukan hanya soal kecepatan, namun mencakup soal keseimbangan. Untuk menundukkan para pesaingnya, ia lebih suka adu kematangan teknik daripada adu kecepatan belaka. Mungkin jika diumpamakan dalam sepak bola, gaya balap Rossi seperti catenaccio khas Italia, di mana menang adalah yang utama, hal-hal lain seperti gaya dan keindahan jadi urusan belakangan.

Karakternya dalam mengutamakan teknik dan berhati-hati itu tentu berasal dari sebuah pengalaman. Sejak muda, ia mengaku sudah berhati-hati. Kadangkala saja ia ugal-ugalan, itu pun karena terpaksa. Tapi ia memprioritaskan kehati-hatian setelah belajar dari ayahnya, Graziano Rossi, yang juga seorang pebalap motor Grand Prix Italia di tahun 1970-an.

Pada masa itu, meski prestasinya tak sementereng anaknya seperti sekarang, ayahnya seorang pebalap yang cukup terkenal di Italia. Tapi ayahnya dahulu terkenal dengan gaya balapnya yang ugal-ugalan. Di sirkuit, ayahnya beberapa kali mengalami kecelakaan, dan Rossi menyaksikan sendiri kejadian itu. Ketika mulai merintis karir balapnya, ia selalu terngiang-ngiang dengan pengalaman ayahnya. Bahkan ayahnya sendiri sempat mengarahkan Rossi ke balap mobil, agar apa yang ia alami tak berulang pada anaknya di masa depan.

Rossi sendiri sempat mengatakan, ”Pengalaman membalap Graziano, tak mendarah dalam diriku. Aku sangat khawatir dengan gaya balap seperti itu.”

Tetapi, di suatu momen, insting liar Rossi bisa muncul. Kalau sedang ugal-ugalan, bisa dipastikan itu terjadi karena ada pemicu. Ia pantang mundur jika ada yang mengusiknya. Marquez, yang menjadi kompetitor sengitnya pernah merasakan itu. Motornya terhempas dari sirkuit, setelah kaki Rossi menerjang motornya lantaran ia berulang kali menempel Rossi secara serampangan. Kejadian itu berlangsung pada balapan di Sepang, Malaysia tahun 2015. Di edisi sesudah itu, Rossi terkena penalti, tapi ia tidak ada sesal. Mungkin bagi Rossi, itu sepadan atas apa yang Marquez lakukan padanya.

Di luar itu, pertarungan legendaris yang pernah Rossi lakoni, terjadi ketika ia acap beradu urat syaraf dengan Max Biaggi. Di balapan edisi Suzuka musim 2000, Rossi tak segan mengacungkan jari tengahnya pada Biaggi yang lebih senior. Rossi berang karena Biaggi berusaha mendorong Rossi ke area gravel trek dengan kecepatan tinggi. Karena hal itu, mereka lama tak bertegur sapa, dan terus-terusan bersitegang, baik di dalam atau di luar sirkuit.

Kontroversi lain, pernah dialami sendiri oleh Jorge Lorenzo. Rekan satu tim sekaligus kompetitor dalam satu bendera, Yamaha. Pembalap Spanyol peraih tiga gelar juara itu merasakan sendiri bagaimana tekanan psikologis dari Rossi terasa begitu kuat. Sampai-sampai ayah Lorenzo turun tangan membela anaknya. Menurut ayah Lorenzo, Rossi menyerang mental anaknya, karena ia tak mau Lorenzo dianakemaskan oleh Yamaha, padahal menurutnya semua bisa saja terjadi karena di atas lintasan Lorenzo memang lebih unggul.

Segenap cara Rossi mengatasi adu urat syaraf itu tentu sudah berurat dalam dirinya, sebab ia adalah seorang Italiano. Seorang Italiano yang baik, paham cara menundukkan lawannya dengan upaya apapun. Mereka yang terlahir sebagai Italiano tentu belajar “furbizia”; sebuah seni tipu muslihat untuk mengelabui lawan melalui pendekatan teknis, taktis, dan psikologis. Furbizia membolehkan cara-cara licik untuk mengalahkan lawan, asalkan kemenangan bisa ia peroleh.

Kini, dengan furbizia atau segala kegemilangan tekniknya, Rossi mau tak mau harus mengalah pada keadaan. Masanya sudah habis. Fisiknya, di usia yang menginjak kepala empat, sudah tak bisa mengimbangi para rider lain yang semakin cepat dan punya gaya balap yang lebih radikal. Di masa kini, ketika para rider terbiasa menikung dengan tajam, dan membutuhkan kekokohan gerak tubuh lantaran motor semakin susah dikendalikan, banyak orang bilang, Rossi sudah habis.

Benar, Rossi sudah habis. Tapi semua orang juga tahu, ia hendak menutup ceritanya dengan akhir yang baik. Lagipula ia bisa tenang pensiun karena sudah mewariskan banyak sekali cerita dan peninggalan, salah satunya adalah sekolah balapnya, VR 46. Dari sekolah balap itu, Rossi telah membesut sembilan anak didik yang berkiprah di semua kelas Moto GP. Sebagai guru yang baik, tentu ia ingin tahu sampai sejauh mana usaha para kadernya menggenggam kejayaan. 

Rossi, sudah menorehkan sembilan gelar juara dunia dari pelbagai kelas (125 cc, 250 cc dan 500 cc/ Moto GP), berganti tiga motor pabrikan (Honda, Yamaha, Ducati) dan menutup karir balapnya di Valencia, dua hari lalu di tanggal cantik, (14-11-21). Sebuah akhir yang dramatis, ia menggoreskan tinta sejarah dan menempatkan dirinya sebagai legenda hidup dunia balap motor. Secara turun-temurun, ia akan lama dikenang, sebagai pebalap kharismatik, tapi juga jenius dan menyenangkan untuk disaksikan. Arrivederci Rossi

***