Catatan Biasa Orang Biasa [4] Tiga Nyawa Cucu Embah Gandrung

Sebagai bentuk penghormatan, pemda setempat menjadikan namanya sebagai nama jalan yang memanjang dari Cimerak hingga Gunungpeundeuy, sekitar 2 km.

Kamis, 17 September 2020 | 07:36 WIB
0
14
Catatan Biasa Orang Biasa [4] Tiga Nyawa Cucu Embah Gandrung
Tentara KNIL (Foto: Boombastis.com)

Bapa saya, Elon Dachlan, adalah pangais bungsu dari sembilan bersaudara. Ayahnya bernama Muhammad Nawawi (Aki Iwi) dan ibunya Siti Saja’ah (Ne Enjoh). Aki Iwi meninggal dunia enam tahun sebelum saya lahir. Ne Enjoh wafat sebelum saya masuk usia sekolah. Ibu saya, Mamah Aan –Anwariyah- juga berasal dari keluarga besar, anak kedua dari delapan bersaudara.

Delapan saudara Bapa adalah Muhamad Soleh (Odeh), Enok Maskanah, Siti Kuraesin (Ecin), Endang Iskandar, Tajul Arifin (Nunu), Kastolani (Engkos), Engking Zaenal Mutaqin, dan Atang Lukman.

Nawawi dan Saja'ah, adalah orangtua sederhana yang hidup di sebuah kampung kecil. Tetapi di balik kesederhanaan itu, tersimpan keistimewaan.

Mereka telah mempersembahkan tiga anak lelakinya untuk negeri ini yakni Odeh, Nunu dan Engkos. Ketiganya dieksekusi sisa-sisa Koninklijke Nederlands Indie Leger (KNIL) atau Tentara Kerajaan Hindia Belanda di dua tempat berbeda. Tidak diketahui dengan jelas persoalan apa yang mengawalinya.

Nunu adalah lulusan angkatan pertama KMA (Koninklijk Militaire Academie) sebuah akademi militer yang didirikan Belanda di Bandung. Setelah kembali ke Tasikmalaya, dia sering melalukan latihan ketentaraan bersama kawan-kawannya. Termasuk di kampung halamannya. Sedangkan Engkos, meskipun bukan tentara, ikut juga bergabung dengan Nunu secara sukarela.

Suatu ketika di tahun 1949, keduanya bersepeda untuk melakukan patroli dengan menyamar. Namun rupanya mata-mata KNIL mengintai. Mereka diciduk dan di bawa ke jembatan Sungai Cikalang yang menghubungkan Kampung Condong dan Purbaratu, sebelah timur Lanud Wiriadinata Cibeureum. Kakak beradik itu ditembak dan meninggal seketika.

Sebelum eksekusi, sore harinya ada warga yang datang dan memberitahu Aki Iwi dan Ne Enjoh tentang penangkapan tersebut. Keduanya tampak tenang. Kepada anak bungsunya, Atang Lukman, yang saat itu berusia sekitar 8 tahun, usai salat magrib Ne Enjoh memberitahu apa yang terjadi.

“Atang, tadi waktu keur salat aya dua kali sora bedil. Jigana dua lanceuk maneh geus ditembak. (Tadi waktu sedang melaksanakan salat magrib, terdengar dua kali suara senapan. Mungkin kedua kakakmu ditembak),” begitu Ne Enjoh kepada Atang Lukman. Atang sendiri tidak mendengar suara itu. Lokasi jembatan Cikalang sekitar 4 km di selatan kampungnya.

Benar saja, pada malam hari sekelompok warga mengantarkan kedua jenazah itu. Nawawi dan Saja’ah hanya menangis sebentar tapi tetap tegar. Mereka menenangkan saudara-saudara kandung almarhum. Keesokan harinya jenazah Nunu dan Engkos dikebumikan berdampingan di makam keluarga, di Gunung Sumalintang.

Akan halnya Odeh, mewarisi kepandaian ilmu agama dari ayah dan kakeknya. Karena itu dia giat berdakwah di berbagai tempat. Lagi-lagi kaki tangan KNIL mengintai. Beredar fitnah, Ajengan Odeh bersama Ajengan Bustomi sering menghasut massa untuk melawan sisa-sisa aparat Belanda.

Maka pada 1951, usai berceramah di sebuah pesantren di Awipari (sebelum Manonjaya, Tasik timur), Odeh ditangkap tentara KNIL. Ajengan yang sudah punya dua anak itu ditembak di jalanan. Orang-orang pesantren memulasara jenazahnya dan memakamannya di Awipari.

Di tepi Citanduy

Jika ditarik garis dari jalur Ne Enjoh ke atas, silsilah keluaraga akan bersambung ke KH. Tubagus Abdullah. Nama ini disebut-sebut sebagai salah satu pengikut Syekh Yusuf Makassar, menantu Sultan Ageng Tirtayasa Banten yang gigih menentang Belanda. Tirtayasa dikalahkan Belanda pda 1682.

Menurut catatan sejarah, setelah kekalahan itu Syekh Yusuf bergerilya ke arah timur dan menyusuri Sungai Citanduy. Kemudian sampai di Pamijahan, Karangnunggal, Sukapura (Kab. Tasikmalaya), dan berdiam di pesantrenya Syekh Abdul Muhyi. Beberapa waktu kemudian, Syekh Yusuf ditangkap Belanda dan dibuang ke Afrika Selatan pada tahun 1684.

Sebagian pengikutnya pulang kembali ke Banten, sebagian lagi bermukim di wilayah Priangan dan beranak-pinak di kawasan tersebut. Salah satunya adalah KH Tubagus Abdullah. Menurut tradisi lisan, Tubagus Abdullah pernah mendirikan pesantren di kawasan Selakaso, lalu pindah ke lokasi yang sekarang berdiri gedung BRI sebelah barat Masjid Agung Tasikmalaya.

Karena tidak memungkinkan pesantren berkembang di tempat itu, Tubagus Abdullah berniat mendirikan pesantren agak ke pedalaman. Maka bersama para santrinya mencari tempat yang cocok, dan menemukannya tidak jauh dengan aliran Sungai Citanduy dan Ciloseh. Jaraknya sekitar 4 km dari ke sebelah timur dari lokasi semula.

Mereka bekerja keras mempersiapkan pendirian pesantren. Saluran baru sudah digali agar dua aliran sungai itu bertemu dan pesantren berada di tengah-tengahnya. Namun cita-cita Tubagus Abdullah belum sempat terwujud. Beliau meninggal dunia. Jasadnya dikuburkan tidak jauh dari bakal pesantren tersebut, di Kampung Daleum, Desa Sukaasih, Kec, Purbaratu Kota Tasikmalaya.

Anaknya, Tubagus Abdun, juga dikebumikan berdampingan di kompleks pemakaman itu. Terdapat pula makam sejumlah kerabat dan santrinya. Banyak orang yang berziarah ke situs tersebut. Sisa-sisa penggalian saluran air itu hingga kini masih dapat dilihat.

Tubagus Abdullah kemudian dikenal dengan sebutan Embah Gandrung. Nama lain dari gandrung adalah sorgum, tanaman pangan yang bisa dikonsumsi untuk menggantikan beras. Mungkinkah di tempat itu Tubagus Abdullah pernah membudidayakan sorgum? Wallahu 'alam.

Sebagai bentuk penghormatan, pemda setempat menjadikan namanya sebagai nama jalan yang memanjang dari Cimerak hingga Gunungpeundeuy (sekitar 2 km). Jalan masuk dan situsnya pun ditata. Menurut silsilah, Bapa merupakan generasi kelima dari Tubagus Abdullah.

***

Tulisan sebelumnya: Catatan Biasa Orang Biasa [3] Jarum Suntik dan Paha Sobek