(Masih) Mau Jadi Wartawan?

Minggu, 6 Januari 2019 | 13:49 WIB
0
297
(Masih) Mau Jadi Wartawan?
Koran Republika (Foto: Republika)

Begitu banyak film serta komik yang menggambarkan sosok ‘kepahlawanan’ wartawan. Sebut saja, film Superman dengan tokohnya Clark Kent, yang sehari-harinya sebagai jurnalis.

Clark Kent yang berasal dari Planet Crypton, tidak dilahirkan untuk menjadi penakut, apalagi pengecut. 
Sebagai wartawan, ia dilengkapi kemampuan terbang, mata yang tembus pandang dan bisa mengeluarkan sinar laser.

Tenaganya dapat mengangkat planet bumi, dan kebal senjata apapun. Clark Kent sang wartawan, mampu melesat melebihi kecepatan suara dan cahaya. Halahhhh …. dasar film.

Ada juga Herge, komikus asal Belgia yang menciptakan tokoh komik rekaan Tintin. Bagi pencinta komik, tentulah paham kisah Tintin, wartawan tanpa surat kabar. Karena tak jelas, dia bekerja untuk surat kabar apa?

Yang jelas, Tintin adalah wartawan muda (tapi belum ikut uji kompetensi dari Dewan Pers). Ia tampil dengan rambut jambul dan selalu terlibat intrik, seperti detektif. Ia wartawan investigasi. Modalnya: nyali dan tekad yang kuat!

Ya, begitu banyak film maupun cerita tentang kewartawanan yang ditonton atau dibaca anak-anak sekolah. Tetapi tanyalah pada mereka: “Apa cita-cita kalian?” Dijamin, kemungkinan besar tak ada yang mau menjadi wartawan!

Saya pun baru terpikir menjadi wartawan saat kuliah. Mengasyikkan saat menjadi aktivis pers mahasiswa. Objek liputan di kampus, tentu saja kekuasaan. Mengritik kebijakan rektorat dan dekanat.

Akibatnya lembaga pers mahasiswa pun dikooptasi penguasa kampus. Dipaksa gabung ke senat. Ini kebijakan ngaco! Pers mahasiswa itu harus pisah dari senat mahasiswa. Sebab dia juga bisa mengontrol senat. Apalagi senat yang tunduk pada penguasa kampus. Mampus lah....

Risiko jadi aktivis pers mahasiswa juga terancam diskros. Dekan jarang ke kampus, dikririk! Dipanggil pudek 3 bagian kemahasiswaan. "Mau lulus nggak? Jangan permalukan dekan!" pinta sang pembantu dekan.

Nah...saat akan yudisium (sidang skripsi) tiba. Terpampang jadwal, ketua sidang: dekan. Mati aku! Bisa balas dendam dia.

Singkat cerita terjadi dinamika sebelum sidang. Ini urusan akademis, bukan sentimen. Akhirnya... tanpa hambatan. Tengkyu dekan!

"Semoga kamu bisa jadi wartawan," kata sang dekan, saat menyalami usai sidang skripsi 'Diplomasi politik dan militer dalam pembebasan Irian Barat 1946-1969'.

Setelah malang melintang jadi wartawan di sejumlah media, akhirnya berlabuh juga di Republika. Dekat dengan kampus almamater, Unas.

Hari ini, Republika genap 26 tahun. Semoga bisa menghasilkan wartawan-wartawan andal. Wartawan yang mengedepankan kepentingan publik (seperti nama Republik atau Republika yang memiliki arti: untuk kepentingan publik).

Memang tak mungkin wartawan seperti Superman. Tapi keberaniannya, jangan kalah dengan Tintin-lah. Tetap berani menghadapi penguasa sekalipun.

Dirgahayu Republika!

***