Paman Adian yang Sering Mengintimidasi Perdebatan

Selasa, 23 Oktober 2018 | 17:53 WIB
1
1271
Paman Adian yang Sering Mengintimidasi Perdebatan

Dua malam yang lalu di Palembang, saya kali pertama tampil di televisi setelah 11 tahun tidak mengudara. Dulu di tahun 2006/2007 sempat sesekali dua tampil di layar kaca. Menyampaikan pandangan politik sebagai peneliti di Pusat Kajian Politik UI dan Lembaga Survei Indonesia.

Setelah 11 tahun berselang, waktu berputar. Kini tampil kembali tapi dengan predikat yang berbeda: sebagai orang politik praktis. Di Gerindra disebut pejuang politik. Sebagai Jurkamnas Prabowo Sandi. Tidak tanggung-tanggung yang mengundang Najwa Shihab sang tuan rumah. Dalam panggungnya yang fenomenal itu: Mata Najwa.

Istimewanya lagi, ini adalah Matanajwa Onstages. Bukan di studio yang hanya berisi 50 s.d. 70 orang penonton. Tapi ini di stadion yang dihadiri 7000 orang.

Saya mewakili Badan Pemenangan Nasional Prabowo Sandi bersama dua orang anak muda lainnya, Faldo Maldini II dan dr Gamal Albinsaid II. Faldo adalah fisikawan alumni UI dan Imperial Colleges London.

Gamal adalah dokter wirausahawan sosial asal Malang yang mendunia itu. Saking mendunia dengan prestasinya, Vladimir Putin Presiden Rusia saja mengagumi Gamal.

Di sisi Pak Jokowi ada sahabat saya Dave Laksono, Anggota DPR RI dari Partai Golkar daerah Pemilihan Cirebon Indramayu. Kemudian Dedek "Uki" Prayudi politisi PSI. Alumnus Politik dan Sosiologi dari Univ Victoria, Selandia Baru dan Master Dari Universitas Stockholm, Swedia.

Uki maju sebagai caleg dari dapil SMS alias Jabar IX. Sumedang,Majalengka dan Subang. Terakhir Adian Napitupulu anggota DPR RI dari PDI Perjuangan. Mantan aktivis forkot dan dedengkot mahasiswa "kiri" pada zamannya.

**

Tema malam itu adalah "Anak Muda Pilih Siapa". Saya dengan senang hati menerima undangan ini. Karena terus terang, yang mengundang Najwa Shihab, temanya pun saya kuasai. Saya diminta mewakili anak anak muda Partai Gerindra.

Meskipun ketika final narasumber saya dapatkan dari Tim Mata Najwa, saya merasa ada yang janggal dengan hadirnya nama Adian Napitupulu sebagai narsum dari sisi Pak Jokowi. Karena dalam hemat saya, beliau yang terkenal vokal itu sudah tidak lagi millenial. Usia beliau sudah 47 tahun.

Jika berdebat soal anak muda, kuat dugaan saya, iramanya akan tidak nyambung. Agaknya lebih tepat dipanggil Paman.

Kenapa Paman? Karena beliau sendiri sudah berumur 47 tahun malam itu. Sementara kami yang lainnya jauh di bawah itu. Faldo 28 tahun, Gamal 29 kepala dua. Uki dan saya 34 tahun, Mas Dave 39 tahun. Sama kepala tiga.

Millenial itu orang yang lahirnya paling tua tahun 1980, masuk kuliahnya kira-kira tahun 1998. Mas Dave masih bisa masukkan kriteria karena di tapal batas. Doi lahirnya Agustus 1979.

Jadi memang Paman Adian sudah berbeda generasi. Bahkan, di sisi Prabowo-Sandi, usia segitu sudah menjadi Calon Wakil Presiden. Fyi, Om Sandi berusia 49 tahun, terpaut hanya 2 tahun dari Paman Adian.

Saya mendengar tentang sepak terjang Paman Adian di Talkshow televisi dan diskusi diskusi publik. Saya belum mengenalnya pribadi, tapi dari pemahaman sekilas, ada beberapa tentang ia yang saya kagumi dan respek, misalnya dalam pembelaannya tentang orang orang lemah dan terpinggirkan.

Tapi ada pula tentangnya yang saya merasa agak sedikit ganjil. Tentang cara dia berargumen di media masa, khususnya televisi. Dia agak sedikit ngotot dan berkarakter menyerang, destroyer.

Pada batas tertentu saya fahami dengan latar belakang aktivis Forkot dan anggota DPR. Namun dari batas yang lain, saya lihat dia cukup sering berlaku tidak respek kepada lawan bicaranya dan topik bahasannya di televisi.

Tapi tidak apa. Saya merasa, mungkin Tim Matanajwa sengaja mengundang paman yang satu ini. Untuk “maangek angek kan saluang”, memanas-manasakan seruling, kata orang di kampung saya. Atau untuk tujuan lain, biar ada yang senior dan bijaksana, yang sudah melewati "usia kenabian".

Ada tiga segmen. Segmen pertama membahas lapangan pekerjaan. Segmen kedua membahas industri kreatif dan segmen terakhir membahas pendidikan.

Faldo dan Paman Adian kebagian segmen pembuka. Ia membahas segmen Lapangan pekerjaan. Paman membuka orasinya soal Pak Jokowi yang sudah membangun sekian km jalan, jembatan, bendungan, dll. Intinya inftrastruktur yang top markotop, semua intinya untuk membuka lapangan pekerjaan.

Faldo lain lagi. Dengan gayanya yang khas penuh semangat dan tenaga. Lebih penuh persiapan daripada Paman Adian yang pidato tanpa teks di luar kepala, Faldo membawa catatan catatan kecil.

Faldo bertenaga sekali malam itu. Dia berpidato macam Obama. Dia menekankan pemilu bukanlah tentang elit saja tapi tentang kita semua. Kertas suara itu ada artinya bagi ayah, ibu, bapak dan anak-anak.

Faldo mengedepankan, pentingnya fokus ke produksi ketimbang distribusi membangun jalan. Bagaimana membangun jalan, tapi yang mau dikirim lewat jalan itu ga ada. Jadilah kita hanya impor-impor saja. Jelas saya menangkap, Faldo mau mengkritik kebijakan eksesif pemerintah Pak Jokowi dalam infrastruktur.

Saya menikmati babak pertama ini. Teng ketika orasi 90 detik selesai mereka berdua duduk. Kami semua dibolehkan oleh tuan rumah Matanajwa untuk mendebat masing-masing di antara kami. Saya Gamal dan Faldo dibolehkan mendebat Uki, Dave, dan Adian.

Pada mulanya, kerinduan saya untuk bertikai fikiran sudah membuncah di babak ini. Sebagaimana saya ceritakan tadi di atas. 11 tahun sudah tak berdebat di layar kaca. Saya berharap, ini akan seru.

Tiba-tiba saya patah arang. Paman Adian yang sudah kusut masai usia dalam debat sepanjang hidupnya itu, tidak bisa keluar dari cara dan kebiasaannya untuk membangun "narasi jahat dan baik", "angel vs demond". Narasi yang sebenarnya bagi saya tidak begitu menarik lagi untuk ditebal-tebalkan oleh politisi generasi baru.

Faldo agak sengit meningkahi Adian. Sama-sama dua demonstran meskipun mewakili dua generasi. Tapi saya merasa ini jadi debat soal "bedak". Tidak substansi dan tergiring permainan Paman Adian. Saya yang tadinya semangat, tiba-tiba jadi malas. Saya jadi banyak diam.

Dr Gamal agak sedkit semangat karena ternyata dia merasa ingin bertemu lagi dengan Adian di Matanajwa. Dia bilang kepada saya, kemaren di Rosi (acara Rosi Kompas TV) saya habis ditunjuk-tunjuk dan diberondong secara kasar oleh Paman kita yang satu itu. Nanti di Matanajwa saya akan hadapi Paman Adian katanya di Balik panggung pada saya.

Dr Gamal yang kalem itu aja sampai shocked. Dia shocked betapa di belakang pannggung orang yang menyapanya dengan sangat baik bisa jadi orang yang sangat berbeda jika sudah beraksi di dalam sorotan lampu dan kamera televisi.

Memang, dua minggu belakangan saya tidak terlalu mengikuti media. Jadi ga terlalu mencermati apa yang terjadi. Tapi yang jelas Gamal sesemangat Faldo dalam menghadapi Paman Napitupulu ini.

Saya agak hilang selera karena diskusi yang menjauh dari substansi di round pertama. Ah sudahlah kata saya dalam hati. Panggung macam ini sepertinya tidak cocok dengan saya yang senang dengan deep thinking. Pertikaian fikiran kegemaran saya, pencarian kebenaran lewat debat passion saya sejak dulu. Tapi kalau gaya kasar, nunjuk-nunjuk, terus merasa benar tanpa melihat soalan utuh, dan membela membabi buta, sepertinya saya tidak tertarik.

Namun di siai yang lain Saya juga faham. Ini Talkshow bukan FGD. Ada Talk dan ada Show. Beberapa menit sebelum naik pangggung Mba Nana membisiki kami para narsum. "Yang seimbang ya, Talk and Show nya". Bayangkan, Indonesian Queen for Talkshow Kakak Nana saja nasehat nya begitu sebelum naik panggung.

**

Paman Adian lari kemana-mana. Menendang topik diskusi terlalu jauh dari yang ditetapkan tuan rumah. Lari ke soal HAM, Ratna Sarumpaet, Alm Mertua Pak Prabowo dll. Kalau agak tersudut sedikit, dia larikan ke pembelahan klasik, kalian pembohong, hoax, sampai-sampai Ratna Sarumpaet kena panggil lagi dalam diskusi mengenai anak muda ini. Melantur kemana-mana dibawa oleh Paman Adian.

Dave Laksono dan Uki tampak kebagian remah-remah Paman Adian belaka. Saya melirik para penonton di Stadion Jaka baring tersebut. Mayoritas mahasiswa yang rata-rata lahir tahun 1996-1998. Kira-kira saat Paman Adian ini jadi demonstran, mereka baru lahir atau berumur 1-2 tahun.

Mereka tampak bingung dengan apa yang diributkan oleh Adian sampai urat lehernya tegang serasa hampir keluar. Sudah tidak relevan dan bukan keresahan generasi mereka. Sekarang alam kebebasan dan mereka lahir dari alam kebebasan. Soal keterbukaan, demokrasi, hak hak individu, sudah mereka rasakan dalam keseharian hidup mereka sendiri.

Tema kedua Industri Kreatif. Dari sisi Prabowo-Sandi disampaikan oleh dr Gamal Albinsaid. Dokter muda wirausaha sosial pelopor asuransi kesehatan yang dibayar dengan sampah asal Malang.

Dari sisi Pak Jokowi-Maaruf, Dedek "Uki” Prayugi, anak muda enterpreneur sosial, cendikiawan muda ahli sosilogi politik. Ahli demografi dalam perspektif sosiologi dan politik. Paparan keduanya menarik.

Uki menjelaskan Pak Jokowi sudah membangun Bekraf yang menujukkan keberpihakan pada Industri kreatif. Saya berharap di segmen dua ini bisa lebih mengeksplorasi. Eh, lagi-lagi Paman Adian nyolot. Tapi sesekali saya yang agak hilang selera, menimpali. Apa timpalannya. Nonton saja nanti di Sabtu depan ya. Dilarang buat spoiler kata Mba Nana.

Di tengah-tengahnya dibuat gimick kuis ala-ala family seratus. Yang menanyakan soal karakteristik millenial. Menanyakan tentang artis/aktor favorit, kebiasaan dan karakteristik millenial. Terus terang, kedua belah pihak banyak kekurangan ide. Ternyata para narsum ga cukup mengerti selera millenial. Hahaha. Apa hasil kuisnya. No spoiler.

Tibalah giliran saya membahas topik pendidikan. Dave dari sisi Pasangan No 01. Saya dari sisi 02. Karena semua tadi sudah berosasi. Saya membahas topik pendidikan sambil berpantun. Pantun pendidikan Prabowo-Sandi dalam 90 detik.

Di sini kembali menghangat. Karena sebelum debat dimulai, mba Nana memutar VT pidato Pak Jokowi tentang "Membuka jurusan-jurusan baru, seperti jurusan meme". Menutup jurusan yg ga relevan.

Saya agak terpancing dengan ini. Karena inilah yang selama ini sempat jadi kegundahan tentang cara berfikir presiden kita. Yang sebagaimana manusia tentu dia bisa saja keliru. Dan kalau keliru, ya kita harus luruskan. Saya sampaikan pandangan saya. Lagi lagi paman Adian menyalak. Dia membela membabi buta. Keluar juga akhirnya darah rendang saya yang banyak makan daging dicampur gulai santan.

Uki tampak lebih elegan dan fair. Ada yang dia setuju dengan saya, tapi yang tidak, dia coba gali lebih dalam dan dia sanggah. Saya senang. Kerenlah teman PSI kita ini. Juga Dave, respect the debate friend. Dia masih bisa tersenyum sepanjang acara meski kita berbeda.

Sampailah di segmen akhir. Mba Nana meminta kita memilih super hero satu orang yang cocok dengan Presiden yang kami dukung. Dan super hero yang pas tentang calon presiden kompetitor. Saya mewakili team menjawab jawaban kami.

Eee, lagi-lagi kena nyinyir sama Paman Adian. Bahkan jawaban yang seharusnya suka-suka kami mau jawab apa dan siapa, tetap dia nyinyiri. Ampun deh saya dalam hati. Bener-bener paman ini. Jadi ngerti sekarang, apa yang dirasakan teman-teman yang datang debat ke televisi yang vis a vis dengannya. Cuma bagus juga saya fikir, baru muncul ke televisi setelah 11 tahun, langsung ketemu jagoaannya.

Di segmen akhir ini, kami sepakat untuk tidak lagi ladeni Paman ini. Kami diamkan saja. Toh yang akan menilai adalah pemirsa dan penonton di rumah, yang bakal jadi pemilih cerdas di pemilu nanti.

Saya kebagian menutup. Saya tutup dengan pendek saja Matanajwa. Tidak semua jatah saya pakai. Fikiran saya sudah melayang kemana-mana. Catatan yang sudah saya siapkan untuk menjadi closing akhirnya tidak jadi saya baca. Saya tutup dengan tausiah pendek ala Abi Quraish Shihab saja.

Overall, Matanajwa kemaren seru. Saya merasa Kak Nana dengan sengaja tidak mencecar kami para narsum berjam terbang rendah ini. Awak pun jadi tenang. Esok paginya, dalam perjalanan kembali ke Jakarta, Kak Nana mengakui kepada saya, dia sengaja "agak sedikit longgar" tadi malam. Terutama yang soal super hero. Haha. Dan kepada Paman Adian kami semua tentu belajar banyak juga kemaren malam itu. Terimakasih Paman. Sayang Paman ga di sisi sini. Kalau di sisi sini mungkin aja bisa jadi cawapres. Hehe.

Meskipun sesekali Kak Nana tampak kewalahan karena darah-darah muda tingkah meningkahi debat dengan semangat muda membara. Di sana tampak Kak Nana terasa sudah tidak muda lagi. Karena pengisi acara semua punya energi yang ga kalah sama Kak Nana.

Sekian pengantar. Dilarang menyebarkan spoiler. Tapi catatan pengantar saja. Lengkapnya nonton aja Sabtu 27 Oktober 2018. Pukul 20.00, Matanajwa Onstages, di Trans 7.

***