Sejatining Jati [1] Jati, Jawa dan Kejawaan

Sedemikian terobsesinya orang Jawa terhadap jati, hingga ensiklopedi terbesar dan tertua dalam budaya Jawa: Serat Centhini, dituliskan dengan sebuah metafora sebuah pengembaraan untuk mencari jati diri.

Senin, 19 April 2021 | 09:32 WIB
0
62
Sejatining Jati [1] Jati, Jawa dan Kejawaan
Mengangkut kayu jati di masa kolonial (Foto: Facebook/Andi Setiono Mangoenprasodjo)

Postulatnya sederhana: jika ingin memahami orang Jawa, pahamilah perjalanan sejarah kayu jati. Ia sesungguhnya bukan asli berasal dari Jawa. Tapi secara internasional orang menyebut kayu jati sebagai Java Teak. Untuk menggambarkan produk furnitur dan kerajinan terbaik kelas dunia.

Padahal, Jawa di samping bukan ashabul nuzulnya, juga bukanlah penghasil terbesar dari tumbuhan ini. Kebutuhan jati dunia 70% dipasok dari Birma, habitat asli tanaman ini endemik berasal. Bahkan di bumi Nusantara-pun, jati lebih dulu lebih dikenal di daerah Buton, Sulawesi. 

Satunya hal, untuk menjelaskannya tanaman ini disebut Java Teak adalah bahwa menemukan tempat tumbuh terbaiknya di bumi Jawa. Sebagaimana juga banyak hal lain, juga berlaku demikian dari dulu hingga hari ini. Apakah itu agama, filasafat, teknologi, arsitektur, budidaya tanaman, dan banyak hal lain.

Jawa itu pada dasarnya cuma peniru, pengikut, peneladan. Intinya mereka, kita, (dan terutama saya) adalah tukang contoh. Tapi di tangan merekalah, di bumi inilah ia diolah, direkayasa dan dibentuk menjadi sesuatu yang lain dan memiliki nilai yang jauh lebih baik. 

Jadi, jika hari ini orang sedemikian bangga sebagai sekedar pengekor atau follower. Itu bukan barang baru. Persoalannya, tentu saja mereka sekedar copy paste dan menjiplak utuh dan bulat-bulat. Apa yang sering dianggap sebagai kaffah, gagal menyandingkan (atau malah ogah) dengan kultur lokal. 

Atas nama apa? Entahlah....

Jati di tanah Jawa sendiri konon berasal dari Gujarat, India. Tersebar luas dalam lingkaran agama Hindu-Budha sejak dari India, Srilangka, Birma, hingga laos Dan Kamboja. Ia datang ke bumi Nusantara, bersamaan dengan masuknya agama-agama dari Anak Benua itu.

Karenanya tak aneh jati pada mulanya ditanam di sekitar Candi-candi. Dalam beberapa foto lama awal restorasi Candi Borobudur, tampak di luar halamannya adalah tanaman jati. Ia dianggap pohon suci. Saya sendiri agak ragu, bila melihat karakter daunnya. Tapi dilihat dari bentuk kayunya yang lurus dan pola tanamnya yang beraturan, patut diduga memang ia adalah pohon jati. 

Yang sesungguhnya agak aneh, karena di relief Borobudur yang justru menonjol adalah Pohon Kalpataru. Yang di masa Orde Baru, justru dijadikan simbol pelestarian lingkungan. Atau bukan pohon Bodhi, yang memang pohon ajaib penghasil oksigen murni tempat berteduh Sri Buddha Gautama ketika pertama kali memperoleh wahyu.

Dari para pengelola rumah ibadah inilah, kemudian jati tersebar luas ke tengah masyarakat. Dan di Jawa, menemukan habitat terbaiknya di wilayah Blora dan sekitarnya. Hingga di suatu masa, ia berubah menjadi hutan rimba yang lebat. 

Bumi Jawa sendiri, tiba-tiba telah mengubah tanaman jati dengan karakteristik yang berbeda-beda. Karena perjalanan yang intens dan akrab dari masyarakatnya, orang Jawa dengan ilmu titennya mampu menandai jati dengan karakteristik dan mutu yang beragam dan mengaplikasikannya dengan manfaat yang berbeda-beda pula. Pada tataran terbaik dikenal dengan jati lengo atau jati malam yang terkenal keras dan berat. Halus jika diraba dan seperti mengandung minyak, berwarna gelap, banyak bercak dan bergaris.

Di bawahnya ada jati sungu berwarna hitam, padat dan berat. Disusul kayu jati werut yang serat berombak. Lalu, kayu jati doreng keras, berkelir loreng hitam yang indah dan seperti menyala. Terakhir, kayu yang kualitas bawah adalah kayu jati kapur. Ia dianggap kurang kuat dan kurang awet. Cirinya berwarna keputihan sebab mengandung kapur. Padahal di hari, justru jenis jati terakhir inilah yang paling banyak beredar di pasaran. Sudah sedemikian jarang dan sulitnya kita bisa menemukan jati lengo atau jati sungu. 

Sedemikian ajaib dan ampuhnya, jenis jati lengo hingga konon, para tukang kayu di Eropa di abad ke XIX meminta upah tambahan bila menangani jati karena kayunya mampu menumpulkan perkakas dan menguras tenaga mereka. Pada masa yang berimpitan, manual kelautan Inggris sebagai pemilik armada laut terbesar dan tercanggih di dunia. Memiliki instruksi untuk para awak kapalnya menghindari bentrokan langsung dengan jung kapal China yang terbuat dari jati. Sedemikian kerasnya, karena mampu merontokkan baja kapal marinir mereka saat berbenturan. 

Orang Jawa sendiri, menggunakan jati mula-mula sebagai bahan bangunan dengan memanfatkan karakter dari percabangan yang muncul dalam tubuh pohonnya. Contohnya, pohon jati bercabang 1 atau 2 disebut uger-uger. Kayu ini diyakini mengusung watak dapat membuat pemakainya hidup sejahtera dan rukun. Umumnya, dipakai untuk kerangka pintu rumah, pintu pagar batu, tiang penyangga rumah bagian dalam, puncak suji (jenis pagar) dan grogol (pagar yang lebih kokoh ketimbang puncak suji).

Pohon jati bercabang 3 dinamai trajumas. Masyarakat percaya, jenis pohon ini bisa mengundang rezeki. Biasanya dipakai untuk kerangka rumah bagian belakang yang berukuran besar, pengeret, blandar, molo dan sebagainya. Sedang pohon bercabang 5 disebut pendhawa. Pohon berwatak sangat kuat dan sentosa ini sering dimanfaatkan sebagai kerangka pendopo utama. Dari penamaan tersebut, terlihat kuatnya kaitan erat orang Jawa yang terinspirasi cerita pewayangan, dari imajinasi istana atau rumah tokoh2 berkarakter baik yang jadi teladannya. 

Orang Jawa juga memiliki istilah gendam untuk pohon jati yang acap dipakai burung untuk menyimpan sarang maupun rumah binatang merayap. Senapas dengan simbol harmoni binatang dengan kayu, maka watak yang melekat pada pohon ini adalah banyak teman dan mampu mendatangkan rezeki. Jenis kayu seperti sangat disukai orang Jawa untuk digunakan sendiri (daripada dijual kepada orang lain). Karena pohon yang ramah dengan hewan ini, cocok digunakan untuk bahan kandang kuda atau ternak lainnya serta peralatan berburu. 

Tapi, jati sekaligus adalah "mimpi buruk" bagi orang Jawa. Sejarah sering salah sebut bahwa VOC didirikan sekedar mengeksploitasi Nusantara karena emas hijau bernama rempah-rempah.

Itu benar bila konteksnya adalah Maluku, yang memang menjadi daya tarik utama muhibah pelayaran global pertma kali di dunia. Namun dalam konteks Jawa, emas hijaunya adalah pohon jati. 

Dalam catatan Denys Lombard, sedemikian tertariknya VOC pada “emas hijau” ini hingga bersikeras mendirikan loji pertama mereka di Jepara pada 1651. VOC kemudian memperjuangkan lisensi perniagaan jati melalui Semarang, Jepara, dan Surabaya.

Prospek perdagangan jati dinilai Kompeni lebih cerah dibandingkan perdagangan rempah-rempah dunia yang sebenarnya sedang mencapai puncaknya waktu itu. Pada abad ke-19, VOC diberi izin untuk memanen lahan hutan jati yang cukup luas di Jawa. Selain karena VOC sudah menguasai teknik penebangan jati yang lebih modern, hal ini sebagai imbalan atas bantuan militer mereka pada Kerajaan Mataram di awal abad tersebut.

Namun, VOC justru kemudian berbalik membebani para pemuka pribumi dengan upeti kayu jati dalam jumlah yang memberatkan. Yang sialnya, sebagaimana biasa para pemuka bumiputera pun berbalik mengalihkan beban penebangan pada rakyat sekitar hutan jati melalui sistem blandong. Sebagai imbalan, rakyat akan dibebaskan dari kewajiban pajak lain. Gelondongan jati jawa hasil upeti ini kemudian dibawa pulang VOC ke Amsterdam dan Rotterdam. Dari jati jawa inilah kedua kota pelabuhan ini dibangun menjadi pusat-pusat industri kapal kelas dunia.

Kayu Jati di Tanah Jawa, nyaris menjadi setiap catatan sejarah yang berkembang panjang saling berdampingan dengan masyarakat yang hidup di tanah ini. Ketika indutri perkebunan mulai tumbuh, apakah itu gula, karet, teh, indigo atau apa pun. Kayu jati menjadi bahan baku utama bantalan rel untuk membangun sarana transportasi yang meampu menjangkau seluruh pelosok Jawa. Ia juga menjadi bahan utama utama bangunan-bangunan kolonial yang tumbuh mengiringi pembangunan kota-kota yang lebih modern. Ia menjadi perangkat ini itu, yang menjadi produk ekspor. Ia menjadi simbol penanda Nusantara hadir di seluruh penjuru dunia. 

Lalu apa yang tersisa untuk orang Jawa? 

Sedemikian terobsesinya orang Jawa terhadap jati, hingga ensiklopedi terbesar dan tertua dalam budaya Jawa: Serat Centhini. Dituliskan dengan sebuah metafora sebuah pengembaraan untuk mencari jati diri. Dimana ia mengalami "pendewasaan spiritual", dengan bertemu sejumlah guru, tokoh-tokoh gaib dalam mitos Jawa kuno, dan sejumlah juru kunci makam-makam keramat di tanah Jawa.

Dalam pertemuan dengan tokoh-tokoh itu, dia belajar mengenai segala macam pengetahuan dalam khazanah kebudayaan Jawa. Dan yang dijadikan sumber dari Serat Centhini adalah kitab Jatiswara, yang bersangkala jati tunggal swara raja. Semua serba jati, jati, dan jati. 

Demikian orang Jawa membelenggu diri (atau terbelenggu) untuk senantiasa mencari kesejatiannya. Sejatining diri. Sejatining urip. Sejatining kasampurnan. 

***

NB: Ilustrasi adalah bagaimana pada akhirnya orang Jawa tereksploitasi menjadi "budak" di buminya sendiri. Mereka ikut menyemai dan menanam pohon jati, tapi sekedar harus "memanen"-kan untuk orang lain. Demikian dahulu, demikian hari ini.