Sketa Harian [62] Opini yang Lahir dari Emosi

Oleh media yang memuat opini itu di-framing dengan pemuatan foto lama Presiden Jokowi saat sedang berada di tengah suasana keramaian acara Festival Musik Syncronize tahun 2017.

Rabu, 20 Mei 2020 | 07:23 WIB
0
154
Sketa Harian [62] Opini yang Lahir dari Emosi
Ilustrasi konser virtual (Foto: RMOL.id)

Kalau saya memuat ulang sebuah tulisan opini berjudul "Konser yang Menyinggung Umat Islam" yang ditulis M Rizal Fadillah -seseorang yang menyebut diri pemerhati politik dan keagamaan- bukan berarti saya setuju opini tersebut.

Pun saya menayangkan ulang opini yang sempat dimuat berbagai media arus utama itu bukan berarti memviralkannya. Semata-mata saya ingin menunjukkan bahwa sebuah opini bisa ditulis dengan niat busuk; mengadu-domba umat, memprovokasi massa dengan mendiskreditkan pemerintah atau lembaga lainnya dan semata-mata membuat kekacauan.

Apakah opini itu hadir "by design" oleh kelompok tertentu dengan si penulis sebagai pionnya atau semata-mata murni pemikiran pribadi penulisnya, saya tidak tahu, bukan domain saya itu. Saya hanya ingin menunjukkan bahwa sebuah opini ternyata bisa ditulis oleh seseorang menggunakan perasaannya (emosi), bukan dengan pikirannya (logika).

Karena kata "opini" (opinion) itu sendiri bermain "di kepala" (pikiran), maka tulisan berbentuk opini adalah permainan logika dengan hukum-hukum berpikir yang ketat di dalamnya. Sedangkan perasaan (emosi) tidak ada hukumnya, suka-suka saja, yang penting perasaan kesal sudah keluar dari isi perutnya, selesai sudah urusan menulis opini.

Saya coba bedah opini itu di sini, meski tidak semuanya, yang terlihat mencolok mata saja. Perhatikan judul opini tersebut, yaitu "Konser yang Menyinggung Umat Islam". Dari judul saja terlihat bagaimana penggiringan opini mulai dikemas dengan umat Islam subjek yang ingin digosoknya. Menyinggung umat Islam? Hellow, umat Islam yang mana?

Islam itu satu, tetapi pemeluknya yang dinamakan umat Islam itu banyak ragamnya, banyak perbedaannya. Salah satunya ada umat Islam yang berpikir kritis dan umat Islam yang malas berpikir. Bisa dibayangkan, bagaimana kira-kira kalau judul opini "Konser yang Menyinggung Umat Islam" dibaca oleh umat Islam yang malas berpikir. Emosi umat Islam golongan malas berpikir ini tentu langsung tersulut, kemudian terbakar. Apakah itu tujuan opini ditulis? Wallahu alam....

Kemudian saya baca kalimat pertama opini itu, "Konser amal untuk melawan wabah corona tanggal 17 Mei malam terasa janggal." Saya langsung bertanya, janggalnya di mana, ya? Apakah hanya karena penyelengaranya BPIP bekerja sama dengan MPR dan Gugus Tigas Covid-19 lantas konser itu menjadi janggal? Siapa yang seharusnya menyelenggarakan konser itu biar tidak janggal?

Lihatlah, kalau otak (pikiran) yang bekerja dan dimainkan -bukan emosi yang di kedepankan- maka judul dan kalimat pertama opini saja sudah mengandung kekeliruan berpikir yang fatal, padahal penulisnya adalah pemerhati politik dan keagamaan yang mutlak memerlukan argumen dalam setiap opininya.

Saya kutip kalimat berikutnya, "Aneh di tengah kebijakan PSBB dan bulan Ramadhan masih terfikir dan mampu mengadakan konser berskala 'kenegaraan'. Ketua MPR sengaja berkampanye mengajak masyarakat untuk hadir dalam konser virtual."

Saya bertanya-tanya sendiri; apanya yang aneh? Bukankah konser virtual itu bukan konser fisikal di mana orang memerlukan datang ke sebuah tempat pertunjukan (di tengah pemberlakuan PSBB pasti kegiatan ini tergolong sangat terkutuk)? Bukankah orang cukup berada di rumah masing-masing dan menonton konser virtual itu lewat YouTube, Zoom, Live Streaming, Podcast atau apapun namanya itu? Inikah yang disebut "aneh"?

Sekarang perhatikan aliena kedua yang tendensius, yang jelas-jelas hendak memancing kemarahan umat Islam (yang malas berpikir), "Di bulan Ramadhan 10 hari terakhir yang dalam keadaan normal umat Islam dianjurkan i'tikaf di Masjid, biasa shalat tarawih berjamaah, tadarus Al Qur'an. Justru kini umat harus hadir menonton konser."

Umat Islam yang berpikir tentu paham, tidak seluruh jam, menit dan detik di 10 hari terakhir bulan Ramadhan hanya untuk i'tikaf di masjid, shalat tarawih berjamaah dan tadarus Al Quran. Di sela-sela itu tidak diharamkan menyisakan waktu untuk gerak badan, bekerja "work from home" atau nonton konser virtual yang tujuannya mulia, yaitu mencari dana dari para dermawan (yang menonton konser virtual) untuk menangani pandemi corona.

Masih banyak kalimat provokatif lainnya, hampir di semua alinea. Ambillah kalimat pertama alinea ketiga, misalnya, "Konser 'kenegaraan' ini tidak berperi kemanusiaan." Luar biasa, opini yang penuh kebencian yang justru ditulis tanpa nalar yang benar, semata mengandalkan perasaan.

Perhatikan lanjutannya, "Suasana yang sedang dihadapi adalah keprihatinan. Ketika manusia mempertaruhkan kesehatan dan jiwanya di tengah wabah, masih sempat 'nyanyi-nyanyi' terprogram. Tidak adil, karena hasil donasi sepenuhnya hanya diperuntukkan bagi pekerja seni dan seniman. Itupun dihimpun hanya oleh satu Yayasan saja. Bagaimana dengan masyarakat terdampak lain seperti ojek, sopir angkot, buruh ter PHK, pedagang kecil yang semua juga mengalami kesulitan yang mungkin lebih parah?"

Padahal, konser virtual utama menghadirkan kelompok musik Bimbo yang lekat dengan keislamannya dengan branding kuat irama qasidah dengan syair lagu islami. Bimbo sendiri sebagai "pemain utama" luput disebut tulisan opini itu, kecuali selintas saja karena mungkin tidak penting. Sebab, yang lebih penting adalah menumpahkan emosinya.

Oleh media online yang memuat opini itu kemudian di-framing dengan pemuatan foto lama Presiden Jokowi saat sedang berada di tengah suasana keramaian acara Festival Musik Syncronize tahun 2017, foto tiga tahun lalu. Benar-benar kolaborasi yang sistematis antara penggiringan opini dan framing media, bahwa ujung-ujungnya "Salawi" alias salah Jokowi.

RMOL.id selaku media arus utama yang memuat opini itu seperti tidak punya salah, mungkin malah senang karena opini menangguk jutaan kilk dengan share mencapai 626.000-an. Bisa dibayangkan opini itu menyebar dan memapar sedikitnya 626.000 media sosial, termasuk WA, meski foto Jokowi yang semula melengkapi opini itu sudah diganti.

Sampai di sini saya yang giliran malas melanjutkan pembahasan, sebab hampir di semua aliena yang membentuk opini itu terkandung tiga hal, yaitu emosi, emosi dan emosi, tanpa menyisakan tiga hal, yaitu; logika, logika dan logika. Saya bukan malas berpikir seperti sebagian umat yang menelan mentah-mentah opini ini, tetapi malas buang-buang pikiran.

Baca sendiri sajalah opini yang lahir dari perasaan (emosi) penulisnya dibawah ini...

Salam....

KONSER YANG MENYINGGUNG UMAT ISLAM

by M Rizal Fadillah *)

Konser amal untuk melawan wabah corona tanggal 17 Mei malam terasa janggal. Penyelenggaranya Badan Pembina Ideologi Pancasila (BPIP) bekerjasama dengan MPR RI, Gugus Tugas Covid 19 dan instansi lain. Aneh di tengah kebijakan PSBB dan bulan Ramadhan masih terfikir dan mampu mengadakan konser berskala "kenegaraan". Ketua MPR sengaja berkampanye mengajak masyarakat untuk hadir dalam konser virtual.

Di bulan Ramadhan 10 hari terakhir yang dalam keadaan normal umat Islam dianjurkan i'tikaf di Masjid, biasa shalat tarawih berjamaah, tadarus Al Qur'an. Justru kini umat harus hadir menonton konser. Sungguh menyedihkan. Menurut Pastor Benny Soesetyo Staf Khusus Dewan Pengarah BPIP konser ini wujud dari pengamalan Kemanusiaan Yang Adil dan Beradab.

Konser "kenegaraan" ini tidak berperi kemanusiaan. Suasana yang sedang dihadapi adalah keprihatinan. Ketika manusia mempertaruhkan kesehatan dan jiwanya di tengah wabah, masih sempat "nyanyi-nyanyi" terprogram. Tidak adil, karena hasil donasi sepenuhnya hanya diperuntukkan bagi pekerja seni dan seniman. Itupun dihimpun hanya oleh satu Yayasan saja. Bagaimana dengan masyarakat terdampak lain seperti ojek, sopir angkot, buruh ter PHK, pedagang kecil yang semua juga mengalami kesulitan yang mungkin lebih parah ?

Tidak beradab, karena adabnya urusan dana rakyat siapapun termasuk seniman adalah kewajiban Pemerintah. Tidak beradab pula di tengah tengah umat Islam beribadah khusyu berburu malam "lailatul qadar" negara justru menyelenggarakan konser bernyanyi. Kegiatan yang sebenarnya bisa dilakukan setelah bulan Ramadhan.

Pemerintah menyinggung umat Islam yang sedang dipersulit untuk beribadah di masjid. Shalat jum'at dan shalat ied pun ditiadakan. Mudik silaturahmi tidak bisa. Ini malah konser lagi. Sayangnya Wapres yang Kyai pun bukan mencegah atau menasehati malahan terlibat. Diagendakan untuk membacakan do'a. Setelah menikmati nyanyi nyanyi.

Kita ini ambivalen antara keseriusan dan kedisiplinan dalam mengatasi wabah di satu sisi dengan relaksasi dan "konserisasi" di sisi lain.

Entah lagu lagu apa yang akan dibawakan mungkin Bimbo membawakan lagu rohani, tetapi artis lainya seperti Rosa, Judika, Ruth Sahanaya, Inul Daratista, Via Vallen, Marion Jola belum terpublikasikan. Ini konser Corona bukan konser Ramadhan. Jadi acara seperti ini seharusnya bisa dilakukan setelah bulan Ramadhan.
Di luar bulan sucinya umat Islam.

Program BPIP ini tidak signifikan, MPR pun terlalu menyederhanakan kegiatan.
Seperti kehilangan agenda utamanya sebagai lembaga penting dalam Negara.
Meskipun akhirnya rakyat hanya bisa mengurut dada.

Indonesia sedang berduka. Duka lara karena cara mengelola negara yang semrawut alias tidak terencana.

*) Pemerhati Politik dan Keagamaan

Bandung, 17 Mei 2020

***

Tulisan sebelumnya: Sketsa Harian [61] Mengapa Membenci Waria?