Seandainya Saya Pengurus MUI

Jika saya sebagai pengurus MUI tidak mendorong agar umat melakukan perintah membaca tersebut maka saya rasa tidak ada gunanya lembaga MUI ini dibentuk.

Sabtu, 16 November 2019 | 19:06 WIB
0
96
Seandainya Saya Pengurus MUI
Anwar Abas (Foto: CNN Indonesia)

Maka saya akan anjurkan semua pengurus MUI lainnya untuk berhenti mengurus hal temeh-temeh seperti larangan mengucapkan salam untuk umat lain atau melarang umat memberikan ucapan Selamat Natal yang sungguh tidak produktif itu. Ada banyak hal penting dan sangat penting lainnya yang perlu diurusi oleh sebuah majelis ulama yang terhormat tersebut.

Seandainya saya pengurus MUI maka saya akan mengajak semua pengurus MUI Pusat dan semua daerah agar memfatwakan kewajiban membaca atau IQRA’ bagi umat. Tentu saja yang dimaksud Iqra di sini bukan sekedar membaca Alqur’an dan artinya. Mengapa perlu fatwa kewajiban membaca…?!

Karena Perintah membaca, yang bertujuan agar manusia berubah dari tidak tahu (illiterate) menjadi tahu (literate), ini begitu pentingnya sehingga diturunkan yang pertama kali sehingga merupakan perintah pertama dan utama bagi umat Islam.

Membaca adalah perintah Tuhan sesuai dengan ayat tersebut. Saat ini kita sebagai umat Islam telah melalaikan perintah Tuhan yang pertama tersebut. Kita mengabaikannya dan tidak pernah menganggapnya sebagai sesuatu hal yang sangat penting.

Ini sungguh mengherankan. Meski hafal surat Iqra’ dan membacanya setiap hari dalam sholat tapi umat Islam tidak menjadikan membaca sebagai aktivitas sehari-hari yang harus diperlakukan sebagai ibadah sebagaimana kita memperlakukan sholat, zakat, puasa PUASA, dll. Membaca tidak pernah dianggap sebagai suatu ibadah. Membaca bahkan tidak dianggap sebagai perintah atau ajaran Islam. Ironis sekali. Bahkan perintah Tuhan untuk membaca ini yang paling ditinggalkan oleh umat Islam saat ini.

“Reading is the heart of education”, kata Farr. “Membaca merupakan salah satu fungsi yang paling penting dalam hidup. Semua proses belajar didasarkan pada kemampuan membaca”. Demikian kata Glenn Doman. Ajaran Islam penuh dengan anjuran untuk belajar, belajar… dan belajar dan berpikir, berpikir, dan berpikir.

Bahkan dalam suasana perang dimana dibutuhkan semua tenaga laki-laki yang sehat untuk ikut berperang Rasulullah masih juga menyatakan agar tidak semua orang ikut berperang tapi ada sebagian orang belajar memperdalam ilmu. Bahkan ada anjuran yang yang tersohor agar umat Islam menuntut ilmu sampai ke China.

Belajar sebenarnya merupakan nafas dari ajaran Islam dan membaca adalah jantung dari pendidikan. Seandainya saja umat Islam melaksanakan perintah Tuhan yang begitu penting ini maka sebenarnya umat Islam adalah umat yang paling literate, atau yang paling berilmu dibandingkan umat-umat lain. 

Seandainya saya pengurus MU …

Saya akan berupaya agar keluar fatwa dan gerakan yang mendorong umat Islam utk membaca dan membaca… Saya akan namakan itu sebagai Gerakan Umat Membaca dan saya tidak akan berhenti sampai umat Islam benar-benar menjadikan membaca sebagai ibadah utama mereka. 

Indonesia adalah negara dengan jumlah umat Islam terbesar di dunia. Terbesar wahai para ulama...! Tahukah kita berapa persen jumlah penduduknya yg gemar membaca? Ada statistik yang bilang bahwa hanya 0,001% atau hanya satu orang di antara seribu orang. Jelas sama sekali tidak tampak sebagai negara dengan ciri penduduk yg suka membaca. 

Bukankah katanya bangsa Indonesia itu mayoritas umat Islam? Sedangkan perintah membaca adalah Perintah Pertama dan Utama dalam Alquran. Mengapa para ulama tidak menganggap ini sebagai kewajiban yang  sangat penting untuk dilaksanakan oleh umat Islam Indonesia? Seharusnya dalam Islam membudayakan membaca adalah sebuah ‘fardhu kifayah’ atau ‘social responsibility’ yang apabila tidak dilakukan akan menjadi dosa bersama.

Bukankah para ustad, kyai, dan ulama sudah tahu bahwa kata ‘qaraa’ (membaca) dan kata bentukannya disebutkan 89 kali dan kata ‘katab’ (menulis) beserta kata bentukannya sebanyak 303 kali di dalam Al-Qur’an? Begitu banyak kata tentang membaca dan menulis yang ada dalam Al-Qur’an. Semua itu menunjukkan betapa pentingnya kegiatan membaca dan menulis dalam ajaran Islam.

Umat Islam pernah mengalami kejayaan selama 500 tahun (sekitar th 750 – th 1250). Peradaban Islam melahirkan generasi yg mumpuni di bidang ke agamaan dan ilmu pengetahuan. Mereka menghasilkan ilmuwan-ilmuwan hebat kelas dunia seperti Ibnu Rusd (Averroes), Ibnu Sina (Avicenna), Al-Biruni, dll. Itu semua berkat kemampuan mereka mengembangkan ilmu pengetahuan melalui literasi membaca dan menulis.

Di mana tradisi itu sekarang? Semestinya dengan perintah membaca itu umat Islam haruslah menjadi umat yg paling literat dan paling gemar membaca. Tapi fakta justru sebaliknya. Bukankah ini sangat menyedihkan?

Coba bandingkan dengan perintah menutup aurat (diterjemahkan dengan memakai jilbab) yang hanya ada dua ayat di dalam Al-Qur an dan itu pun sdh disampaikan pada kitab suci sebelumnya (artinya perintah memakai jilbab itu bukan khas ajaran Islam saja.

Agama lain juga ada perintah yg sama).Tapi para ustad, ulama, dan kyai kita lebih suka menekankan pentingnya pakai jilbab (dan sibuk membela wanita bercadar) bagi wanita muslim ketimbang perintah membaca dan menulis yang disebutkan lebih banyak dalam Al-Qur’an. 

Seandainya saya pengurus MUI…

Saya akan mendorong para da’i, kyai, ustad dan para ulama mengajak para jamaahnya utk membaca sebagai Perintah Tuhan yg Pertama sekaligus Utama dalam kehidupan sehari-hari. Selama ini mereka hanya menganjurkan dan memerintahkan para jamaahnya untuk mendengarkan ceramah mereka saja dan tidak mendorong mereka untuk mengembangkan budaya membaca. 

Rendahnya Reading Literacy umat Islam saat ini dan di masa depan akan membuat rendahnya daya saing umat Islam dan negara-negara Islam dalam persaingan global. Dan di Indonesia itu adalah tanggung jawab para ulama yang tergabung di MUI.

Jadi para pengurus MUI mesti paham betapa pentingnya memasukkan budaya membaca bagi umat sebagai prioritas utama pembangunan bangsa. Kejayaan Islam adalah karena kemajuan ilmu pengetahuan yang dimiliki umatnya (dan bukan karena bagus dan merdunya suara qari’ dan qari’ah dalam lomba MTQ-nya, umpamanya. Dan juga bukan karena banyaknya para hafiz Al-Qur’an).

Jadi mari kita dorong para ustadz, kyai, ulama, guru agama, untuk memfokuskan perhatiannya pada upaya untuk membangun kembali budaya literasi umat atau bangsa ini agar kejayaan dapat kita raih kembali. Tak ada rahasia lagi setelah Tuhan menurunkan kata kuncinya, yaitu ‘Iqra’ sebagai pembuka ilmu pengetahuan untuk membangun peradaban.

Semua orang bisa menggunakan kata kunci tersebut untuk membangun kejayaan bangsanya melalui kata kunci tersebut. Sayang sekali justru umat islam yang tidak menggunakan kata kunci tersebut untuk membangun kejayaannya.

Dan jika saya sebagai pengurus MUI tidak mendorong agar umat melakukan perintah membaca tersebut maka saya rasa tidak ada gunanya lembaga MUI ini dibentuk.

Seandainya saya pengurus MUI lho…!

***