Yunarto Wijaya dan Charta Politika

Sikap diam Yunarto menghadapi berbagai perundungan terhadap Charta Politika menunjukkan sikap profesionalitasnya.

Sabtu, 6 April 2019 | 21:50 WIB
0
802
Yunarto Wijaya dan Charta Politika
Yunarto Wijaya (Foto: Fimela.com)

Yunarto Wijaya menyanggupi akan pindah ke negara komunis jika Prabowo Subianto menang sesuai tawaran penantangnya. Selanjutnya bisa ditebak, komentar miring atas respon Yunarto berhamburan, dari tuduhan dengan menggunakan idiom agama hingga makian berbau rasis.

Benarkah Yunarto takabur dan memutlakkan pendapatnya? Hanya mereka yang tidak membaca konteks yang berpandangan demikian, atau mereka yang telah kehilangan akal sehat. Bukankah Yunarto hanya menerima tantangan. Bayangkan jika Yunarto memilih diam, maka tuduhan bahwa hasil survei Charta Politika yang memenangkan Jokowi akan terus dibully.

Halnya lembaga survei lain yang memenangkan Jokowi, Charta Politika sama sekali tidak berpretensi memutlakkan hasil surveinya. Penting diberi penekanan, Yunarto tidak sedang bertaruh menantang Tuhan seperti seakan-akan digambarkan para haters. Melainkan sedang melayani tantangan mereka yang meledeknya dengan hanya bermodalkan pengamatan serta desas-desus yang sulit dipertanggungjawabkan lewat sains.

Bayangkan jika para pembully Yunarto mendasarkan kesimpulannya hanya dengan memperkirakan jumlah peserta kampanye dan rumor di media sosial misalnya, yang dengan itu lantas menganggap diri paling benar dan menantang orang lain secara terbuka di ruang publik. Bukankah ini yang disebut sikap takabur untuk tidak menyebutnya dungu?

Style Yunarto merespon tantangan para haters sekaligus menjadi momentum menjawab keraguan publik, khususnya pendukung Prabowo kalau survei Charta Politika dilakukan secara profesional dan tidak partisan. Bak pepatah, "Sambil menyelam minum air".

Jika ada yang harus disesali, mengapa Yunarto melayani tantangan mereka yang tidak memiliki latar belakang yang jelas, yang bahkan jika Jokowi yang menang bisa jadi akun-akun tersebut tiba-tiba raib entah ke mana dan publik tidak merasa perlu meminta pertanggungjawaban yang bersangkutan karena dianggap tidak penting. Lagi pula si penantang hanya bermulut besar, tidak merespon saat ditantang balik.

Mengapa Yunarto tidak sekalian bertaruh saja dengan lawan yang seimbang, Fahri Hamzah atau Fadli Zon misalnya. Bukankah dua nama ini yang sangat getol meragukan hasil survei yang memenangkan Jokowi dimana Charta Politika termasuk di antaranya.

Justru sikap diam Yunarto menghadapi berbagai perundungan terhadap Charta Politika menunjukkan sikap profesionalitasnya yang membiarkan setiap orang bebas mengomentari hasil surveinya, dan baru bereaksi saat diserang dan ditantang secara personal.

Inilah bedanya Yunarto Wijaya dibanding para haters.

***