Kasus Polisi, Masukan untuk Media

Jangan menyertakan opini, dan gak usah pake judul yang bombastis. Pasti beritanya menarik dan bisa dipertanggungjawabkan.

Minggu, 17 Juli 2022 | 07:01 WIB
0
216
Kasus Polisi, Masukan untuk Media
Pistol (Foto: dentristry.co.uk)

Tentang kasus polisi yang lagi rame, saya hanya ingin rembuk dari perspektif yang menjadi kompetensi saya, jurnalistik. Itu pun saya lebih ingin mengkritisi kerja media dalam memberitakan kasus itu. Kenapa?

Membaca (dan menonton) berita-berita tentang kasus polisi tembak polisi ini, kok media hanya memberitakan apa yang dikatakan polisi. Terkesan media tidak tahu ‘pertanyaan dasar’ (dan penting) apa yang seharusnya diajukan.

Memang ini bukan kasus besar tapi menarik, karena mempertaruhkan kejujuran, kredibilitas, dan integritas Polri.

Pada kasus seperti itu, seharusnya diajukan pertanyaan sederhana, “Apakah keluarga Kadiv Propam sehari-hari tinggal rumah itu?” Jika jawabannya tidak, pertanyaan itu menjadi penting dan bisa dikembangkan, mengingat kejadiaannya pada pukul 17.00, di mana jam itu bukan waktunya tidur, atau tidur siang.

Karena dalam keterangan polisi banyaknya kejanggalan, kenapa tidak mewawancarai pakar psikologi, psikiater, atau pakar komunikasi, tapi tidak hanya bertanya “Bagaimana menurut pendapat Anda tentang kasus itu?”

Ambil pernyataan-pernyataan resmi dari polisi tentang kasus itu sebagai titik pertanyaan.

1. Pernyataan:
Kata polisi, polisi J (BJ) masuk ke kamar istri jenderal.

Pertanyaan:

a. Dengan standar disiplin Polri yang diterapkan saat ini, apakah dibenarkan seorang sopir berpangkat bintara, masuk ke kamar istri seorang jenderal?

b. Jika tidak dibenarkan, faktanya seorang sopir berpangkat bintara (BJ) masuk ke kamar istri seorang jenderal. Apakah karena dia nekat (gak tahan nafsu)? Apakah karena dia dipanggil? Atau karena sudah biasa?

c. Kalau karena dia nekat gak tahan nafsu, apakah dia jadi anggota Polri tidak melalui psikotes dll.? Apakah dia menjadi sopir istri jenderal tidak lewat tes ini itu? Karena konskuensi dari tindakan neyelonong ke kamar istri jenderal (atasannya) lalu melakukan pelecehan seksual, MINIMAL dipecat dari Polri. Itu pasti. Kalau masalahnya nafsu syahwat sama perempuan, BJ ini termasuk polisi ganteng, gak susah bagi dia untuk cari pasangan, mau yang usianya berapa tinggal milih, tanpa risiko pulak.

Jadi, sulit dipercaya kalo BJ sampe harus melakukan pelecehan seksual terhadap ibu jenderal?

2. Pernyataan:

Kata polisi, setelah masuk ke kamar, hendak melakukan pelecehan seksual, lalu BJ menodongkan senjata ke kepala istri jenderal.

Pertanyaan:

a. Apa tujuan BJ menodongkan senjata ke kepala istri jenderal itu? Kalau ketahuan (sama BE) BJ tahu, menodongkan senjata atau tidak, konsekuensinya sama: MINIMAL dipecat.

b. Kalau benar BJ hendak melakukan pelecehan seksual, lalu marah karena ditolak sama ibu jenderal lalu menodongkan senjata, pertanyaannya balik ke: Apakah dia jadi anggota Polri tidak melalui psikotes dll.? Apakah dia menjadi sopir istri jenderal tidak lewat tes ini itu? Karena konskuensi dari tindakan pelecehan seksual terhadap istri jenderal (atasannya) MINIMAL dipecat dari Polri. Pasti BJ tahu.

3. Beberapa hari lalu, semua stasiun TV menayangkan adegan ketika Kapolda Metro Jaya, Irjen Pol. Fadhil I. menemui Kadiv Propam Irjen Pol. Ferdy S (suami dari istri yang kata polisi hampir menjadi korban pelecehan seksual). Di situ terlihat dan disebutkan oleh presenter TV, Ferdy S. menangis di pundak Fadhil.

Pertanyaan:

1. Mengapa Ferdy tampak begitu sedih sampai menangis di pundak Fadhil? Kalau benar peta persoalannya seperti yang dikemukakan polisi, toh secara fisik istrinya tidak kenapa-napa, hanya shocked, terguncang.

2. Apakah dia sedih karena kehilangan satu anak buahnya (BJ)? Dia itu Kadiv Propam, kepala polisinya polisi. Kasus-kasus seperti itu sudah domain tugasnya.

Jadi ... coba deh kalau beritanya mau diapresiasi pembaca, sebelum meliput dan nulis berita, para jurnalis hendaknya memahami dulu persoalannya.

Setelah paham pasti akan muncul pertanyaan-pertanyaan logis. Catat pertanyaan itu. Kalau tidak bisa ditanyakan ke polisi, tanyakan ke pakar psikologi, psikiater, atau pakar komunikasi.

Jangan menyertakan opini, dan gak usah pake judul yang bombastis. Pasti beritanya menarik dan bisa dipertanggungjawabkan.

***