Beragama Mutungan

Jadilah padi di tengah rerumputan, tak perlu teriak bahwa anda padi, toh orang akan bisa membedakan mana padi mana rumput.

Selasa, 18 Januari 2022 | 19:49 WIB
0
123
Beragama Mutungan
Abdurraman Wahid (Foto: Era.id)

Hari-hari seperti ini selalu ingat Abdurrahman Wahid (Gusdur), sosok inilah yang saya anggap beragama dengan sangat luar biasa. Kalau mendengar kisah Rasullulah, maka Gusdur bisa diambil sebagai contohnya. Dan banyak contoh lainnya yang begitu welas asih pada wilayah kemanusiaan.

Saya suka dengan kepribadian yang tidak pongah atas dirinya dalam mewakili agamanya, tapi justru mereka begitu merunduk karena mereka tau ketertundukan diri adalah tunduknya hati kepada Tuhan.

Gus Dur sejajar dengan Mahatma Gandhi, Dalai Lama, Bunda Theresia, mereka adalah tokoh abad ini, mereka pembela kemanusiaan sejati tanpa pernah menjual agamanya dan tidak perlu berteriak bahwa agamanya yang terbaik, tapi berprilaku mencabik.

Statement Gus Dur yang saya suka, manakala seseorang takut dikatakan kafir, beliau dengan santainya mengatakan, ya syahadat saja lagi, dalem!

Indonesia adalah sebuah hamparan syurga dengan keunikan budaya. Punya Pancasila, punya Bhineka Tunggal Ika. Pertumbuhan agama karena tinggi toleransi.

Hindu adalah agama awal yang begitu toleran kepada agama susulan yang berkembang, salah satunya Islam dan kini menjadi mayoritas.

Tokoh di atas adalah perpanjangan tangan para Nabi dengan cara dan berkeyakinan yang berbeda dalam hal menuju Tuhannya. Tapi mereka kuat berkomitmen untuk urusan kemanusiaan, bukan melulu eker-ekeran.

Orang yang mudah tersinggung sudah dikatakan adalah orang yang melawan kebenaran. Manusia jenis ini adalah manusia bebal yang tidak bisa melihat keragaman yang di hadirkan Tuhan. Penciptaannya adalah ayat-ayat kauniah yang harusnya dipahami, bukan malah dipaksa seragam.

Melihat jazirah Arab yg beragama seragam terus bergejolak dan melalaikan urusan kemanusiaan, jutaan anak di Yaman kelaparan, tetangga kayanya malah mengirim amunisi ikut membantai nyawa saudaranya. Terus mau bicara agama dan kebenaran di ranah kebiadaban kemanusiaan itu, bullshit.

Indonesia adalah halaman syurga yang harus di jaga dengan keaneka ragaman yang sudah ada sejak ribuan tahun sebelumnya. Jadi tidak semestinya ada yang merasa dominan dan mempunyai hak veto atas Tuhan, serta memonopoli jalan menuju Tuhan.

Ada hal yang menarik dari uraian Prof. Qurasy Shihab. Bahwa agama adalah hidangan dari nampan Tuhan. Silakan pilih, karena sudah dihidangkan dari yang punya jagat raya. Jalankan baik-baik tak usah melirik dengan mimik syirik, karena pilihan hrs di pertanggung jawabkan bukan di pamer²kan bahwa pilihannya yg terbaik.

Prof. Quraisy menambahkan, bila jalan menuju Tuhan adalah 10, maka biarkan orang menentukan angka bilangannya. Anda pakai 9+1 silakan, 8+2 Monggo, 7+3 lanjut, 6+4 sikat, 5+5 teruskan. Yang penting 10.

Pemahaman dasar seperti ini adalah pemahaman manusia sejati yang tidak mengartikan dirinya sebagai sebuah kebenaran.

Jadilah padi di tengah rerumputan, tak perlu teriak bahwa anda padi, toh orang akan bisa membedakan mana padi mana rumput.

Wong sampean itu rumput kok ngaku padi, ya saiya geli...

Selamat pagi.

***