Kritik Pedas Dunia Pendidikan

Perintah Allah pertama kali adalah "bacalah" yang sarat dengan makna keilmuan. Sayangnya hanya diartikan secara harfiyah alias hafalan.

Rabu, 24 November 2021 | 15:23 WIB
0
9
Kritik Pedas Dunia Pendidikan
Ilustrasi pendidikan siswa sekolah (Foto: salamadian.com)

"Pak, gimana ya caranya agar anak saya lancar ngaji?" tanya seorang ibu tadi malam.
"Emang ada apa dengan ngaji, Bu?" tanya lelaki itu.
"Saya mau menyekolahkan anak saya ke sekolah Islam terpadu. Syaratnya harus lancar ngaji. Ini brosur syaratnya" jawab ibu itu sambil menunjukkan selembar brosur PPDB.
"Bu, kita menyekolahkan anak agar pintar. Kalau anak sudah pintar, apa gunanya sekolah? Terus gurunya suruh ngapain?" seloroh lelaki itu sambil tersenyum.

Video di bawah ini diambil di Jepang. Bagaimana pemerintah dan masyarakat bahu-membahu memberikan pendidikan terbaik bagi generasi. Dimulai dari penanaman karakter cinta budaya sendiri, kemandirian, dan kompetisi. Hasilnya, Jepang bisa menguasai dunia meskipun negaranya pernah luluh lantak akibat bom nuklir. Pendidikan menjadi prioritas utama menuju negara yang berjaya.

Secara kasat mata, kualitas pendidikan kita ada kecenderungan menurun. Bahkan, bisa terjun bebas bila tidak diantisipasi sejak sekarang. Dalam beragam kompetisi di tingkat regional dan internasional, anak-anak kita jauh ketinggalan dibandingkan dengan negara-negara lain. Tidak hanya muridnya, kualitas gurunya pun cenderung turun. Sangat sedikit torehan prestasi yang bisa mengharumkan bangsa.

Mari kita ambil cermin, termasuk saya. Ada apa dengan dunia pendidikan hingga berjalan mundur? Mengapa sangat jarang ada berita dunia pendidikan yang mampu bikin decak kagum? Dimana bagian yang harus diubah?

Dalam pengamatan saya, kurikulum yang berlaku saat ini kurang menantang. Kurang menggigit hingga mampu merangsang guru dan siswa untuk berani bereksperimen. Meneliti atau riset. Budaya pendidikan kita saat ini baru sebatas ATM alias amati, tiru, dan modifikasi. Sangat sedikit, bahkan mungkin tidak ada penemuan baru yang berhasil dilakukan.

Pada lembaga tertentu, justru budaya CALISTUNG yang menjadi dasar budaya riset atau penelitian berubah. Diganti dengan kurikulum internal yang jauh dari budaya ilmiah. Begitu dominannya kurikulum mulok atau muatan lokal itu hingga mengorbankan esensi tujuan pendidikan.

Jika mau jujur, kurikulum kita sarat alias penuh dengan pendidikan karakter. Mosok perilaku diukur dengan huruf dan angka di rapot. Bukankah karakter itu perbuatan sehari-hari? Ini kok semuanya hanya dijadikan tulisan di atas kertas. Tidak ada implementasi di lapangan. Maka sangat wajar tawuran masih terjadi dimana-mana. Perilaku pelajar zaman now jangan ditanya lagi. Manipulasi nilai rapot jadi budaya. Ambyar....

Merosotnya kualitas pendidikan akhirnya menyentuh perguruan tinggi. Ada iming-iming bonus skor atau kemudahan bila hafal kitab suci, sedangkan itu perguruan tinggi umum. Bukannya iming-iming kemudahan karena pernah berhasil meraih medali kompetisi. Iming-iming akhirnya jadi trend di sekolah. Para murid bukannya didorong agar rajin melakukan riset, penelitian, kompetisi. Justru para murid diajak berlomba-lomba menghafal kitab suci. Ini lembaga pendidikan formal atau pesantren....

Saya pernah baca artikel. Lupa siapa penulisnya. Tapi isinya kira-kira begini. Jika budaya riset hilang dari dunia pendidikan, jangan heran bangsa kita akan dijajah negara-negara maju. Setiap hari bukannya anak diwajibkan setor rangkuman isi buku yang dibacanya, melainkan malah setor hafalan kitab sucinya.

Pada saat kita begitu bersemangat belajar agama hingga melupakan belajar bertahan hidup, sebenarnya kita justru sedang melanggar perintah agama itu sendiri. Perintah Allah pertama kali adalah "bacalah" yang sarat dengan makna keilmuan. Sayangnya hanya diartikan secara harfiyah alias hafalan.

Jauh sebelum peradaban manusia berkembang seperti zaman sekarang, Nabi Muhammad sudah pernah mengingatkan umatnya, "Berpikirlah untuk duniamu seakan kamu akan hidup selamanya. Namun, berpikirlah pula untuk akhiratmu seakan-akan kamu besok mati."

Ini adalah pesan keseimbangan. Dunia dan akhirat itu harus dijalani bersamaan. Allah menyukai hamba-Nya yang kuat (ilmu, harta, dan fisik). Tidak boleh ada kesenjangan di antara keduanya. Karena itulah, Allah berfirman, sebaik-baiknya manusia adalah mereka yang bisa memberikan manfaat sebanyak-banyaknya bagi sebanyak-banyaknya sesama manusia.

Johan Wahyudi

***