Covid-19, Zero Tolerance

Mengapa kita tidak bisa menerapkan prinsip zero tolerance yang sama, untuk orang yang sakit atau meninggal?

Jumat, 15 Mei 2020 | 12:18 WIB
0
210
Covid-19, Zero Tolerance
Anak menggunakan masker (Foto: xinhuanet.com)

Banyak korban virus corona awalnya gara-gara kecolongan.

Ada orang sakit. Keluarga dan tetangga tahu dia sakit jantung. Ada gejala itu selama ini, dan sebelumnya memang pernah kumat.

Lalu dibawa ke RS. Mingkin dokter curiga, jangan-jangan dipicu corona. Karena itu dilakukan tes swab.

Hasil swab belum keluar, korban keburu meninggal. Sampai rumah, tetangga semua melayat. Sesuai keyakinan, juga didoakan bersama selama 7 hari.

Belakangan, hasil swab baru keluar. Ternyata dia positif corona. Gegerlah keluarga dan para tetangga.

Coba hitung, berapa banyak orang yang kecolongan karena satu orang yang meninggal itu?

Ada yang lain lagi. Orang kecelakaan. Perlu operasi kepala, akibat perdarahan. Mulutnya meracau. Di IGD meludah ke sana-sini.

Penanganan oleh tim medis, seperti kasus kecelakaan pada umumnya. Tanpa APD. Karena memang tidak ada kecurigaan kena corona. Bagaimana mikir curiga, korban perlu tindakan segera.

Setelah operasi, beberapa hari berselang, baru ketahuan ternyata dia positif corona. Data hasil tes corona disampaikan RS lain.

Coba hitung, berapa banyak tenaga medis, pegawai RS dan pasien lain yang kecolongan?

Semua boleh menambahkan cerita dari daerah masing-masing. Saya yakin banyak.

Zero Tolerance

Dengan berbagai contoh di atas, sudah selayaknya kita harus menerapkan standar penanganan dengan prinsip zero tolerance kepada setiap pasien yang datang ke RS, maupun terhadap orang yang meninggal.

Nggak peduli orang itu sakit atau meninggal karena corona atau tidak, bila dia sakit/meninggal pada masa pandemi virus corona ini, perlakukan layaknya kena corona.

Perlakuan yang sama tidak saja oleh tenaga medis, tapi juga oleh saudara, teman dekat, maupun tetangga.

Kita nggak pernah tahu, dia positif corona atau tidak. Pembawa virus corona atau tidak.

Bagi tetangga. Menjenguk orang sakit atau melayat orang meninggal dan menghibur keluarga, adalah tindakan mulia.

Tapi virus corona tidak mengenal apakah calon korbannya berhati mulia atau tidak. Semua dia sikat.

Karena itu, langkah zero tolerance-nya adalah tidak boleh mendekat. Tidak boleh mendekat, bukan berarti membenci.

Juga jangan dikucilkan, karena mereka juga korban. Ini bukan aib. Tidak perlu ada yang disembunyikan oleh keluarga.

Mungkin cara ini tampak kejam. Nggak punya hati. Tapi kejam sedikit tidak apa-apa, demi kebaikan semua.

Kalau kita sekarang bisa memperlakukan langkah-langkah zero tolerance kepada orang yang hidup, yang baru pulang dari rantau, agar mengisolasi diri selama 14 hari.

Mengapa kita tidak bisa menerapkan prinsip zero tolerance yang sama, untuk orang yang sakit atau meninggal?

Salam sehat, waras, lawan corona.

***