Sebaiknya Inggit Ganarsih Otomatis Jadi Pahlawan Nasional

Inggit tidak hanya menyertai Bung Karno di Sukamiskin. Tetapi ketika Bung Karno dibuang ke Ende selama empat tahun (1934-1938) dan ke Bengkulu, juga selama empat tahun (1938-1942).

Kamis, 5 September 2019 | 07:07 WIB
0
230
Sebaiknya Inggit Ganarsih Otomatis Jadi Pahlawan Nasional
Ibu Inggit dan Pak Karno (Foto: Kompasiana.com)

Siapa yang tidak mengenal Inggit Ganarsih ? Bangsa Indonesia sudah tentu membaca perjuangan pemuda Soekarno ketika belum menjadi Presiden pertama dan Proklamator bangsa Indonesia pada 17 Agustus 1945. 

Iya, Inggit Ganarsih, isteri kedua Soekarno, banyak jasanya kepada Soekarno. Sekaligus berarti Soekarno tidak bisa dilepaskan dari lahirnya Negara Republik Indonesia.

Pemuda Soekarno hingga mencapai titel insinyurnya yang sekarang bernama Institut Teknologi Bandung (ITB) itu tidak bisa lepas dari kehadiran Inggit Ganarsih sebagai seorang istri. 

"Semangat," dan "rasa optimis," itulah yang sangat dibutuhkan pemuda Soekarno, di saat-saat ia dikelilingi berbagai cobaan hidup ketika menimba ilmu di kota Bandung, Jawa Barat.

Tentang Inggit Ganarsih ini muncul lagi dipikiran saya, ketika menerima undangan diskusi interaktif Inggit Ganarsih " Peremuan Tak Sudi Dimadu." Benar Inggit Ganarsih ketika Soekarno menyatakan ingin menikah lagi demi dengan Fatmawati demi memperoleh keturunan dari darah dagingnya sendiri, maka Inggit minta kepada Soekarno agar dipulangkan ke rumah di mana dinikahkan. Sulit kiranya membujuk Inggit, akhirnya Soekarno memulangkan istri yang sangat berjasa kepada kesusksesan Bung Karno. 

Rumah di Jalan Pegangsaan Timur 56 Jakarta, adalah rumah yang ditempati Inggit Ganarsih sebagai istri Soekarno. Juga sekaligus rumah yang harus ditinggalkan Inggit sebelum dibacakannya Proklamasi Kemerdekaan yang diucapkan Bung Karno pada 17 Agustus 1945. 

Rumah ini juga merupakan saksi sejarah tempat tempat Fatmawati tinggal pertama kali sebaga istri Bung Karno. Tetapi rumah ini kemudian disuruh runtuhkan oleh Presiden Soekarno. Kenapa harus diruntuhkan ? Hingga hari ini kita tidak tahu, apa sebabnya Bung Karno memerintahkan untuk menghancurkannya.

Setelah menikah Inggit dan Soekarno membeli sebuah rumah di Jalan Ciateul Bandung yang kini dikenal dengan nama Jalan Inggit Garnasih. Sampai saat ini, rumah Inggit masih berdiri kokoh, namun telah beralih fungsi menjadi museum rumah bersejarah Inggit Garnasih.

Di dalam rumah Inggit sendiri saat ini dapat ditemukan dokumentasi foto-foto  Inggit bersama Soekarno serta keluarga Inggit. Selain itu,  terdapat replika batu pipisan yang digunakan Inggit untuk membuat jamu dan bedak. Dari hasil jerih payah ini, Inggit mampu membantu kebutuhan dana untuk Soekarno.

Di dalam buku: "Kuantar ke Gerbang" (Jakarta: Pustaka Sinar Harapan, 1988), penulis buku Ramadhan KH di halaman 201, Ibu Inggit mengatakan: "Aku telah menjual segala milikku yang masih ada, antaranya rumah keluarga dari pihak ibuku...karena kami kapan bisa kembali ke Bandung."

Memang selama 20 tahun,  Inggit dan Soekarno hidup bersama, namun akhirnya harus berpisah. Setelah berpisah Inggit menghabiskan sisa hidupnya di Bandung. Perpisahan itu terjadi ketika usia Ibu Inggit 50 tahun.

Setelah berpisah dengan Soekarno, Ibu Inggit tidak pernah bertemu dengan Soekarno sampai pada akhirnya pada tahun 1960 Ibu Inggit bertemu.

Berdasarkan catatan sejarah, mengatakan saat Inggit bertemu Soekarno, ia hanya berkata "Kus, baju teh meni sae. Kahade kus ieu baju teh ti rakyat, ulah mapohokeun saha nu merena". Jika Soekarno paham dengan artinya, karena ia lama menetap di Bandung.

Kalimat bebahasa Sunda yang dilontarkan Ibu Inggit tersebut memiliki arti "Kus (Soekarno), bajunya bagus sekali. Awas kus baju ini dari rakyat, jangan melupakan siapa yang memberinya". Kus itu kependekan dari nama panggilan Soekarno. Kus itu nama kecil Soekarno dari Kusno.

Hidup Soekarno memang penuh perjuangan. Ia pernah ditahan penjajah Belanda di Sukamiskin, Bandung. Ini pula yang menjadi saksi dari kisah perjuangan presiden pertama RI, Ir Soekarno, dan mantan istrinya, Inggit Garnasih.

Bung Karno pernah menjalani hukuman sejak 9 Desember 1930 hingga 31 Desember 1931. Sepertinya  tembok penjara ternyata tak mampu mematikan komunikasi di antara Bung Karno, sapaan Soekarno, dan Inggit Garnasih.

Bung Karno mempunyai siasat untuk mendapatkan informasi dari luar penjara. Ketika itu, Bung Karno dibolehkan oleh pihak penjara Hindia Belanda untuk menerima kiriman makanan, antara lain berupa telur yang dibawa oleh istrinya, Inggit Garnasih.

Telur itulah yang menjadi alat komunikasi untuk mengabarkan keadaan di luar penjara Sukamiskin. Jika Inggit Garnasih mengirim telur asin, Soekarno tahu ada kabar buruk di luar penjara. Biasanya, kabar buruk yang menimpa rekan-rekan seperjuangan Bung Karno.

Sejak Indonesia merdeka, sel tahanan bernomor TA 01 di Lapas Sukamiskin sengaja dikosongkan untuk mengenang perjuangan Bung Karno. Lapas Sukamiskin ada di Jalan A H Nasution No.114, Cisaranten Bina Harapan, Arcamanik, Kota Bandung.

Inggit tidak hanya menyertai Bung Karno di Sukamiskin. Tetapi ketika Bung Karno dibuang ke Ende selama empat tahun (1934-1938) dan ke Bengkulu, juga selama empat tahun (1938-1942), Ketika di Bengkulu inilah muncul kerenggangan antara Soekarno dan Inggit. Rasa cemburu kepada Soekarno, sang suami mulai muncul ketika Fatmawati yang ketika itu menjadi teman anak angkat Bung Karno, hadir juga di sana.

Sebaliknya Bung Karno juga berterus terang ingin meniliki keturunan, karena Inggit dianggap tidak mampu melahirkan anak. Itu juga terjadi ketika Inggit menikah dengan suaminya pertama dan kedua. Soekarno adalah suami Ibu Inggit ketiga.

Bung Karno bersikeras ingin menikah lagi agar memiliki keturunan. Waktu itu sudah tahun 1943, dan Ibu Inggit memilih berpisah dari pada dimadu. Bung Karno lalu memulangkan Inggit.

Pertemuan Inggit-Soekarno tahun 1960,  juga pertemuan terakhir mereka, karena Bung Karno meninggal dunia lebih dahulu, yaitu pada usia 69 tahun, tanggal 21 Juni 1970. Sedangkan Ibu Inggit, meninggal dunia di usia 96 tahun, 13 April 1984.  

Ketika Bung Karno meninggal dunia, Inggit hadir. Hanya Allah SWT yang tahu apa yang terbesit di hati Inggit ketika tubuh mantan suaminya terbaring kaku di hadapannya. Yang jelas air mata itu menetes di pelupuk mata mantan isterinya itu.

Ibu Inggit tidak sampai menemani Bung Karno ketika menjadi Presiden RI. Benar sekali judul buku Ramadhan KH, Ibu Inggit hanya mengantar Bung Karno di Gerbang. Ia tidak masuk ke dalam. Hanya sebatas di gerbang kemerdekaan. Tahun 2019 ini  kita berharap agar Inggit Ganarsih ditetapkan Pemerintah RI sebagai Pahlawan Nasional. 

Harus ada penetapan istimewa dari pemerintah. Sama halnya dengan penetapan Jenderal TNI (Anm) Basoeki Rachmat. Ia diberi gelar Pahlawan Nasional oleh Presiden Soeharto, pas ketika ia meninggal dunia. 

Memang gelar Pahlawan Nasional itu ditentukan oleh waktu dan tempat. Oleh karena itu di masa pemerintahan Presiden Jokowi, gelar Pahlawan Nasional sangat tepat diberikan kepada Inggit Ganarsih.

***

Keterangan: Tulisan sudah ditayangkan sebelumnya di Kompasiana.