Ketika Nalar Redup, Apa Harga yang Harus Dibayar?

Kita harus menunjukkan keberanian sipil untuk bernalar kritis dan sehat, terutama di dalam politik, ekonomi dan agama. Kita harus berani menekan pemerintah untuk memilih para pejabat pendidikan yang tercerahkan.

Jumat, 20 Agustus 2021 | 17:39 WIB
0
73
Ketika Nalar Redup, Apa Harga yang Harus Dibayar?
Lorong (Foto: beritagar.id)

Manusia adalah mahluk yang mampu bernalar. Ini semua terjadi, berkat evolusi jutaan tahun yang mengembangkan struktur otaknya. Bagian otak terbaru, yakni Prefrontal Cortex, hadir untuk memberikan kemampun bernalar bagi manusia. Dengan ini, manusia mampu melakukan analisis keadaan, mempertimbangkan secara rasional dan membuat keputusan yang sesuai dengan kebutuhan.

 

Dengan kemampuan ini pula, manusia mampu bertahan hidup. Fisik manusia lemah dibandingkan dengan mahluk lain. Alam cenderung kejam pada yang lemah. Namun, dengan daya nalarnya, dan kemampuannya bekerja sama, manusia mampu bertahan hidup di tengah ganasnya alam.

Dengan nalar pula, manusia mampu mengembangkan kebudayaan. Karya sastra dan seni berkembang di berbagai penjuru dunia. Bangunan megah dan indah berdiri tegak menghiasi tanah dan gunung. Manusia pun menjadi mahluk yang dominan di muka bumi ini.

Sayangnya, karena dihabisi penjajahan selama ratusan tahun (dari mulai Belanda, Inggris, Jepang, Orde Baru sampai dengan Orde Oligarki), nalar sehat di Indonesia tak berkembang. Pendidikan justru membunuh nalar sehat dan sikap kritis. Indonesia hanya mampu menjadi bangsa pengikut yang patuh dan tak berpikir. Kemiskinan dan kebodohan meluas begitu cepat dan begitu dalam di Indonesia.

Apa Harga yang Harus Dibayar?

Ketika nalar redup, apa harga yang harus dibayar? Ada tujuh hal yang penting. Pertama, agama kematian tersebar luas di Indonesia. Agama kematian adalah agama pembunuh budaya, pencipta konflik dan penghancur yang lemah, terutama perempuan dan anak-anak. Agama kematian melestarikan kebodohan umatnya dengan ajaran-ajaran tak bernalar yang sesat dan ketinggalan jaman.

Dua, kebijakan negara tak tepat guna membangun rakyatnya. Pengaruh asing, terutama dari Timur Tengah, masuk melindas kearifan lokal. Ekonomi dikuasai segelintir orang yang rakus dan korup. Agama, dengan tawaran surga palsunya, menjadi tameng pembenaran bagi segala ketidakberesan yang ada.

Tiga, dengan berlalunya waktu, Indonesia pun semakin jorok dan miskin. Ibukota yang semakin hancur tenggelam oleh kerakusan dan kerusakan alam. Pulau Jawa yang semakin tenggelam dalam kekumuhan dan kemiskinan. Di tengah itu semua, segelintir orang mencuri harta, dan menjadi kaya di tengah kemiskinan ratusan juta orang.

Empat, bangsa yang nalarnya redup gagap di hadapan krisis. Padahal, krisis adalah bagian dari politik nasional maupun global. Krisis, dari mulai krisis ekonomi, krisis lingkungan sampai dengan pandemi, selalu menghantam begitu keras, dan menciptakan begitu banyak korban.

Bangsa dengan nalar redup, seperti Indonesia, akan terus digoyang dengan keras oleh krisis, sampai bangsa itu hancur lebur.

Lima, di dalam hantaman krisis tanpa henti, nostalgia pun lalu lahir. Masa lalu tampak lebih indah. Bangsa dengan nalar redup akan mengagungkan masa lalu, sambil lupa membangun masa kini, maupun masa depan. Ajakan untuk berpikir dan berpakaian seperti orang ketinggalan jaman pun menguat.

Enam, dengan redupnya nalar, demokrasi pun menjadi cacat. Pemimpin-pemimpin yang terpilih cenderung korup dan dangkal. Mereka hanya mementingkan pencitraan palsu dan penampilan luar belaka. Pasang spanduk lebih dipentingkan daripada prestasi kerja yang nyata untuk membangun bangsa.

Tujuh, redupnya nalar akan menghancurkan bangsa. Kita sudah melihat berbagai contoh di negara-negara Timur Tengah. Politik, agama dan ekonomi dikelola dengan nalar yang redup. Sampai detik ini, Timur Tengah terus dilanda konflik berdarah yang tak berkesudahan.

Mengapa Nalar Redup?

Ada tiga sebab mendasar. Pertama, nalar sebuah bangsa redup, karena rakyatnya pengecut untuk berpikir kritis. Mereka diperbudak oleh tradisi dan agama yang membunuh keindahan, dan merusak tata hidup bersama. Sikap pengecut untuk berpikir kritis akan menyebarkan agama kematian yang merusak rajutan tata hidup bersama.

Baca Juga: Matinya Nalar

Dua, redupnya nalar jelas adalah buah dari rendahnya mutu pendidikan. Mutu pendidikan di Indonesia amat sangat rendah. Para pejabatnya tak paham pendidikan, dan terus membuat kebijakan yang merusak. Alhasil, pendidikan di Indonesia dihabisi radikalisme agama yang memperbodoh dan mempermiskin bangsa.

Tiga, bangsa kita miskin keteladanan dari masyarakat. Tidak ada contoh negarawan ataupun tokoh masyarakat yang baik. Sebagian besar rakus, dangkal dan terjebak pada radikalisme agama. Pribadi-pribadi yang berpikiran maju dan kritis cenderung terpinggirkan.

Tiga hal ini bukanlah hal mutlak. Ia sudah lama menjadi penyakit bangsa Indonesia. Para pemimpin yang terpilih tampak tak peduli pada hal ini. Sudah saatnya ini berhenti disini.

Kita harus menunjukkan keberanian sipil untuk bernalar kritis dan sehat, terutama di dalam politik, ekonomi dan agama. Kita harus berani menekan pemerintah untuk memilih para pejabat pendidikan yang tercerahkan. Kita juga harus berani melakukan kontrol sosial terhadap para pemimpin yang korup dan tersentuh radikalisme agama. Sudah terlalu lama bangsa ini tenggelam dalam redupnya nalar sehat. Ayo bangun!

Reza A.A Wattimena

***