Kursi Nadiem Jadi Incaran

Lepas dari kepentingan sesaat. Kita butuh jawaban cepat untuk masa depan yang semakin mendekat.

Jumat, 16 April 2021 | 10:30 WIB
0
220
Kursi Nadiem Jadi Incaran
Nadiem Makarim (Foto: ayojakarta.com))

Isu resufle kabinet bergulir. Mulanya ketika Presiden membuat nomenklatur baru. Kementerian Riset dan Pendidikan Tinggi dilebur dalam Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan. 

Bambang Brojonegoro sebagai Menristek Dikti sendiri sudah pamitan ke DPR. 

Ada lagi rencana lain. Jokowi ingin membentuk Kementerian Investasi. Entahlah, apakah fungsinya nanti akan menggantikan BKPM atau keduanya tetap berjalan. 

Yang pasti karena perubahan itu orang buru-buru berteriak soal pergantian kabinet atau resufle. Salah satu kursi yang diincar adalah Menteri Pendidikan dan Kebudayaan. Kursi Nadiem jadi sorotan banyak pihak. 

Emang, biasanya kursi Mendikbud jatah orang Muhamadiyah. Nah, periode kedua Jokowi posisi itu diberikan kepada seorang profesional murni. Seorang pengusaha yang akrab dengan dunia digital. Seorang yang memahami kebutuhan masa depan. 

Nadiem menggebrak. Sebetulnya banyak revolusi yang dilakukan dalam dunia pendidikan. Tapi Nadiem sadar. Ia gak punya back up politik. Ia bekerja dalam senyap. Meski yang dilakukan mengubah akar masalah. 

Saya pernah beberapa kali diskusi langsung dengan Nadiem. Ia berkisah, soal carut marutnya dunia pendidikan kita. Dengan konsep pendidikan yang tidak jelas arahnya, ia sangat khawatir masa depan negeri ini. 

Persoalan administrasi sering membebani guru. Belum lagi soal-soal teknis politis. Bukan apa-apa. Secara kelembagaan sekolah tingkat SMP berada di bawah Kabupaten/Kota. Sementara SMU di bawah Pemda Propinsi. 

Nah, masalahnya politik daerah sering mengombang-ambingkan kebijakan pendidikan level lokal. Misalnya kebijakan yang akhirnya memaksa sekolah untuk ikut arah ideologi politik pengusaha daerah saat itu. Korbannya adalah anak didik. 

Belum lagi soal mafia yang selama ini mencengkram. Wajar sih. Konstitusi mengharuskan dana pendidikan kita mencapai 20% dari APBN. Sebagian besar tentu saja dikelola Mendikbud. Jadi wajar jika kursi Nadiem ini diincar banyak orang. 

Kehadiran Nadiem misalnya dianggap menutup dapur banyak pengusaha yang selama ini kaya raya dengan bermain proyek pendidikan. Ganti Menteri ganti buku pelajaran sudah menjadi rahasia umum. 

Di luar sekolah, pengusaha Bimbel yang kemarin pesta pora akibat kebijakan UN semuanya misuh-misuh. Kita tahulah. Berapa banyak keuntungan Bimbel dari kebijakan UN. Anak gak cukup cuma sekolah saja. Ortu harus keluarkan duit juga untuk biaya bimbel jika anaknya mau lulus. 

Nah, Nadiem datang menghapus UN. Pengusaha Bimbel ngambek. Nadiem dimusuhi. 

Sebab bagi pengusaha bimbel bukan soal anak menjadi cerdas tujuannya. Mereka mendirikan anak hanya sebatas mampu menjawab soal ujian. Kalau bisa membocorkan soal ke anak didik. 

Ujungnya, hasil PISA, sebuah nilai skoring kualitas pendidikan dunia, Indonesia ada di urutan terbawah. Anak-anak kita gagal berfikir kritis. Sekolah dan sistem pendidikan memproduksi mereka hanya untuk menjawab soal di atas kertas. Tetapi gagap menjawab probelamatika real kehidupan. 

Kemampuan matematika dasar dan logik babak belur. Pengetahuan umum minimal. Kemampuan berbahasa sami mawon. Akhirnya lulusan sekolah tidak ada yang memenuhi kebutuhan dunia industri. 

Bayangkan ketika dunia semakin terbuka. Persaingan kerja semakin ketat. Anak-anak kita bukan saja bersaing dengan sejawanya di Indonesia. Juga bersaing dengan anak-anak Singapur, Malaysia, India dan seluruh dunia. Globalisasi dan digitalisasi membuat dunia kerja membuka kesempatan kepada seluruh dunia. 

Padahal Indonesia sedang memasuki bonus demografi. Penduduk usia muda meruah. Jika pendidikan hanya sibuk mengajarkan anak-anak menjawab soal di atas kertas. Tapi gagal membangun mental kritis, cara berfikir logik, dan daya saing tinggi. Bonus demografi akan menjadi bencana bagi kita. 

Karena itu Nadiem membongkar itu semua. Ia seperti melakukan revolusi besar di dunia pendidikan. Sayangnya, orang dan kelompok yang terbiasa kenyang dari bisnis pendidikan terganggu dengan kebijakan ini. Nadiem menjadi musuh bersama. 

Apalagi Nadiem hanya profesional murni. Ia tidak punya back up politik. Posisinya rentan dihantam kanan-kiri. Kini kursinya diincar banyak orang. 

Tapi pendidikan adalah masa depan bangsa. Jika pendidikan kita dari tahun ke tahun jalan di tempat. Kita hanya akan jadi bangsa penonton. 

Sistem pendidikan kita perlu dirombak besar-besaran. Dan Nadiem sedang melakukan langkah itu. Sayang jika posisinya harus diambil alih politisi lagi. 

Yang ada kita malah sibuk meributkan pakaian sekolah anak. Ketimbang menumbuhkan pikiran kritis mereka.

Anak-anak kita adalah masa depan kita. Sistem pendidikan sebagai pabrik pengolahan bahan baku, harus sehat. Lepas dari kepentingan sesaat. Kita butuh jawaban cepat untuk masa depan yang semakin mendekat. 

Coba lihatlah Abu Kumkum. Ia pernah kuliah di Sekolah Tinggi Tinggi Sekali. Tapi jiwa wiraswastanya membawa dia jadi penjual minyak telon oplosan.

Coba dulu saat kuliah ia ikut pengajian. Mungkin sudah bisa buka praktek bekam sekarang. 

"Mas, aku dulu sempat masuk kedokteran. Tapi di-DO. Karena merusak tempat tidur rumah sakit," katanya. 

"Rusak kenapa, Kum?"

"Waktu praktek operasi, aku membedah terlalu dalam. Sampai tembus. Tempat tidurnya sampai ikut tersayat pisau operasi."

Eko Kuntadhi

***