Pecuniam Caeca Est

Masih tersangka dan masih ada pembuktian lain nanti di persidangan sampai ia terbukti bersalah, menjadi terdakwa dan selanjutnya terpidana KPK.

Minggu, 28 Februari 2021 | 08:26 WIB
0
210
Pecuniam Caeca Est
Nurdin Abdullah (Foto: CNN Indonesia)

Demikian pepatah lama mengatakan. Pepatah Latin yang artinya "uang itu buta". Dalam pengertian lain, uang itu tak bermata.

Orang tak bermata itu dinamakan buta yang maknanya dihaluskan menjadi tunanetra, sebuah upaya penghalusan yang lambat-laun memudarkan kata aslinya, bahkan seolah-olah kasar atau tidak senonoh menggunakan kata aslinya sebelum mengalami penghalusan.

Dulu ada film "Si Buta dari Gua Hantu" yang diangkat dari komik terkenal saat itu. Alangkah lucunya kalau film itu dihaluskan -karena menuruti kesopanan ketimuran, misalnya- menjadi "Pak Tunanetra dari Gua Hantu". Di sini "Si" mendapat penghalusan sehingga menjadi "Pak".

Dalam konteks bahasa Orde Baru, "maling" diperkeren (bukan lagi diperhalus) menjadi "koruptor", "harga naik" menjadi "disesuaikan", "dipecat" menjadi "dirumahkan" dan seterusnya.

Dan, tulisan ringan ini bukan sedang membicarakan kebahasaan atau ilmu bahasa, melainkan uang yang tak bermata itu. Uang itu buta.

Karena buta, secara harafiah ia bisa mengenai siapa saja. Orang buta itu meraba-raba. Dengan tangan atau tongkatnya. Tangan dan tongkat mewakili matanya. Tetapi mata di sini kiasan semata, yang sejatinya tidak bisa melihat apa-apa. Apa saja bisa teraba.

Makna lebih dalam lagi adalah, orang bisa buta mata karena uang. Selain buta mata, buta hati dan buta pikiran juga. Uang membutakan mata, hati dan pikiran.

Itulah yang terjadi dengan Profesor Nurdin Abdullah yang pada Pilkada lalu sukses menjadi Gubernur Suawesi Selatan. Ia mendadak buta mata, buta hati sekaligus buta pikiran.

Sebelum menjadi gubernur, Nurdin Abdullah adalah Bupati Bantaeng, sebuah kabupaten di Sulawesi Selatan, yang tiba-tiba menjadi perbincangan nasional, bahkan dunia barangkali. Itu berkat tangan seorang Nurdin Abdullah saat menjabat sebagai bupati.

Bantaeng menjadi "beyond" untuk kabupaten yang tidak sekadar berada di Sulawesi Selatan, tetapi kabupaten-kabupaten lainnya di negeri ini. Nurdin adalah teladan bagaimana keilmuan yang tinggi mampu menyulap sebuah kabupaten kumuh menjadi kabupaten yang bersinar terang. Ia punya konsep dan konsep itulah yang ia implementasikan dengan baik.

Itu sebabnya, saat masih mengelola Kompasiana dan rutin menyelenggarakan Kompasianival, saya mengundang bupati paling moncer itu di acara Kompasianival di Mal Gandaria City untuk berbagi kiat suksesnya berpemerintahan dan mengelola sebuah kabupaten.

Namanya juga profesor, alur bicaranya sangat logis, naratif, dan mudah dicerna. Meski seorang profesor, ia tidak menggunakan bahasa tinggi, melainkan bahasa yang biasa digunakan para blogger sebagia khalayaknya saat itu, yaitu bahasa tutur.

Pun saat berada di ruang tunggu sebelum "manggung", saya terkesan dengan kesantunannya saat ia berbicara. Sebagai orang yang pernah tugas di Makassar selama tiga tahun, saya menjadi "nyambung" begitu saja dengan Nurdin, bicara apapun.

Di atas panggung penuturannya demikian memikat, seolah-olah sukses sebuah kabupaten tergambar dari hulu sampai hilir hanya dengan mendengarkannya saja. Saat itu saya berpandangan, orang ini, ya Nurdin Abdullah, akan menjadi "seseorang" kelak di kemudian hari; gubernur, menteri, atau bahkan wakil presiden.

Untuk menjadi presiden saya tidak berani meramal karena adanya anggapan di luar konstitusi bahwa Presiden RI harus suku Jawa dan Muslim. Konstitusi yang tidak salah, orang-orang tertentulah yang sengaja keliru menafsirkannya!

Baca Juga: Akhir Tragis Karir Sang Profesor

Kemarin, saya mendapat tangkapan layar di grup WA yang mengabarkan Nurdin Abdullah, sang profesor yang sedang saya bicarakan ini, tertangkap tangan oleh KPK dengan bukti-bukti berupa uang suap yang sulit dielakkan.

Masih tersangka dan masih ada pembuktian lain nanti di persidangan sampai ia terbukti bersalah, menjadi terdakwa dan selanjutnya terpidana KPK.

Tulisan ringan ini sekadar ingin mengatakan, jangan menutup mata terhadap peristiwa ini, jangan pula membutakan diri. Ini realitas kehidupan. Jangan sampai kamu terserempet uang, sebab uang tidak salah menyerempetmu.

Matamu yang harus terbuka karena uang memang buta.

***