Penyangkalan

Sayang sekali, memang ada orang-orang yang cuma tahu baca kitab suci, tapi lagaknya macam orang yang paling tahu semua permasalahan di dunia.

Jumat, 16 April 2021 | 10:16 WIB
0
116
Penyangkalan
Ilustrasi penyangkalan (Foto: losspreventionmedia.com)

Penyangkalan adalah mekanisme pertahanan diri manusia dari situasi yang tidak menyenangkan. Misalnya ketika kehilangan orang yang dikasihi. Namun kadang-kadang manusia juga menyangkal fakta di depan mata, ketika hal itu bertentangan dengan sesuatu yang diyakininya.

Lebih–lebih bila hal ini terkait dengan agama atau institusi agama. Di tengah masyarakat Indonesia, agama (dan institusinya, bahkan pemuka–pemukanya) sering dipandang sempurna. 

Beberapa hari lalu, di timeline saya ada postingan mengkritisi perilaku pendeta yang kurang terpuji, yang pada akhirnya membuat beberapa umat Kristen tidak lagi bersedia ke gereja. Bahkan mungkin tidak lagi practicing religion.

Bagi saya, sebetulnya postingan ini tidak hanya berlaku bagi pendeta. Semua orang yang berani declare bahwa dirinya adalah pengikut Kristus, perilakunya harus dijaga. Karena orang lain, baik saudara seiman maupun orang beragama lain bisa saja mengaitkan perilaku kita dengan “label” sebagai pengikut Kristus tadi.

Saya pernah ditegur teman, karena perilaku saya tidak sesuai dengan teladan Kristus, yang sering saya ceritakan. Lebih–lebih seorang pendeta, penilaian perilaku ini akan lebih berat.

Fakta yang kadang terjadi, perilaku orang Kristen dan pendeta yang kurang terpuji betul–betul membuat orang jadi kapok beragama Kristen.

Contoh kecil, teman–teman saya dari Amerika Selatan dan Eropa bercerita bahwa kasus–kasus pelecehan seksual terhadap anak–anak di gereja membuat mereka tidak lagi berminat memeluk agama. Ada di antara teman saya yang mengalaminya juga. Ini fakta! 

Yang lucu adalah ketika ada orang yang ngamuk ngotot bahwa sangat tidak mungkin orang Kristen meninggalkan Yesus hanya gara–gara kelakuan pendeta. Argumennya, karena mengikut Kristus tidak boleh dengan memandang perilaku manusia.

Hmm, saya juga diajari begitu. Tapi itu kan kondisi ideal. Sementara fakta di lapangan sering jauh dari ideal.

Idealnya, jadi Kristen memang harus fokus pada Yesus, bukan pada manusia, supaya tidak kecewa. Tapi faktanya, ada yang sudah beriman pada Yesus tapi jadi kecewa karena perilaku pengikutNYA. Saya juga ingat kisah Mahatma Gandhi soal ini. 

Jadi poinnya itu, perilaku kita yang tidak terpuji bisa membuat orang jadi males mengikut Kristus. Makanya diingatkan untuk tidak jadi batu sandungan bagi orang lain.

Namun, yang namanya netizen +62, apalagi ngomongin agama, jadinya sering lepas control. Pokoknya menyangkal total sampai TUHAN datang. Tidak mau menerima fakta, bahwa perilaku pengikut Kristus bisa jadi penghalang bagi orang lain.

Tidak lupa penyangkalan dibumbui dengan sumpah serapah dan caci maki yang tiada duanya. Masih ditambah, menghardik orang yang tidak sependapat dengannya untuk DIAM!

Luar biasa… betul-betul typical fanatik agama. Mestinya fakta adalah fakta, tidak perlu disangkal-sangkal dengan menuduh ini itu terhadap orang yang tidak lagi mau practicing religion

Perilaku tersebut juga contoh sempurna perbedaan kondisi ideal dengan kenyataan. Idealnya, seorang yang merasa dirinya pengikut Kristus dan mengenalNYA, tutur katanya harus lemah lembut meskipun tegas. Tapi faktanya, ada yang mengaku dirinya pengikut Kristus tapi mulutnya luar biasa jahat.

Idealnya, pengikut Kristus mendapatkan kepuasan hidup dari pengenalannya akan Kristus. Tapi faktanya, ada yang mendapatkan kepuasan batin dengan mencaci maki dan menggoblok–goblokkan orang lain.

Sayang sekali, memang ada orang-orang yang cuma tahu baca kitab suci, tapi lagaknya macam orang yang paling tahu semua permasalahan di dunia. 

***

Ketidak sempurnaan institusi agama dan orang – orang di dalamnya itu FAKTA. Bukan hal yang perlu disangkal. Lebih – lebih dengan cara yang malah menunjukkan bukti ketidak sempurnaan itu.