Buku "Buat Apa Beragama" [1] Menyeret-nyeret Tuhan

Tidak etis menyeret-nyeret serta melibatkan Tuhan dalam palagan perebutan kekuasaan. Tuhan ada di tempat semestinya Dia berada, di hati dan pikiran masing-masing makhluk-Nya, manusia.

Kamis, 19 November 2020 | 23:35 WIB
0
56
Buku "Buat Apa Beragama" [1] Menyeret-nyeret Tuhan
Buku karya Abdillah Toha (Foto: Dok. pribadi)

"Cara melibatkan Tuhan yang benar adalah dengan selalu memohon petunjuk-Nya dan memohon ampun atas segala kealpaan manusia yang lemah dan sembrono ini."

Demikian kutipan yang termaktub dalam buku "Buat Apa Beragama" halaman 417 karya Abdillah Toha dengan sub-bahasan "Melibatkan Tuhan", buku yang hampir selesai saya baca. "Melibatkan Tuhan" ada pada Bagian V yang membahas Agama dan Kekuasaan.

Tulisan dibuka dengan kalimat begini, "Ketika Amerika Serikat menginvasi Irak, Presiden Bush mengatakan, 'Tuhan bersama kita.' Begitu pula Saddam Hussein menyampaikan hal yang sama. Di ujung invasi ternyata tuhannya Bush tampaknya yang menang, meski akhirnya Irak hancur berantakan dan tujuan invasi Amerika Serikat tidak sepenuhnya tercapai".

Abdillah Toha meneruskan, "Peristiwa tersebut juga menunjukkan seakan-akan Tuhan itu banyak. Seakan-akan Tuhan kita dan Tuhan mereka sedang bersaing. Padahal, Tuhan kita dan Tuhan mereka hanya satu dan sama, tetapi perwujudannya di benak manusia berbeda-beda karena perbedaan agama dan penafsiran.

Dalam pandangan saya pribadi, pendapat Abdillah Toha yang tertuang dalam buku setebal 454 halaman terbitan Mizan ini masih sangat relevan. Bukan hanya konteks saat ini, tetapi pada masa lalu dan masa mendatang. Di Pilkada sekarang ini, kembali Tuhan dibawa-bawa.

Tuhan kerap dilibatkan dalam segala urusan yang ujung-ujungnya kekuasaan duniawi, dibungkus dengan berbagai macam dalih, bahkan tidak masuk akal sekalipun. Istilah saya sendiri, Tuhan diseret-seret pada persoalan perebutan pengaruh dan kekuasaan manusia semata.

Masih ingat seorang politikus yang secara sadar membuat narasi dikotomis antara "Partai Allah" dengan "Partai Setan", bukan? Ia menyeret-nyeret nama Tuhan, yaitu Allah SWT, dalam pusaran politik praktis yang sebatas memenuhi hasrat berkuasanya saja (the willing to power).

Percayalah, meski Allah diseret-seret ke dalam perebutan kekuasaan dan keagungan nama-Nya dicatut sedemikian keji oleh salah satu makhluk ciptaan-Nya, hal itu tidak akan mengurangi kemahabesaran Allah sebagai Sang Pencipta.

Sebaliknya, politikus yang dengan tegas mendikotomikan "Allah" dengan "Setan" lewat wujud partai, justru menjadi semakin lebih kerdil, setidak-tidaknya dalam pandangan saya pribadi. Ia tenggelam dan kalah dalam pertarungan, terlunta-lunta, bahkan orang-orang menyebutnya sebagai gelandangan politik.

Apalagi, partainya yang kemudian ia sebut sebagai "Partai Allah" (hizbullah) itu ternyata kalah oleh partai yang ia sebut sendiri sebagai "Partai Setan" (hizbu syaitan) dalam palagan Pilpres lalu.

"Partai Allah" yang diciptakannya secara tragis akhirnya ditinggalkan untuk membuat partai baru. Entah apa lagi julukan kepada partai baru yang didirikannya itu.

Bagi saya, tidak etis dan tidak pada tempatnya menyeret-nyeret serta melibatkan Tuhan dalam palagan perebutan kekuasaan. Tuhan ada di tempat semestinya Dia berada, di hati dan pikiran masing-masing makhluk-Nya, manusia, tidak usah-usah diseret-seret ke urusan duniawi.

Abdillah Toha kemudian menekankan, "Tuhan memang selalu bersama kita. Tuhan memelihara dan mengawasi kita. Allah juga berjanji memenuhi permohonan orang beriman dengan syarat kita melaksanakan perintah-perintahnya. Manusia punya rencana dan Tuhan punya rencana."

"Hanya rencana manusia yang sejajar dengan rencana Tuhan yang akan terjadi. Karenanya, manusia tak boleh sembarangan mengatasnamakan Tuhan dan mengklaim bahwa Tuhan berada di pihaknya. Paling kita hanya boleh berdoa semoga Tuhan merestui sikap dan jalan yang kita pilih," tulis Abdillah Toha.

Tentang Allah SWT sendiri, atau Tuhan dalam keyakinan lainnya, senantiasa dipanggil tatkala seseorang tengah dilanda kesusahan dan kesedihan, seolah-olah Tuhan "dipaksa" dan "diseret-seret" untuk hadir agar segera mengetahui kesusahan dan kesedihan orang itu.

Tetapi manakaka orang itu sedang berjaya dan bahagia, Tuhan terlupakan atau sengaja dilupakan, bahkan seakan-akan tiada.

Saya percaya, orang itu bukan kamu!

(Bersambung)

***