Covid-19 dan Hukum Karma Alam

Pandemi Covid19 saat Ini sebenarnya adalah Karma Alam terhadap Manusia, ika saja manusia tidak serakah dan menjadi penakluk alam, atau mau hidup selaras dengan alam.

Selasa, 24 Maret 2020 | 06:10 WIB
0
350
Covid-19 dan Hukum Karma Alam
Ilustrasi Planet Bumi (Foto: Kompas.com)

Netizen pasti banyak yang menyaksikan tayangan Youtube dan talkshow di sebuah TV swasta menampilkan seorang dokter hewan yang mendaku dirinya Virolog. Pakar Ilmu Pervirusan.

Penjelasannya sebagian benar, sebagian menyesatkan. Ia dokter hewan tapi merambah kapling kedokteran manusia. Misalnya ia mengatakan, pasien2 Covid19 yang sudah sembuh dalam tubuhnya ada antibodi terhadap SARS-CoV-2 (virus pemicu Covid19) jadi akan kebal. Nyatanya, cukup banyak pasien Covid19 yang sudah sembuh mengalami infeksi ulang. Soal pasien Covid19 (tentunya manusia kan?) ini ranah kedoketaran manusia dan imunologi manusia, bukan ranah kedokteran hewan.

Ia disebut/menyebut diri seorang virolog, namun seorang dokter hewan sumber daya menyatakan jika dicari publikasinya di jurnal-jurnal Virologi yang kredibel, nihil. Benar, ia pernah meneliti virus Flu Burung, tapi untuk mendaku dirinya seorang Virolog, ya harus ada penelitian yang kontinyu.

Sayangnya, ada media siaran yang memberi panggung dengan pewawancara yang tak paham masalah virologi, zoonosis, epidemi/pandemi, epidemiologi dan kesehatan masyarakat. Kalau platform media sosial memang siapa pun bisa menjadi produsen informasi, entah masuk akal atau ngawur. Entah sesuai bidang keahliannya, entah nekat saja.

Untuk dokter hewan dengan kepakaran virologi, saya pribadi sebagai orang yang pernah belajar biologi dan kesehatan masyarakat serta lama menjadi wartawan kesehatan di Harian Kompas, lebih memercayai nara sumber seperti DR drh Joko PamunGkas MSc, peneliti senior Pusat Studi Satwa Primata IPB.

Publikasinya di jurnal-jurnal ilmiah terindeks Scopus dapat dilacak. Dan dia juga bisa mengomunikasikan pengetahuannya dengan gamblang untuk orang awam. Seperti ketika ia menjadi nara sumber di Seminar Awam Covid19 yang diadakan Lembaga Biologi Molekuler Eijkman, 12 Februari lalu.

Kemarin ia menulis di halaman Opini Kompas tentang imbauan agar kita jangan menghabisi kelelawar karena masyarakat jadi takut jika satwa liar ini ikut menularkan virus Covid19. Yang sudah pasti diketahui kelelawar memang menjadi reservoir untuk virus Corona pemicu SARS dan MERS. Kedua penyakit yang dipicu virus Corona itu awalnya zoonosis, lalu menular antarmanusia. Nah, untuk Covid19 masih dibutuhkan penelitian lagi yang lebih mendalam.

Pandemi Covid19 saat Ini sebenarnya adalah Karma Alam terhadap Manusia. Jika saja manusia tidak serakah dan menjadi penakluk alam, atau mau hidup selaras dengan alam, tak akan terjadi berbagai epidemi dan pandemi yang disebabkan oleh aneka bakteri dan virus yang tadinya hidup tenang di alam.

Falsafah Man AND Nature harus kita kembalikan lagi ke Man IN Nature.

Tentu amat tidak mudah. Protokol Kyoto untuk Pengendalian Emisi Global bagi Perubahan Iklim sampai sekarang belum diratifikasi oleh negara adidaya seperti Amerika Serikat. Apalagi jika presidennya seperti Donald Trump yang rasis dan mau menangnya sendiri itu.

***