Ahmad tentang Dhani

Kamis, 21 Februari 2019 | 09:31 WIB
0
431
Ahmad tentang Dhani
Ahmad Dhani dan Rolling Stone (Foto: Tarli Nugroho)

Ini adalah salah satu edisi khusus Rolling Stone Indonesia yang paling saya sukai. Ada 25 artis kita yang disebut Rolling Stone sebagai "Terbesar Sepanjang Masa". Ya, mereka adalah nama-nama raksasa yang merentang mulai dari generasi Ismail Marzuki, Bing Slamet, Gombloh, Benyamin Sueb, Titiek Puspa, Rhoma Irama, Bimbo, God Bless, The Rollies, Ebiet G. Ade, Iwan Fals, hingga generasi Slank dan Dewa 19.

Dari 25 artis terbesar itu, ada tiga musisi yang namanya masuk dalam daftar bersamaan dengan grup musik yang mereka hidupi. Kelimanya adalah (1) Achmad Albar dan (2) Yockie Suryoprayogo dengan (3) God Bless-nya, serta (4) Ahmad Dhani dengan (5) Dewa 19-nya. The Rollies, Bimbo dan Slank juga masuk dalam daftar, tapi tidak ada personelnya yang ikut masuk terpisah dalam 25 nama yang terpilih tadi.

Pilihan 25 nama tadi tentunya tidak sembarangan disusun. Mereka dipilih oleh musisi-musisi terkemuka tanah air. Dan tulisan mengenai 25 musisi serta grup musik terbesar itu juga tidak ditulis orang sembarangan, melainkan ditulis oleh musisi-musisi dan seniman kenamaan.

Koes Plus, misalnya, ulasan mengenai grup musik legendaris ini ditulis oleh Erwin Gutawa. Artikel tentang Chrisye ditulis oleh Erros Djarot. Slank ditulis oleh Eross Candra. Bing Slamet oleh Remy Sylado. Gesang oleh Pongki Barata. Harry Roesli oleh Fariz R.M. Achmad Albar oleh Ian Antono. Bimbo oleh Armand Maulana. Dan Dewa 19 oleh Giring Ganesha.

Dari 25 daftar itu, ada beberapa nama musisi yang selain MENULIS tentang musisi lainnya, nama mereka juga DITULIS karena masuk dalam daftar legenda. Erros Djarot, misalnya, selain menulis tentang Chrisye, namanya juga masuk dalam daftar 25 legenda tadi. Artikel mengenai Erros ditulis oleh Yockie Suryoprayogo.

Begitu juga dengan Yockie, namanya juga ikut masuk daftar. Artikel tentang Yockie ditulis oleh Ade Firza Paloh. Fariz R.M. juga bukan hanya menulis tentang Harry Roesli, karena paman Sherina Munaf ini juga namanya terpilih sebagai legenda. Artikel tentang Fariz ditulis Julius Aryo Verdijantoro.

Namun, dari semua nama legendaris yang telah disebut tadi, tak ada yang lebih unik selain dari ulasan mengenai Ahmad Dhani. Tentu saja Ahmad Dhani juga diulas oleh musisi kenamaan. Dan yang mengulasnya tak lain adalah Ahmad Dhani itu sendiri.

Ya, Dhanilah satu-satunya musisi dari "25 Artis Indonesia Terbesar Sepanjang Masa" versi Rolling Stone yang ulasan atas dirinya ditulis sendiri olehnya. Hebat nggak?! 

Saya pernah menanyakan hal ini langsung kepada Dhani, kenapa harus dia yang menulis tentang dirinya sendiri di Rolling Stone? Dan jawabannya membuat saya ngakak: hanya seorang Ahmad Dhani yang bisa memahami Ahmad Dhani. Dia mengemukakan jawaban itu dengan serius.

Barangkali benar, hanya Dhani yang bisa menjelaskan dirinya sendiri dengan baik. Dan itu benar-benar dilakukannya.

Sekilas, kita mungkin akan menangkap kesan sombong dari klaim tadi. Tapi saya kira kesan itu sudah pasti keliru. Tulisan Dhani mengenai dirinya jauh sekali dari kesan itu.

Dia menjelaskan dengan detail bagaimana perkenalannya dengan musik. Dan untuk itu dia kemudian menyebut banyak sekali nama, sebagian besar adalah nama teman-temannya, yang telah memperkenalkannya pada sejumlah musisi, grup musik, serta genre yang kemudian mengundang ketertarikannya.

Pendek kata, ia ingin menjelaskan bahwa kosakata musiknya yang luar biasa kaya, mencapai ratusan ribu keping CD jika meminjam klaimnya, sesungguhnya disumbang oleh banyak sekali orang.

Dhani mengaku bahwa ia tak pernah berusaha menciptakan karya musik yang bagus dan sekaligus digemari masyarakat. Semua diakuinya mengalir begitu saja.

Menurutnya, penciptaan adalah proses yang tidak nyata. Sebab, musik lahir dari proses saling pengaruh-mempengaruhi, bukan dari ketiadaan. Ia menulis bahwa "Julia"-nya The Beatles telah mempengaruhi "Run to Me" karya Bee Gees. "Run to Me" kemudian mempengaruhi "Jealousy" miliknya Queen, lalu semua lagu itu kemudian mempengaruhi "Kosong"-nya Dewa 19.

Pengakuan Dhani soal penciptaan tadi mengingatkan saya pada Milan Kundera, bahwa penciptaan adalah proses pembauran ingatan. Juga mengingatkan saya pada Borges, bahwa tiap pembaca Shakespeare adalah Shakespeare itu sendiri.

Dengan perspektif tadi, Dhani menyebut bahwa kesuksesannya semata-semata hanyalah karena faktor keberuntungan. Ia merasa beruntung punya referensi dan pengetahuan musik yang sangat banyak dan pluri. Ia beruntung lahir dari orang tua yang menyukai musik. Ia beruntung punya banyak teman yang gandrung pada aneka jenis musik. Dan semua perjumpaan itulah yang telah membentuk dirinya.

Sungguh sebuah pengakuan merendah dari seseorang yang karya musiknya diakui orang lain sebagai luar biasa. Dhani bukan hanya seorang legenda. Ia adalah legenda yang keren!

Tarli Nugroho

***