MiG-41, ATN-51, dan MiG-50 Mesin Perang di Langit Utara

Seperti fitur ATN-51, MiG-50 bisa terbang di atas Mach 4.0 di ketinggian lebih dari 45 kilometer di atas permukaan laut, dan tidak akan terdeteksi oleh sistem pertahanan musuh.

Kamis, 11 Juli 2019 | 07:01 WIB
0
124
MiG-41, ATN-51, dan MiG-50 Mesin Perang di Langit Utara
ATN-51 (Foto: Portonews.com)

Rusia adalah negara dengan wilayah paling luas di dunia. Bangsa Rusia juga adalah salah satu yang terdepan menguasai ilmu pengetahuan dan teknologi, khususnya di teknologi di bidang penerbangan luar angkasa dan persenjataan. Karenanya Rusia merasa masih pantas sebagai negara adidaya di bidang militer dan pertahanan.

Sebagai manifestasi dari visi Rusia sebagai negara adidaya di masa depan, Rusia tengah melakukan riset Aurora Project, untuk menciptakan tiga pesawat tempur super canggih yang khusus diperuntukan dalam Perang Langit Utara melawan Amerika. Ketiga peswat itu adalah MiG-41, ATN-51, dan MiG-50.

Perang Dunia Kedua berakhir tahun 1945 dengan kemenangan Sekutu atas Triumpirat (Jerman, Italia, dan Spanyol) di Eropa dan atas Jepang di Asia Pasifik. Tapi bukan berarti dunia sudah bebas dari ancaman perang. Bahkan, perang yang lebih dahsyat dengan akibat yang tidak terbayangkan, sewaktu-waktu bisa terjadi. Uni Sovyet adalah anggota Sekutu yang terakhir ikut berperang melawan Jerman. Tapi kekalahan Jerman atas Uni Sovyet itulah yang menjadi awal kekalahan total Jerman dalam Perang Dunia Kedua di Eropa. 

Hanya beberapa hari setelah Perang Dunia Kedua usai, Uni Sovyet, membentuk blok komunis bersama negara-negara Eropa Timur. Sovyet juga membentuk aliansi dengan Korea Utara, Kuba, Vietnam Utara, Yaman Selatan, Suriah, Irak, Angola, dan beberapa negara Afrika berhaluan kiri. Jika Perang Dingin antara Blok Timur atau Pakta Warsawa dengan Blok Barat atau NATO (1945-1990), meletus menjadi perang terbuka, maka akibatnya kehancuran dunia.

Sebab, senjata yang digunakan tidak lagi senjata konvensional, tetapi senjata nuklir yang kekuatannya ratusan ribu kali lipat bom atom Fatman dan Little Boy yang dijatuhkan di Hiroshima dan Nagasaki. Manusia akan punah, kalaupun tersisa, mereka hidup dalam kecatatan fisik dan psikologi yang permanen. 

Pada periode 1945 sampai 1990, Amerika dan Uni Sovyet berlomba menghabiskan dana triliunan US$ untuk membuat senjata nuklir pemusnah massal. Mereka juga menciptakan pesawat-pesawat tempur dan pengebom super canggih untuk melakukan serangan mendadak. 

Sebenarnya, pihak Amerika maupun Sovyet, sama-sama takut kalau perang terbuka benar-benar terjadi. Karenanya, kedua negara itu mencanangkan ‘Aurora Project’. Aurora Project adalah proyek pengadaan pesawat militer berkecepatan sangat tinggi, di atas Mach 3,0, yang dimaksudkan untuk menyerang atau mencegat peluru kendali di ketinggian langit utara yang diluncurkan lawan. Amerika Serikat dan Rusia sama-sama berada di belahan bumi utara, karenanya disebut proyek Aurora. Aurora adalah cahaya yang memancar dari kabut galaksi yang terlihat di langit utara. 

Pertempuran itu tidak hanya melibatkan benda-benda yang terbang di bawah selubung atmosfir, tapi juga satelit militer yang melayang di luar angkasa, serta pusat-pusat sistem mengendali di darat. 
Proyek Aurora kedua negara sudah dimulai sejak dekade 1950an, namun sempat terhenti menyusul runtuhnya Blok Timur dan Uni Sovyet pecah menjadi 16 negara.

Pemimpin Rusia pasca Uni Sovyet, Boris Yeltsin sangat ramah terhadap negara-negara Barat. Sehingga kekuatan militer dunia yang sebelumnya bipolar, menjadi monopolar. Hanya dikuasai oleh kekuatan Barat, Amerika dan negara-negar sekutunya. 

Namun hal itu tidak menjadi kenyataan setelah Vladimir Putin yang mantan agen rahasia Uni Sovyet, KGB, naik menjadi Presiden Rusia. Putin ingin membangkitkan kembali kekuatan militer Rusia dan menjaga jarak dengan Amerika. Di era Putin pula Proyek Aurora Rusia dilanjutkan.

Proyek Aurora Rusia

Tiga pesawat yang disebut dalam Proyek Aurora Rusia, yaitu MiG-41, ATN-51, dan MiG-50. Tiga opini mengenai ketiga pesawat yang tengah dikembangkan itu, pertama, hanya sedikit informasi tentang proyek MiG-41 karena sifatnya rahasia. Kedua, amat sangat sedikit sekali bocoran informasi tentang proyek ATN-51 karena proyek itu sifatnya sangat rahasia. Ketiga, sama sekali tidak ada informasi yang autentik mengenai proyek MiG-50 karena proyek tersebut amat sangat rahasia.

Kalaupun ada yang sampai ke media, itu merupakan asumsi dari para pakar teknologi kedirgantaraan. Tapi itulah satu-satunya sumber untuk tulisan-tulisan mengenai MiG-50. 

Perang modern ditentukan melalui dominasi di udara. Itulah doktrin perang di era modern. Perang tidak lagi dilakukan oleh sejumlah tentara yang saling berhadapan, saling melihat, dan saling tembak. Tapi menggunakan peralatan penghancur berkekuatan besar, cepat, dan berdaya jangkau sangat jauh. Targetnya pun bukan lagi tentara musuh, tapi peralatan perang atau berbagai instalasi vital lawan. Karenanya pembuatan pesawat ultra modern menjadi keharusan.

Para pilot pesawat yang akan dibuat melalui Proyek Aurora, kelak hanya akan melihat langit biru gelap, bintang-bintang, dan matahari. Di bagian bawah, hanya terlihat lengkungan garis horison dengan pancaran cahaya redup dan langit biru muda. Pilot-pilot Rusia itu akan berhadapan dengan pesawat-pesawat nir-awak atau peluru kendali canggih yang diluncurkan oleh Amerika. Wilayah yang akan menjadi palagan perang masa depan tersebut adalah langit di atas Kutub Utara. 

Dalam upaya membangun dominasi di udara, tahun 1979 Uni Sovyet memproduksi MiG 31 Foxhound. Pesawat interseptor sekaligus penyerang ini dibuat untuk mengimbangi SR-71 Blackbird milik Amerika yang memiliki kecepatan Mach 3,3. Pesawat buatan Mikoyan dan Gurevich ini diproduksi sebanyak 519 unit dan diproyeksikan bertugas hingga 2030. 

Mengacu ke masa depan, MiG 31 dinilai tidak lagi memadai untuk pertempuran modern jarak jauh. Sebagai penggantinya, Rusia mengembangkan pesawat tempur generasi keenam yang akan dinamai MiG 41. Pesawat ini disebut-sebut akan memiliki kecepatan terbang Mach 4,3 atau 5.270 kilometer per jam.

Hal ini pernah dilansir oleh kantor berita Novosty yang mengutip pilot tempur senior Rusia, Anatoly Kvochur. MiG-41 diharapkan mampu mencegat dan menembak rudal antar benua yang diluncurkan oleh NATO ketika berada di udara. 

Dikuitip The National Interest, analis pertahanan Rusia Vasily Kashin mengatakan, proyek MiG 41 berbeda dengan pengembangan pesawat generasi kelima, Sukhoi T-50 PAK-FA yang dirancang untuk pertempuran udara (dog fighting) konvensional dengan padanan F-22 Raptor Amerika. Pesawat ini mulai diproduksi pada tahun 2016 lalu. 

"Yang saya tahu, proyek futuristik MiG-41 masih pada tahap awal. Saya pikir itu adalah proyek pesawat generasi 5++ atau generasi ke-6. Jadi, kita mungkin harus menganggapnya memiliki status yang sama dengan proyek pesawat generasi ke-6 Amerika, China, dan Eropa. Pesawat-pesawat itu akan mulai bertugas pada tahun 2035-2040," kata Kashin.

Menurut Kashin, pengembangan dan produksi MiG-41 akan dilakukan setelah proyek Sukhoi T-50 selesai. MiG-41 baru akan menjalani uji terbang pada tahun 2020an. 

Menurut Alexander Tarnaev, Wakil Ketua Komisi Pertahanan di parlemen Rusia - Duma, yang dikutip oleh MiGFlug.com, proyek MiG-41 terus berjalan. “Keputusan untuk meneruskan proyek MiG-41 sudah ditandatangani Kepala Staf Umum Angkatan Bersenjata Rusia. Proyek itu merupakan pengembangan dari MiG-31 Foxhound.”

MiGFlug.com menyebutkan, informasi detail mengenai proyek MiG-41 tersebut sangat terbatas, mengingat proyek tersebut yang sangat rahasia. Namun yang pasti, MiG-41 dibuat guna menandingi pesawat Aurora Project-nya Amerika, SR-72 Son of Blackbird. Namun bedanya, SR-72 Son of Blackbird adalah pesawat nir-awak, sedangkan MiG-41 pesawat yang diterbangkan oleh pilot. 

Sementara mengenai ATN-51 dan MiG-50, seperti dikemukakan di awal tulisan ini, informasi mengenai kedua pesawat masa depan tersebut sangat sedikit, dan sebagian berupa asumsi dan hipotesis dari para pakar aeronautika.

Informasi Teknis

Meskipun data dan informasi mengenai pesawat MiG-41, ATN-51, dan MiG-50 sangat minim, namun sebuah situs yang berbasis di Amerika,Wn.com menampilkan beberapa video mengenai ketiga pesawat tempur masa depan Rusia itu. 

Wn.com memviasualisasikan MiG-41 memiliki sayap utama dan sirip elevator di bagian belakang berbentuk delta atau segitiga. Pesawat ini memiliki dua sirip vertikal (rudder) agak miring ke arah luar. 
MiG-41 mempunyai dua mesin dan dua afterburner. Pada versi tertentu, ada empat simpul eksternal dengan resistansi aerodinamis yang rendah, sehingga pesawat ini memungkinkan membawa sejumlah misil balistik atau senjata lainnya dengan bobot tertentu. 

Wn.com melukiskan ATN-51 sebagai 'wabah menakutkan' bagi Angkatan Udara Amerika. Pesawat ini dirancang khusus untuk melawan udara antar benua melawan Amerika. ATN-51 adalah pengebom jarak jauh dengan mesin vektor M 4.50, yang mampu terbang di ketinggian 120 ribu kaki atau 45 kilometer di atas permukaan laut. Sayap pesawat ini berbentuk deltaakang dua sirip vertikal arah kendali (kemudi) berdiri tegak lurus. ATN-51 diterbangkan oleh dua awak, pilot dan gunner.

ATN-51 memiliki tangki dengan kapasitas 32 ton bahan bakar, sehingga memungkinkan untuk lepas landas dari Siberia melesat ke Amerika dalam waktu kurang dari satu jam. Pesawat ini mampu menembak dengan akurat sebuah pesawat F-22 Raptor Amerika yang sedang terbang, dari jarak ratusan kilometer, lalu balik lagi ke Siberia.

Dua mesin dan dua afterburner memungkinkan ATN-51 membawa 10 rudal yang mampu ditembakkan pada saat terbang dengan kecepatan supersonik. Selain itu di bawah kedua sayapnya masih bisa tepasangi empat rudal ukuran kecil dan sedang. Pesawat berkecepatan ‘sangat tinggi’ ini diklaim tidak akan bisa dicapai oleh sistem pertahanan negara manapun di dunia.

Sesuai namanya, MiG - 50 akan dibuat oleh Mikoyan dan Gurevich. MiG-50 adalah pesawat penyerang - pengebom berkecepatan hypersonic yang mampu membawa rudal udara ke permukaan (udara ke permukaan) dan udara ke udara (udara ke udara). Pesawat yang diterbangkan oleh dua terbangun ini dilengkapi dengan tangkii bahan bakar dengan kapasitas 165 ton, sampai memiliki daya jelajah 3.890 mil laut atau 7.200 kilometer.

MiG-50 digerakkan oleh empat mesin dan empat afterburner, memiliki sayap delta. Purwa rupa dua dimensi MiG-50 menyerupai pesawat Concorde, namun MiG-50 memiliki dua sirip vertikal. Seperti fitur ATN-51, MiG-50 bisa terbang di atas Mach 4.0 di ketinggian lebih dari 45 kilometer di atas permukaan laut, dan tidak akan terdeteksi oleh sistem pertahanan musuh.

***