Olimpiade Barcelona 1992 [2] Oase di Tengah Paceklik Prestasi

Ada satu kehebatan Ivana yang menonjol di antara pemain Indonesia lainnya. Ivana pemain ‘all round’. Bisa main tunggal, ganda putri maupun ganda campuran.

Kamis, 22 Juli 2021 | 07:56 WIB
0
43
Olimpiade Barcelona 1992 [2] Oase di Tengah Paceklik Prestasi
Lene Kopen dan Ivana Lie (Foto: Jimmy S. Harianto)

Satu dasawarsa menjelang digelarnya Olimpiade 1992 Barcelona, bulu tangkis Indonesia di awal kepengurusan Try Sutrisno memang mengalami musim kering. Paceklik prestasi tidak hanya dialami di nomor beregu, bahkan di perseorangan pun Indonesia tidak bersinar.

(Try Sutrisno terpilih dua periode memimpin bulu tangkis Indonesia. Pada Munas di Samarinda Kalimantan Timur terpilih untuk periode 1985-1989, dan pada Munas Bulu Tangkis di Manado terpilih untuk periode 1989-1993).

Tradisi emas bulu tangkis di arena multi event Asia, Asian Games, juga tumben terhenti. Terjadi berturut-turut di Asian Games 1986 Seoul dan Asian Games 1990 Beijing. Bahkan jejak langkah bulu tangkis Indonesia di Asian Games 1986 Seoul tergores pedih dengan beberapa catatan kelam. Diawali dengan langkah berat di nomor beregu, untuk pertama kalinya sejak Asian Games IV Jakarta tahun 1962, tim putra gagal melangkah ke final dikalahkan regu tuan rumah, Korea Selatan 3-2 di babak semifinal. Putrinya juga sama. Ivana Lie dkk ditundukkan Jepang 3-2 juga di semifinal.

Drama di Gymnasium Olympic Park Seoul 1986 benar-benar bikin hati ngilu. Antara sedih campur jengkel, menjadi geram bener-bener. Saya menyaksikan dengan mata kepala sendiri, ketika juara dunia (1983) Icuk Sugiarto bener-bener dikerjain para penjaga garis Korea dan walk out dari lapangan.

Set pertama melawan pemain terbaik Korea di tunggal, Park Sung-bae, dimenangkan Icuk Sugiarto relatif mudah 15-13. Tetapi sempat terhenti pada kedudukan 8-6 ketika sebuah smes Park yang nyata-nyata keluar bidang lapangan, dinyatakan masuk oleh penjaga garis Korea. Sekitar 3 menit Icuk berdebat. Tetapi umpire (wasit di atas kursi) tetap menyatakan masuk.

Set kedua Icuk sudah unggul lebih dulu 8-4, tetapi akhirnya kalah 11-15 dengan beberapa ‘line calls” (penghakiman garis) yang berpihak pada tuan rumah, karena para penjaga garis memang orang Korea semua. Set ketiga kegeraman memuncak, tidak hanya pada penonton Indonesia yang minoritas di Gymnasium Olympic Park, akan tetapi juga pada Icuk.

Sebuah smes Park Sung-bae yang jelas-jelas melonjok panjang ke luar lapangan, dinyatakan masuk oleh seorang wanita penjaga garis. Kurang lebih sekitar 30 cm di luar bidang di belakang baseline. Spontan kubu Indonesia yang duduk di tribun atas gymnasium, pada meneriakkan protes. Tahir Djide, pelatih kepala tim Indonesia, berteriak berang.

Juga Manajer Tim Indonesia, Aburizal Bakrie, tak kurang berang. Aburizal bahkan turun dari tribun, dan memasuki lapangan, namun diusir dengan kasar oleh seorang penjaga garis! Aburizal memerintahkan Icuk dari kejauhan, agar menghentikan pertandingan. Dan Icuk pun langsung mengemasi peralatan raket dan bajunya, ngeloyor meninggalkan lapangan.

Anggota delegasi IBF Ram Sri Chada dari India terlambat menengahi pertikaian, namun ia datangi juga wasit (umpire) Jepang, Ahiko Shugi dan wasit kehormatan Korea Choi Il-hyann. Sekitar setengah jam mereka berembuk. Sampai akhirnya memutuskan Park dinyatakan menang, walau set ketiga baru mencapai angka 8-6 untuk kemenangan Park.

Kejadian – kalau tak boleh dikatakan sebagai kecurangan – kembali berulang ketika di partai kedua kejuaraan beregu antara Indonesia vs Korea Selatan, Eddy Kurniawan lawan Han Kook-sung. Sebuah bola smes Eddy Kurniawan yang jelas-jelas kena badan Han Kook-sung dan melesat keluar, dinyatakan keluar dan angka untuk Han.

Sekjen KONI (Komite Olahraga Nasional Indonesia) Moh Sarengat yang menyaksikan pertandingan di Gymnasium Olympic Park itu pun membenarkan, tindakan Icuk Sugiarto keluar lapangan meninggalkan pertandingan. “Sekali-sekali perlu dilakukan itu. Saya melihat sendiri bola itu keluar,” ungkap mantan pelari sprint, peraih medali emas 100 meter Asian Games 1962 Jakarta itu, kepada saya. Dan rupanya kecurangan itu juga dialami oleh kubu China, yang ketemu Korea Selatan di final beregu Asian Games 1986.

“Kami malah sudah menyampaikan semua kejadian di Seoul ini di koran-koran Beijing, biar pada tahu...,” kata manajer tim China, Wang Wenjiao yang asli Solo itu, dalam bahasa Jawa kepada saya.

Kesuraman prestasi juga terasa di nomor perseorangan bulu tangkis Asian Games 1986 Seoul. Jangankan medali emas. Perak pun Indonesia tidak kebagian. Indonesia di perseorangan bulu tangkis hanya memperoleh dua perunggu, satu dari ganda putra Liem Swie King/Bobby Ertanto, dan Rosiana Tendean/Imelda Kurniawan.

Di Asian Games berikutnya di Beijing 1990, sebenarnya Indonesia berpeluang memperbaiki prestasi terutama dengan makin matangnya penampilan Susi Susanti di putri, serta Ardy B Wiranata eks Pelatnas Pratama yang dipersiapkan pada era Try Sutrisno. Namun toh hasilnya hanya 2 perak dan 6 perunggu. Dua perak dari beregu putri serta nomor ganda campuran, Eddy Hartono/Verawaty Fajrin. Sedangkan lainnya hanya perunggu, Susi Susanti (tunggal putri), Alan Budikusuma (tunggal putra), Eddy Hartono/Gunawan (ganda putra), Verawaty Fajrin/Lili Tampi (ganda putri), dan Gunawan/Rosiana Tendean. Perunggu satu lagi dari beregu putra tentunya.

Yang menarik dari kegagalan demi kegagalan Indonesia ini, adalah secercah ucapan harapan “Kita tak boleh tenggelam dalam kekalahan...,” selalu itu ucapan Try Sutrisno kepada pemain-pemainnya yang kalah, bukan caci maki. Ucapan itu juga meluncur, ketika Indonesia kalah di Piala Thomas dan Uber dua tahun sebelumnya (1984), di Kuala Lumpur.

Menengahi Kasus China

Sebaliknya tentunya China, yang baru masuk keanggotaan Federasi Bulu Tangkis Internasional (IBF) sejak 1981. Padahal sebelum itu, mereka mempromosikan federasi tandingan, World Badminton Federation (WBF) bersama konco terdekat mereka, Jepang dan Iran. Malaysia, dan juga Indonesia, ada di dua kaki, anggota IBF tetapi juga memenuhi jika ada undangan invitasi di WBF.

Keanggotaan China memang terkatung-katung cukup lama, antara tahun 1972-1980 sejak mereka memiliki bintang-bintang top dunia asal Indonesia, seperti Wang Wenjiao, Hou Jiachang, Tang Xienhu dan di putri Chen Yuniang, Liang Chiushia adik Tjuntjun. Tetapi hanya ngetop di kalangan WBF yang lingkupnya kecil, empat lima anggota. China selalu menuntut “One China Policy” di berbagai bidang saat itu. China bersedia masuk IBF jika Taiwan didepak dari organisasi bulu tangkis yang beranggotakan 61 negara itu. Taiwan masuk IBF dengan bendera Chinese Taipei.

Masih beruntung, Federasi Bulu Tangkis Internasional (IBF) waktu itu diketuai oleh orang Indonesia, Ferry Sonneville, mantan bintang bulu tangkis Piala Thomas bersama Tan Joe Hok dan Nyoo Kim Bie dkk di era 1950-60-an. Ferry, didukung pula oleh “diplomat bulu tangkis” Indonesia, Suharso Suhandinata sebagai pejabat bidang luar negeri PB PBSI (Persatuan Bulu Tangkis Indonesia) bersama Dick Sudirman ketuanya, justru menengahi jurang hubungan antara China Tiongkok dan IBF. Sampai akhirnya China pun bersedia masuk IBF, tanpa perlu mendepak Chinese Taipei pada 1981.

Semangat tinggi China ketika memasuki IBF, ditandai dengan merajalelanya prestasi mereka sejak 1982, melalui generasi bulu tangkis China yang dilahirkan dari pelatihan para pemain-pemain eks Indonesia, Wang Wenjiao, Hou Jiachang, Tang Xienhu, Chen Fushou dan kawan-kawan.

Di Bagian putra pada 1982, China memiliki pasukan juara yang lengkap. Ada dua andalah mereka di tunggal, Han Jian dan juga Yang Yang. Han Jian (juara dunia di Calgary Kanada 1985) saingan Icuk Sugiarto, sama-sama memiliki basis permainan defensif dan sesekali menyengat lawan setelah adu reli. Yang Yang mengkombinasikan permainan net halus Rudy Hartono serta smes loncat mematikan Liem Swie King, namun dengan permainan kidal.

Pemain kidal top China lainnya, Zhao Jianhua juga tak kalah menggetarkan. Meski sebenarnya lebih dahulu tampil ketimbang Yang Yang, dan Zhao menjuarai All England 1985 mengalahkan Liem Swie King di semifinal dan Morten Frost Hansen final, namun Zhao Jianhua prestasinya tak konsisten seperti Yang Yang. Naik turun nggak keruan, sehingga baru muncul kedua kalinya sebagai juara turnamen paling bergengsi di dunia, All England pada 1990. Padahal, melihat teknis pukulannya, ia sangat layak juara berkali-kali All England.

Pada saat China hebat dengan pemain-pemain kidalnya, Indonesia memiliki Icuk Sugiarto yang memiliki permainan ultra defensif yang ditakuti. Tetapi Icuk hampir tidak pernah menang melawan sesama pemain ultra defensif, Han Jian.

Demikian juga jika menghadapi Yang Yang. Sehingga pertarungan yang selalu ditunggu-tunggu oleh dunia pada awal 80-an sampai akhir 1990-an adalah pertarungan antara Icuk lawan Han Jian, atau Icuk lawan Yang Yang. Lucunya, Morten Frost Hansen dari Denmark sering menang lawan Yang Yang, akan tetapi sering kalah lawan Icuk. Maka, pertarungan dunia waktu itu ya berkutat antara Han Jian, Icuk, Morten dan Yang Yang.

Persaingan sengit Icuk dan Han Jian terjadi di arena Piala Dunia, yang baru dimulai 1981. Di Piala Dunia, Icuk dan Han Jian seolah berbagi gelar. Han Jian lebih dulu kebagian juara di Piala Dunia 1983, 1984, maka Icuk Sugiarto juara Piala Dunia di 1985, 1986. Setelah itu, meraja lela pemain-pemain muda China. Zhao Jianhua juara Piala Dunia 1987. Lalu ganti Yang Yang juara Piala Dunia 1988, 1989. Ganti China lagi, Wu Wenkai di Piala Dunia 1990. Tetapi Indonesia juga kebagian juara lagi Piala Dunia lewat Ardy B Wiranata (1991), Joko Suprianto (1992) dan Alan Budikusuma (1993).

Khusus di bagian putri, China bener-bener perkasa setidaknya dalam satu dekade, dari 1981-an sampai 1991, praktis tidak jauh-jauh dari kemenangan Li Lingwei dan Han Aiping, lawan siapapun dia. Jagoan Eropa yang bisa mengimbangi, ya Kirsten Larsen dari Denmark. Dari Indonesia, paling-paling yang bisa mengimbangi ya Verawaty Fajrin juara dunia 1980, dan juga finalis All England 1980. Tetapi untuk menang dan juara? Tidak pernah terjadi, kecuali ketika Verawaty juara di Indonesia Open 1982.

Ivana Lie memiliki tempat tersendiri di hati penonton Istora Senayan. Bolehlah disebut Ivana adalah “Darling of the Court” di Istora Senayan. Publik selalu menyemangatinya, apalagi menghadapi pemain-pemain top Cina. Meski prestasi di All England Ivana hanya sampai semifinal 1981 saat China belum merajalela. Gelar-gelar juara Ivana di antaranya juara SEA Games 1979, 1983, serta juara Indonesia Terbuka 1983. Selebihnya, Ivana selalu runner up, baik di Kejuaraan Dunia 1980 lawan Verawaty, maupun di World Cup 1985, Grand Prix Final 1984.

Ada satu kehebatan Ivana yang menonjol di antara pemain Indonesia lainnya. Ivana pemain ‘all round’. Bisa main tunggal, ganda putri maupun ganda campuran. Di ganda putri main bareng Rosiana Tendean juara Indonesia Terbuka (1987), dan di ganda campuran dengan Christian Hadinata, Ivana juara di Asian Games 1982, SEA Games 1983, Indonesia Terbuka 1983, 1984, Piala Dunia 1985 serta AS Terbuka 1988. Ivana Lie dan Christian Hadinata boleh dikata merupakan ganda campuran terbaik yang dimiliki Indonesia sampai awal tahun 1990-an.

***

JIMMY S HARIANTO (19/07/2021)

Keterangan: artikel ini saya sempurnakan dari tulisan saya dalam buku “Emas di Barcelona Emas di Hatiku, karya bersama wartawan-wartawan Kompas Jimmy S Harianto, L Sastra Wijaya dan Hendry Ch Bangun, terbitan Tunas Jaya Lestari/Titus Kurniadi, 1993