Kiat Minimarket Mandiri Bertahan dengan Transformasi Digital

Menjadi tantangan bagi minimarket adalah apakah mau bertransformasi menuju layanan berbasis digital atau masih tetap sebagai minimarket konvensional hanya melayani kebutuhan ritel dan rumah tangga saja.

Kamis, 29 Juli 2021 | 15:25 WIB
0
215
Kiat Minimarket Mandiri Bertahan dengan Transformasi Digital
Minimarket transformasi digital

Agar mampu bersaing di era milenial, minimarket harus bertransformasi digital dengan produk dan layanan digital yang dibutuhkan masyarakat

Minimarket, toko kelontong atau warung konvensional dikenal hanya menyediakan kebutuhan retail masyarakat sekitar. Kebutuhan rumah tangga masih mendominasi barang-barang kebutuhan di minimarket. Minimarket menjadi rujukan masyarakat untuk membeli barang kebutuhan karena faktor kelengkapan, banding harga dan bisa memilih barang dibandingkan toko kelontong.

Persaingan bisnis minimarket pun masih terbuka lebar, meskipun dominasi jaringan waralaba minimarket masih didominasi nama-nama yang sudah punya kekuatan menancap dibenak masyarakat, seperti Indomaret, Alfa Group (Alfamart, Alfamidi, Alfa Express,Lawson, DAN+DAN), Lotte (Lotte Grosir), Indogrosir (OMI), dll

Minimarket berbasis waralaba banyak ditemui di kota-kota besar saja, atau kota-kota dengan basis penduduk yang besar.

Minimarket mandiri atau yang dibangun dan dikelola secara mandiri yang banyak bertebaran di seluruh Indonesia, masih bersifat konvensional dan identik memenuhi kebutuhan rumah tangga.

Inilah tantangan bagi pengusaha minimarket mandiri untuk bertransformasi digital mengikuti minimarket waralaba yang telah melakukannya. Gak usah muluk-muluk ngikut minimarket waralaba yang harus menggunakan teknologi informasi yang tinggi.

Dengan segmen pasar hingga di daerah, minimarket mandiri ini punya peluang lebih besar bila melakukan transformasi bisnisnya dengan melayani kebutuhan digital masyarakat Indonesia. Ya, cukup dari segi layanan berbasis digital saja.

Jadi, era minimarket yang hanya melayani kebutuhan ritel rumah tangga dan masyarakat, bisa bertambah lebih banyak lagi. Tentunya bisa menambah sumber pendapatan lain selain penjualan barang kebutuhan ritel saja. Potensi keuntungan dari layanan digital ini juga sangat besar, lho.

Cek saja fakta menarik berikut betapa industri digital sangat berpotensi memberikan revenue yang besar kepada bisnis minimarket untuk melayani kebutuhan masyarakat.

  • 46 juta jumlah pelanggan PLN prabayar di Indonesia
  • 160 juta jumlah pengguna media sosial di Indonesia
  • 196,7 juta orang pengguna internet Indonesia
  • 44 juta jumlah gamer di Indonesia, ada 32,2 juga gamer Free Fire, 20,5 juta gamer PUBG, 13,5 gamer Mobile Legends
  • Nilai transaksi QRIS 2020 saja mencapai sekitar Rp 800 miliar
  • Jumlah penumpang kereta api 2020 mencapai 186,1 juta orang
  • Jumlah penumpang pesawat domestik 2020 mencapai 3,7 juta orang

Dari data di atas, kebutuhan masyarakat untuk pulsa dan internet sangat besar. Hampir semua orang melakukan pembayaran tagihan, seperti PLN, air PDAM, cicilan kredit, BPJS, dll. Atau kebutuhan gamer untuk voucher game dan orang-orang yang naik kereta dan pesawat untuk membeli tiket. Hal itu bisa dilayani oleh minimarket dengan melakukan transformasi bisnisnya. Potensi pendapatannya bisa lebih besar lagi dibandingkan hanya dari menjual barang ritel kebutuhan rumah tangga saja.

"Minimarket bisa menjadi one-stop solution kebutuhan digital masyarakat"

Beberapa layanan yang bisa ditambahkan di minimarket mandiri untuk melayani kebutuhan digital masyarakat Indonesia seperti: pembayaran tagihan bulanan masyarakat, top up saldo emoney, pulsa dan paket internet, voucher game digital, transfer antar bank atau kirim uang, layanan ekspedisi, dll.

Hal ini juga memudahkan masyarakat sekitar ketika membutuhkan layanan yang tidak dimiliki minimarket konvensional sebelumnya. Contohnya pembelian tiket transportasi, bisa dilayani oleh minimarket. Atau kebutuhan berbagai jenis pulsa atau paket internet.

Teknologi Membawa Banyak Kemudahan

Tidak dipungkiri bahwa teknologi membawa banyak perubahan pada banyak lini. Termasuk kebutuhan masyarakat yang berbasis digital. Kebutuhan masyarakat sekarang tidak bisa lepas dari hal-hal berbau digital sebagai kebutuhan utama.

Minimarket harus bisa bertransformasi menuju layanan berbasis digital agar mampu bersaing dengan minimarket waralaba.

Dalam hal teknologi, minimarket mandiri bisa menjalin kerjasa dengan perusahaan atau brand yang telah mempunyai bisnis atau layanan pembayaran digital, seperti contoh Fastpay, yang berposisi sebagai institusi yang bergerak dibidang pembayaran elektronik, minimarket bisa bekerjasama dan mengembangkan bisnisnya menjadi lebih maju melayani kebutuhan digital masyarakat. Bahkan salah satu program dari Fastpay adalah membangun jaringan minimarket ACI Mart yang terdiri dari minimarket-minimarket yang ingin bertransformasi digital dengan mudah.

Minimarket tidak perlu melakukan investasi lebih untuk teknologi informasi, hanya koneksi internet saja untuk melakukan transaksi digital seperti layanan di atas menggunakan perangkat komputer yang sudah ada di minimarket.

Masalah sumber daya manusia tidak menjadi masalah karena teknologi bisa dipelajari.

Menjadi tantangan bagi minimarket adalah apakah mau bertransformasi menuju layanan berbasis digital atau masih tetap sebagai minimarket konvensional hanya melayani kebutuhan ritel dan rumah tangga saja.

***