Sukses Berbisnis Versi Saya [2] Berkat Doyan Bolos

Dari mana saya mengetahui potensi dan peluang bisnis kedua negara ini? Pengalaman itu didapat karena kebiasaan saya bolos kuliah sejak masih mahasiswa S-1.

Selasa, 4 Mei 2021 | 23:05 WIB
0
24
Sukses Berbisnis Versi Saya [2] Berkat Doyan Bolos
Paspor (Foto: dok. pribadi)

Baidewei, apakah mamak marah besar saat mengetahui, saya di DO dari ITB tersebut ?

Siapapun orang Batak yang umumnya sangat memuja titel akademik sebagai ukuran kesuksesan hidup, pastilah di DO dari universitas adalah dosa besar. Tetapi mamak ternyata meresponnya dengan santuy. Mengapa ?

Karena beliau udah melihat saya sebagai mahasiswa yatim yang produktif dan mandiri sejak lama. Sambil kuliah, udah bikin usaha sendiri. Kuliah bayar sendiri. Bahkan udah ngasih mamak angpaw tiap bulan. Mamak mana yang gak melambung melihat anaknya rutin setor japrem, meskipun kuliahnya ambyar, yeee kan?

Waktu itu, saya di DO dari S-2 Desain ITB bersamaan dengan terjadinya Krisis Moneter 1998 yang memporak-porandakan dunia bisnis di Asia. Termasuk bisnis ritel saya di mal pun klepek-klepek. Sehingga, badai krisis ekonomi ini jugalah yang memaksa saya harus fokus menerajukan bisnis ritel gerai daripada menuntaskan kuliah S-2 saya.

Rupiah nyungsep, dolar AS perkasa. Harga-harga barang melambung tinggi, diikuti oleh daya beli konsumen yang semakin hancur lebur. Omset gerai sebelum krismon yang ratusan juta perbulan, jatuh terhempas menjadi belasan juta doang. Parah banget!

Solusi mujarab apa yang bisa menyelamatkan bisnis ritel saya dari kehancuran? Ternyata solusinya adalah produk imitasi dan produk imovasi.

Dua negara jawaranya adalah South Korea dan China. Keduanya akhirnya menjadi juru selamat bisnis ritel saya.

Rupanya produktivitas manufaktur dari kedua negara Asian Tigers inilah yang akhirnya bisa menjadi sekoci penyelamatnya.

Dari mana saya mengetahui potensi dan peluang bisnis kedua negara ini? Pengalaman itu didapat karena kebiasaan saya bolos kuliah sejak masih mahasiswa S-1.

Doyan bolos kuliah demi ngebolang ke mancanegara untuk memulung "imperience" adalah kebiasaan saya yang mamak udah maklumi sejak baheula.

Beliau udah paham dengan pilihan passion yang menjadi kesuksesan versi saya sendiri. Sehingga, obsesi kesuksesan versi reifikasi (Kepintaran-Kekayaan-Ketenaran-Kekuasaan) yang acap banget menjadi standar umum tersebut gak lagi mustahak.

Kimpo, Incheon, Baiyun, Pudong International Airport...I'm coming!

(Tamat)

***