Tempo 50 Tahun [5] Superiman Meluncur dari WC

Selain menghimpun dana superjumbo, Wapres Center juga menyiapkan cetak biru untuk membangun sejumlah proyek di perbatasan Indonesia – Malaysia.

Selasa, 16 Maret 2021 | 06:27 WIB
0
31
Tempo 50 Tahun [5] Superiman Meluncur dari WC
Megawati dan Hamzah Had (Foto: celotehriau.com)

Menjelang magrib, akhir Agustus 2003 saya tiba di kosan perempuan idaman di kawasan Tomang. Kami sudah sepakat akan nomat (nonton hemat) di Jakarta Theater atau TIM. Di sela menanti si gadis mematut diri, telepon genggam saya berbunyi.

“Hei Drajat, saya pikir kamu teman. Ternyata… Jadi meluncur dari WC, ya,” sekilas saya mengenali pemilik suara. Laode Masihu Kamaludin, staf khusus Wapres. Dia menelepon dari kantornya.

Saya cuma bisa menyimak sumpah serapahnya tanpa sempat memberi penjelasan. Intinya dia sangat geram dengan artikel pertama yang saya buat saat mengikuti program M-1 di Majalah Tempo. Judulnya, “Superiman Meluncur dari WC”.

Saya tak ingat persis siapa yang memberi judul tersebut: Hanibal Wijayanta atau Pak Putu Setia. Artikel itu bercerita soal proyek di Kantor Wapres Hamzah Haz yang sebetulnya tak direstui Presiden Megawati.

Ceritanya, pada pertengahan Agustus 2003, Hamzah meluncurkan Program Gerakan Nasional Solidaritas Umat Peduli Modal Nasional (Superiman). Juga sekaligus meresmikan Wapres Center (WC) sebagai lembaga induk program tersebut.

“Kalau Ibu (Mega) diam ya jelas tidak setuju, bukan memberi restu,” kata sumber anonim yang saya dapat dari Elvy Widhoroso. Dia reporter radio yang sudah liputan di Istana sejak era Presiden Gus Dur.

Laode, dia melanjutkan, sempat dipanggil Wakil Seskab Prof Erman Rajagukguk untuk mengklarifikasi. Tapi saat ditemui usai sidang kabinet Prof Erman tak lagi bergairah membahasnya. “Saya banyak kerjaan nih,” kilahnya sambal menunjuk ke tumpukan map.

Sebaliknya Laode menyatakan sama sekali tak ada keberatan dari Mega. Buktinya sang Presiden tak menolak namanya dicantumkan sebagai panasihat. Semula, kata dia, Mega juga siap hadir di acara peresmian tapi mendadak harus memimpin rapat PDIP di Lenteng Agung.

Di WC dan Superiman juga ada nama Sekretaris Wapres Prof Prijono Tjiptoherijanto. Dia sebagai Ketua Dewan Pembina. Anggotanya Gubernur BI Burhanuddin Abdullah, Ketua Kadin Aburizal Bakrie, dan mantan Menkeu Bambang Sudibyo.

Tapi si sumber kembali menyatakan bahwa kemungkinan nama mereka dicatut. Indikasinya, Prijono yang ruang kerjanya cuma terpaut belasan meter dari tempat acara peluncuran, justru tidak hadir.

“Iya saya memang tidak hadir karena lagi banyak kerjaan,” ujarnya singkat. Selebihnya saat ditanya visi-misi Superiman dan Wapres Center, dia ogah buka mulut. “Anda ke Pak Laode saja ya.”

Sebelumnya Laode dengan ramah memaparkan soal visi-misi wapres center dan program Superiman. Dia juga mengungkapkan bakal ada fund rising dengan target menghimpun dana hingga Rp100 triliun. Dana akan disimpan di empat bank pelat merah BNI, Mandiri, BTN, dan BRI. Momor rekeningnya unik, dibuat seperti Hari Proklamasi Kemerdekaan RI: 17081945.

Dana itu untuk mendanai kredit kepada para pengusaha kecil dan menengah dengan bunga cuma 3-6 persen. Tanpa jaminan. Luar biasa. “Jika program ini berjalan, ke depan kita tak perlu meminjam dari IMF atau Paris Club,” kata Laode.

Selain menghimpun dana superjumbo, Wapres Center juga menyiapkan cetak biru untuk membangun sejumlah proyek di perbatasan Indonesia – Malaysia. Di areal tersebut kelak akan dibangun perkebunan dan pabrik pengolahan sawit, pulp, dan lainnya. Tenaga kerja yang akan diserap sejuta jiwa.

Investasi untuk semua itu akan dihimpun dari para Taipan Cina yang tersebar di 30 negara. Mereka akan bertemu pada Desember 2003 dengan fasilitator kelompok Matali (Masyarakat Tionghoa Peduli).

Di meja Laode saya lihat terselip booklet tentang WC dan Superiman. Saat Laode menerima telepon, saya menilapnya. Dari booklet itulah terpampang sejumlah nama pengusaha kakap keturunan Tiongha dari kelompok Matali.

Setelah ditelusuri melalui bantuan mbah gugel, mereka bukan pengusaha sembarangan. Tong Djoe, misalnya, dikenal sebagai ‘Raja Kapal’ peraih Bintang Jasa Pratama dari Deplu pada 1998. Lalu ada Sukanta Tanudjaja (pemilik PT Great River International, salah satu perusahaan garmen terbesar di Asia Tenggara), Anggoro Widjojo (pemilik Satelindo), serta Peggy Puger dari Bank Harda.

Tapi tak semua punya reputasi baik. Beberapa nama pernah diberitakan punya hubungan negatif dengan BPPN. Sebut saja The Nin King (bos Grup Agro Manunggal), dan Budiono Widodo (pemilik PT Sumatera Timber Utama Damai). Dia menguasai areal HPH di Taman Nasional Tigapuluh.

Juga ada Ted Sioeng, pengusaha besar di Los Angeles, AS. Dia bagian dari jaringan pengusaha Cina dengan Gedung Putih. Kompas pernah mengutip Washington Post terkait Ted pernah disidik FBI dan Jaksa Umum Janet Reno. Gegaranya, putri Ted menyumbang ke Komite Nasional Demokratik pada 1996 sebesar 250 ribu dolar. Juga ke Partai Republik sebesar 50 ribu dolar.

Nama Superiman, kata Wapres Hamzah Haz saat peluncuran program, disodorkan aktivis Budha, Lieus Sungkharisma. Lieus juga diketahui sebagai Ketua Partai Tionghoa Indonesia (Parti). Bersama Yusuf Siregar dan Budiono Widodo, mereka merogoh kocek masing-masing Rp100 juta untuk program itu.

Menurut sumber tadi, Matali menembus pintu Wapres lewat Irwan Artigtyo Sumadhijo dan Sheito Kobayashi. Irwan adalah putra Rachmadi Bambang Sumadhijo, menteri PU era BJ Habibie. Sheito merupakan peranakan Tionghoa-Jepang yang punya akses ke Matali.

Kedua orang itulah yang sebetulnya jadi penggagas Wapres Center. Setidaknya itu terbaca dari lembar pengantar booklet, “Pertemuan Wapres HH dengan Matali” pada 12 Mei 2003. Hanya, di booklet itu nama keduanya sudah ditutupi kertas putih. Tinggalah nama Hamzah yang tertera.

Sejak artikel itu terbit, Laode biasa memalingkan muka jika berjumpa saya. Atau pura-pura tak melihat. Pernah saat saya dan beberapa teman kongkow di Peacock Café, Hotel Hilton bersama Ketua Pansus RUU Pemerintah Aceh, Ferry Mursyidan Baldan, saya sengaja dilewat. Padahal teman yang lain ditegur dan disalami.

Lain lagi dengan Lieus. Dia mendatangi kantor redaksi dan misuh-misuh. Intinya menganggap artikel yang saya buat tidak akurat, dan meminta semacam hak jawab di halaman yang sama.

Mas Karaniya Dharmasaputera dan Hanibal Wijayanta yang menerima kedatangannya tentu menolak permintaan tersebut. Keberatan dia ditampung di rubrik surat pembaca. (Soal Lieus, mohon koreksi mas Hanibal bila kurang akurat).

***