Sibuk Urusi Covid, Harga Minyak Goreng Naik Tak Terkendali Dibiarkan

Pemarintah harus tegas kepada produsen minyak goreng yang menguasai dari hulu dan hilir. Mempunyai perkebunan kelapa sawit dan pabrik untuk memproduksi minyak goreng.

Jumat, 14 Januari 2022 | 06:01 WIB
0
27
Sibuk Urusi Covid, Harga Minyak Goreng Naik Tak Terkendali Dibiarkan
Minyak goreng (Foto: tempo.co)

Pemerintah terlalu fokus penanganan covid selama ini. Bahkan covid yang sudah berjalan dua tahun lebih ini belum ada tanda-tanda akan berakhir. Malah, muncul varian baru yang mengakibatkan banyak negara waspada dan saling tutup pintu masuk.

Namun, justru di tengah pandemi yang belum berakhir ini-malah harga-harga kebutuhan pokok naik. Seperti harga telur, ayam, gula pasir dan yang bikin menjerit ibu rumah tangga kenaikan minyak goreng.

Bahkan pemeritah sepertinya juga tidak berdaya menghadapi kenaikan harga minyak goreng ini. Dan tidak menyangka atau memprediksi ditengah pandemi harga minyak goreng bakal naik tak terkendali.

Kenaikan harga minyak goreng dipicu kenaikan harga Crude Palm Oil (CPO) di pasaran dunia. Hal inilah yang menjadi alasan produsen minyak goreng menaikkan harga.

Sungguh ironi,negara yang kaya akan sumber bahan baku minyak goreng yaitu CPO malah harga minyak goreng naik tinggi dan tak terkendali. Padahal CPO bukan komuditas impor seperti bahan bakar minyak.

Kalau bahan bakar minyak wajar dengan memakai acuan harga pasar internasional. Karena memang Pertamina melakukan impor untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri. Dan harga bahan bakar minyak juga bisa naik dan turun. Tergantung harga dipasaran internasional. Kalau harga pasaran internasional turun,maka harga bahan bakar juga bisa turun. Begitu juga sebaliknya.

Sedangkan CPO sebagai bahan baku minyak goreng cukup melimpah di negeri ini dan tidak usah impor dari negara lain. Kenaikan harga CPO di pasaran internasional menjadi dalih dan alibi untuk menaikkan harga minyak goreng yang membuat ibu rumah tangga menjerit.

Anehnya ketika harga CPO turun bertahun-tahun lamanya, harga minyak goreng tidak pernah turun. Artinya produsen mendapat keuntungan yang berlipat-lipat ganda. Tentu ini tidak adil. Ketika harga CPO naik, harga minyak goreng dinaikkan.Tetapi,ketika harga CPO turun-harga tidak turun.

Memang, dengan kenaikan harga CPO di pasaran internasioal menguntungkan produsen dan petani kelapa sawit dan masyarakat yang merasa dirugikan dengan naiknya harga minyak goreng. Tetapi ketika harga CPO turun, produsen tetap untung karena tidak menyebabkan turunya harga minya goreng dan petani merasa merugi karena harga beli CPO jadi turun. Tetapi masyarakat yang selalu dirugikan, "baik CPO turun atau naik",sama-sama membeli lebih mahal dari yang seharusnya.

Pemarintah harus tegas kepada produsen minyak goreng yang menguasai dari hulu dan hilir. Mempunyai perkebunan kelapa sawit dan pabrik untuk memproduksi minyak goreng. Ujung-ujungnya nanti pemerintah yang bakal keluar duit untuk subsidi harga minyak goreng.

***