Nasib Perempuan, Dilahirkan Bebas Namun Terpenjara Dimana-mana

Kamis, 4 Oktober 2018 | 19:41 WIB
0
640
Nasib Perempuan, Dilahirkan Bebas Namun Terpenjara Dimana-mana

Ah, betapa sulitnya menjadi perempuan. Seperti kata Jean-Jacques Rousseau, seorang pemikir Perancis, manusia dilahirkan bebas, namun dimana-mana, ia dipenjara. Begitulah nasib perempuan. Ia dilahirkan bebas, namun dimana-mana, ia dipenjara.

Siapa yang memilih untuk menjadi perempuan? Ketika lahir, alat kelamin sudah ditentukan oleh alam. Namun, dengan perbedaan kelamin, perbedaan peran sosial pun lahir. “Perempuan” adalah peran sosial yang diciptakan oleh masyarakat, dan bukan oleh alam.

Semua orang memasuki gerbang kehidupan melalui perempuan. Sebagian besar manusia menjadi penghuni rahim perempuan sembilan bulan lamanya. Di sanalah kehidupan tercipta, ketika benih pejantan membuahi telur betina. Di sanalah keajaiban yang sesungguhnya terjadi.

Ketika pertama kali menginjak dunia, setiap orang juga dibimbing oleh perempuan. Cara-cara dunia juga pertama kali diajarkan oleh perempuan. Perempuanlah yang sesungguhnya menjadi tulang punggung keluarga. Tanpa perempuan, keluarga akan tersesat di jalan.

Sayangnya

Sayangnya, hampir di seluruh penjuru dunia, perempuan dipenjara. Budaya memenjarakannya. Masyarakat menjajahnya. Perempuan memberi, namun ia tak pernah sungguh dihargai.

Dia tak boleh belajar. Kecerdasan dianggap sebagai sumber pemberontakan yang menganggu harmoni masyarakat. Dia bahkan tak boleh bekerja. Seumur hidupnya, semua keputusannya didikte oleh lingkungan sosialnya, terutama para pria.

Ajaran beberapa agama mengekangnya begitu erat. Tubuhnya dipenjara, karena takut mengundang nafsu pria. Perempuan bahkan tak bisa memilih, pakaian apa yang sesuai dengan dorongan hatinya. Ia harus tunduk pada ajaran masyarakat yang menindas.

Peradaban lain menelanjanginya. Lekukan tubuhnya dijadikan komoditi dagang. Keindahan ragawinya dijadikan tontonan murahan. Jati diri perempuan disempitkan menjadi semata obyek kepuasan para pria.

Ketika krisis dan perang tiba, perempuan juga menjadi korban. Mereka diperkosa, tanpa ampun. Beberapa dibunuh, setelah diperkosa. Lainnya harus hidup dengan trauma dan rasa malu.

Beberapa perempuan sudah menyerah. Mereka melihat penindasan sebagai takdir yang mesti dijalani. Mereka menyerap penjajahan menjadi bagian dari hidup mereka sendiri. Mereka justru ingin dijajah, dan dijadikan komoditi.

Beberapa perempuan berusaha melawan. Mereka ingin mengungkap berbagai penindasan yang terjadi. Mereka ingin melakukan perubahan sosial. Musuh utamanya adalah mental patriarki, yakni mental yang menindas perempuan dengan menggunakan ajaran-ajaran tradisional yang ditafsirkan serampangan.

Menanti Pembebasan

Sebagai ibu dari kehidupan, perempuan harus keluar dari penindasan. Ia mesti sadar, bahwa peran sosial yang ia jalani bukanlah sebuah kemutlakan. Pilihan ada di tangannya, asal didasari kesadaran, bahwa kehidupan bertopang di bahu mereka. Ia mesti bangkit dari perasaan tak berdaya yang ditimpakan kepadanya oleh masyarakat.

Namun, ini semua tergantung dari perempuan itu sendiri. Bisa dibilang, kunci perubahan sosial adalah perubahan di dalam cara perempuan memandang dunianya. Kaum perempuan bisa bekerja sama dengan gerakan-gerakan pembebasan lainnya. Namun, pengalaman perempuan tetaplah sebuah pengalaman yang unik, yang tak tergantikan oleh apapun juga.

Menjadi perempuan berarti menjadi perawat kehidupan. Menjadi perempuan juga berarti hidup dalam dilema. Ia dipuja dan dibutuhkan, namun dijajah sepanjang jalan kenangan. Sudah waktunya, dilema ini diakhiri. Kita perlu mendorong pembebasan kaum perempuan.

Sekarang.

***