Saya dan Bu Mega (2): Datangnya Massa Siluman yang Bukan Kader PDI

Sabtu, 22 September 2018 | 00:54 WIB
0
69
Saya dan Bu Mega (2): Datangnya Massa Siluman yang Bukan Kader PDI

Suaranya terdengar keras dari balik celah kaca jendela mobil yang menganga. Lelaki misterius itu cukup sopan dalam “menghardik”, sebab kata “Pak” ia sematkan. Maknanya tidak lain orang yang sedang rebahan di jok mobil belakang kemudi itu, yaitu diriku sendiri, dipandangnya sebagai orang penting. Pikiran cepat bekerja, setidak-tidaknya ia intel yang bertugas memantau keadaanlah.

“Ada apa ya, Mas? Kenapa harus pindah?” tanyaku sambil mengangkat tuas jok agar sandaran tegak kembali dan posisinya kumajukan lagi ke depan. Sementara itu, tangan merogoh saku celana untuk meraih kunci mobil. Dalam kesadaran yang belum pulih benar, lelaki itu hanya bilang, “Waktunya segera tiba!”

Segera kupahami apa yang dikatakan lelaki misterius yang belum kukenal itu. Dia boleh jadi mengira aku petugas keamanan, setidak-tidaknya intel dari tubuh militer. Untuk itulah mengapa lelaki itu cukup ramah dalam membangunkan dan memintaku memindahkan kendaraan. Coba kalau tahu aku wartawan, mungkin mobil sudah digedor keras-keras. Ah, suudzon.

Isu penyerbuan kantor DPP PDI memang sudah “bocor” tiga hari sebelumnya dan rapat redaksi Harian Kompas memintaku pasang-mata dan telinga. Perintah ini bermakna aku harus selalu berada di lapangan!

Kepala desk politik James Luhulima sebelumnya menugaskanku memantau langsung titik penyerbuan, yakni kantor DPP PDI yang memang telah diincar penguasa sejak lama. Kantor DPP PDI itu menjadi lambang perjuangan, pergerakan, sekaligus perlawanan. Sebuah insting jurnalistik yang jitu, sebab tidak banyak jurnalis yang beredar pada dinihari itu.

Aku merayap dari halaman kantor DPP PPP pada dinihari yang sepi lewat jalan belakang. Beberapa orang terlihat di pinggir Jalan Diponegoro, tetapi orasi dan keriuhan sebagaimana hari-hari biasa terjadi di halaman kantor DPP PDI di sebelahnya, sudah tidak kudengar lagi. Mungkin mereka lelah.

Mobil mlipir kubawa ke Stasiun Cikini yang tidak jauh dari tempat itu tetapi mengunakan jalan memutar. Tetapi di sana aku melihat beberapa truk tentara yang pada siang harinya tidak pernah kulihat. Jeep kemudian kuarahkan ke Jalan Surabaya yang berada di seberang jalan di mana kantor DPP PPP dan DPP PDI itu berdiri. Tidak ada mobil yang terparkir di depan pasar yang menjual barang-barang antik itu. Lengang.

Jam di pergelangan tangan menunjukkan pukul tiga dinihari. Udara di luar cukup dingin tapi tidak membuat tubuhku kedinginan.

Aku melintas sendiri di sana dengan maksud kembali memantau Jalan Diponegoro. Tetapi di ujung jalan kulihat ada beberapa orang berseragam PDI dengan bandana terikat di kepala. Lho, mengapa simpatisan Mbak Mega, sebutan untuk Ketua Umum PDI saat itu, berkeliaran di luar dan tidak berkonsentrasi di halaman kantor DPP PDI?

Wah, bakal seru dan mengerikan, batinku. Kuyakini, mereka ini, para pria berseragam kaus merah dengan ikat kepala itu, bukan bagian orang-orang yang biasa kulihat di halaman kantor DPP PDI. Lalu dari mana?

Beruntung, ujung jalan Surabaya itu masih dapat kulalui dan mobil bergerak ke kiri menuju arah RSCM. Aku bermaksud memarkirkan kendaraan di sekitar kantor LBH yang sudah tidak asing lagi buatku, tempat di mana aktivis seperti almarhum Munir dan Ketua PRD Budiman Sujatmiko berkumpul. Rencanaku, akan kuparkir kendaraan di sana kemudian berjalan kaki memantau situasi, termasuk titik yang tidak boleh kulewatkan, yakni kantor DPP PDI yang isunya akan segera diserbu.

Dan.... penyerbuan itu benar-benar terjadi sekitar pukul lima, setengah jam setelah adzan subuh ramai berkumandang, atau setelah lintang kemukus terakhir mengerjapkan sinarnya di langit timur...

(Bersambung)

***

Tuisan sebelumnya:

 

http://pepnews.com/2018/09/21/saya-dan-bu-mega-1-22-tahun-setelah-peristiwa-27-juli-1996/