Saya dan Bu Mega (1): 22 Tahun Setelah Peristiwa 27 Juli 1996

Kamis, 20 September 2018 | 23:29 WIB
0
69
Saya dan Bu Mega (1): 22 Tahun Setelah Peristiwa 27 Juli 1996

Sebuah pesan WA masuk pukul 21.36 hari Rabu, 19 September 2018: "Mas Pepih, bsk jam 13.30 ke DPP ya. Kami mau luncurkan baju Partai model milenial".

Si pengirim pesan bernama Hasto Kristiyanto. Jabatan yang disandangnya sekarang Sekretaris Jenderal Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan atau biasa disingkat PDIP. Untuk konteks kekinian, dialah "The real center of power" partai berkuasa (the rulling party) saat ini.

Saya baru merespons pesan WA Mas Hasto -demikianlah kami saling memanggil "Mas"- keesokan harinya pukul 04.30 usai shalat Subuh. Kebiasaan saya sebelum menghadapi komputer cangking adalah membuka-buka pesan yang masuk via aplikasi WA, sepenting saya menyeruput kopi tanpa gula, rutinitas sekaligus ritual pribadi memulai hari.

Adapun perkenalan saya dengan Hasto sangat cepat. Adalah Anton Dwisunu Hanung Nugrahanto (yaolo... panjang bener ini nama) yang memperkenalkan saya dengan politikus PDIP kelahiran Jogjakarta 7 Juli 1966 ini. Anton yang kini calon legislator PDIP dari Dapil Jawa Barat adalah teman lama saya di laman Bukumuka (Facebook). Jika harus menyisir siapa ahli Facebook Indonesia saat ini, dialah orangnya!

Anton ingin sekali mempertemukan saya dengan Hasto dan bahkan dengan Megawati Soekarnoputri!

Kembali ke pesan WA Hasto, saya menyanggupinya untuk hadir.

Sebagai teman, saya memberi masukan untuk acara itu tanpa diminta. Usia saya terpaut dua tahun dengan Sang Sekjen. Saya yang lebih tua ternyata. Keuntungan usia lebih tua ini saya manfaatkan untuk "mengatasinya" dengan memberi masukan terkait acara itu dari sisi filosifis dan praktis, juga isu yang kemungkinan berseliweran di jagat politik dari kacamata saya sebagai "the outsiders".

Mengapa saya lancang dan berani memberi masukan kepada Hasto?

Sebab, pekerjaan saya sebelumnya sebagai wartawan koran terbesar negeri ini, Harian Kompas, tidak lepas dari goreng-menggoreng isu, membuat agenda setting, terbiasa melihat menggunakan kacamata helikopter, wajib memahami scope dan latar belakang persistiwa dan seterusnya. Keterampilan itulah yang saya tembakkan ke Hasto dengan narasi yang saya ciptakan sendiri. Dan... tepat sasaran!

Hasto tidak marah dengan narasi saya, malah berterima kasih!

Singkat cerita, pada pukul 13.00 atau setengah jam sebelum acara itu dimulai, Kamis 20 September 2018 saya sudah berada di kantor DPP PDIP di Jalan Diponegoro. Sebuah gedung megah bercat putih dengan lift yang mendesis nyaris tanpa suara mengantarkan saya ke lantai paling mentok dengan atap yang paling dekat dengan langit, lantai pamuncak.

Di dalam lift pikiran saya terperangkap pada kenangan masa lalu. Terakhir saya menginjak gedung ini pada 27 Juli 1996 atau lebih dari 22 tahun yang lalu! Tak terasa waktu demikian cepat berlalu bagai angin barat.

Kalian para kaum milenial mungkin tidak akan paham dengan tanggal "keramat" ini, setidak-tidaknya tanggal yang wajib dikenang oleh seluruh kader PDIP. Inilah tanggal saat kalian baru lahir atau saat ibu kalian mengandung dan sebentar kemudian melahirkan.

Inilah momen puncak dari awal kejatuhan Soeharto sebagai Presiden paling represif di mana secara vulgar dan kasar terjadi penyerbuan kantor DPP PDI (belum pakai embel-embel "Perjuangan) oleh militer dan rakyat sipil yang diback up aparat!

Peristiwa setelah 22 tahun berlalu ini membuka kenangan lama yang tersimpan dalam bilik ingatan saya ketika saya selaku wartawan ditugasi untuk meliput momen-momen kejatuhan PDI yang saat dipimpin Megawati Soekarnoputri.

Di sudut lain sejarah politik kelam Indonesia sebagimana kebiasaan Soeharto, berdiri PDI tandingan yang dibesut trio Soerjadi-Buttu Hutapea-Fatimah Achmad, untuk melumpuhkan Megawati yang dalam pandangan Soeharto adalah orang yang berpotensi menjadi pemimpin negeri yang dikhawatirkannya bakal menggantikan kedudukannya. Tentu saja Mega harus dihabisi dengan berbagai cara. Cara halus sampai pembunuhan jika terpaksa harus dilakukan.

Dan, 22 Juli 1996 adalah momen kekerasan yang dipilih Soeharto, sekaligus awal kejatuhannya paling telanjang yang kelak dikenal sebagai "Peristiwa 27 Juli" itu.

Pada momen ini, saya mulai kenangan ini dengan memeras ingatan sebagaimana saya tuturkan berikut ini dengan menggunakan kata ganti "aku", biar lebih nyastra....

Mata baru bisa benar-benar terpejam sekitar pukul dua dinihari. Sandaran jok mobil belakang kemudi sengaja kumundurkan dan kurebahkan sampai membentuk sudut 150 derajat. Jendela kaca kiri dan kanan juga kuturunkan untuk memastikan sirkulasi udara berjalan lancar selain mengusir kemungkinan masuknya gas monokisida berbahaya.

Sesungguhnya, cukup nyaman untuk sekadar merebahkan diri di dalam kabin Jeep bercat hijau model Angkatan Darat itu, sebuah warna yang dipilih bukan tanpa sengaja, yakni untuk penyamaran sekaligus pengelabuan. Semua dimaksudkan demi keamanan saat jurnalis melaksanakan tugas lapangan. Inilah Jeep Daihatsu Hiline operasional kantor kami untuk keperluan liputan lapangan yang sengaja kupinjam.

Penat yang menyengat setelah seharian berada di lapangan membuat kesadaran lekas menguap saat tubuh sudah telentang dengan kedua kaki berada di atas pedal gas dan rem kendaraan roda empat ini. Laporan ke kantor sebagai “berita” cukup disampaikan melalui handy talky Motorolla yang selalu tersemat di pinggang. Tidak harus mengetik di kantor, selebihnya laporan cukup disampaikan dari lapangan. Lumayan memperingan pekerjaan.

Sementara, penugasan dari Palmerah Selatan, di mana kantor kami berdiri, dilakukan melalui pager Starco atau handy talky. Ini menandakan situasi sudah sangat genting, setidak-tidaknya untuk ukuran kantor di mana aku bekerja.

Jeep kuparkir di halaman kantor DPP Partai Persatuan Pembangunan di Jalan Diponegoro, Jakarta Pusat, bersebelahan dengan kantor DPP Partai Demokrasi Indonesia yang setiap hari selalu ramai oleh orasi. Naluri membisikkan, besok pagi bakal terjadi penyerbuan ke kantor yang diduduki kader militan PDI pimpinan Megawati Soekarnoputri yang menamakan diri “wong cilik” itu.

Untuk itulah mengapa dinihari 27 Juli 1996 itu aku tidak berada di kamar rumah yang nyaman menemani istri yang tengah hamil tua. Anak pertamaku sudah berada hampir sembilan bulan di dalam rahim ibunya dan aku sungguh merindukannya, menunggu kelahirannya segera datang sekitar dua minggu lagi sebagaimana diperkirakan dokter kandungan.

Dan, pada dinihari itu kaca jendela mobil mendadak diketuk beberapa orang cukup keras.

Perampokankah? Mengingat suasana cukup sepi dan mencekam di sekitar dua kantor partai politik itu, segala kemungkinan bisa saja terjadi, termasuk perampokan. Ini Jakarta.

Di halaman kantor DPP PPP itu, memang hanya ada mobil operasional yang kupinjam dan sudah terparkir sejak tengah malam tadi, selebihnya halaman kantor DPP PPP dikuasai sepeda motor, entah milik siapa.

“Pak, Pak.... tolong mobilnya dipindahkan jauh-jauh, jangan parkir di sini!” Seorang lelaki yang wajahnya temaram karena kurang berpenerangan memintaku untuk segera pergi...

(Bersambung)

***