Bik Narti, Ibu Yuli dan Ibu Lia, apakah ketiga nama ini benar-benar nyata ada atau hanyalah rekaan belaka? Dua nama terakhir, yaitu Ibu Yuli dan Ibu Lia menjadi simbol masyarakat bawah yang menjadi korban naiknya mata uang dollar.
Ibu Yuli warga Duren Sawit disebut oleh cawapres Sandiaga Uno, bahwa dialah salah satu yang menjadi korban dengan kondisi ekonomi yang lagi sulit karena naiknya mata uang dollar atau melemahnya nilai rupiah. Karena kondisi ekonomi sulit dan dollar naik, maka berakibat ukuran tempe menjadi lebih kecil atau tipis setipis kartu ATM. Ini menurut cawapres Sandiaga Uno.
Dan ibu Lia adalah warga Pekanbaru Riau yang belanja dengan uang Rp100 ribu hanya bisa membeli cabe dan bawang. Seakan uang Rp100 ribu sudah tidak ada nilainya karena hanya bisa membeli cabe dan bawang saja. Ini seolah menjadi gambaran bahwa barang-barang kebutuhan pokok pada naik karena imbas naiknya mata uang dollar.
Gambarannya adalah kondisi ekonomi masyarakat bawah semakin sulit. Karena harga-harga barang pada naik. Apakah ada harga-harga yang mengalami penurunan? Ada, yaitu turunnya harga diri dan turunnya celana kolor!
Kalau Bik Narti juga menjadi simbol kemiskinan warga Jakarta pada waktu pilkada, bahkan nama Bik Narti sering disebut-sebut waktu kampanye.
Apakah ketiga nama tersebut nyata ada atau hanyalah rekaan belaka yang dikarang oleh cawapres Sandiaga Uno?Tentu yang tahu hanya yang bersangkutan. Seorang politikus memang harus pandai mengarang cerita, seperti Stand Up Comedy.
Seorang politikus yang sedang mengundi nasib untuk memburu jabatan baik dalam pilkada atau dalam pilpres memang terkadang pandai mengarang cerita tentang kondisi masyarakat, seperti kondisi ekonomi yang makin sulit, daya beli makin rendah dan harga kebutuhan pokok makin mahal atau naik.
Hal itu dilakukan seolah menjadi penyambung lidah masyarakat bawah dan untuk merebut simpati. Dan yang bisa mengatasi masalah tersebut atau solusinya, yaitu kalau dia menjadi presiden atau wakil presiden. Kalau mereka tidak menjadi presiden dan wakil presiden, maka kondisi ekonomi makin terpuruk dan yang menjadi korban adalah masyarakat. Itulah yang namanya politikus yang sedang memburu atau mengundi nasib.
Namanya politikus yang sedang berburu atau mengundi nasib, mereka kaya tetapi merasa miskin, dia bahagia tetapi merasa sedih, ekonomi sedang baik tapi dia merasa ekonomi sedang susah, harga-harga stabil tapi dia merasa harga sedang naik. Seolah-olah dunia mau kiamat.
Tapi anehnya, ekonomi yang digambarkan sedang sulit dan susah atau daya beli masyarakat rendah, harta atau aset mereka malah naik tajam dan pundi-pundi keuntungan atau kekayaan makin meningkat. Tentu ini berbeda jauh dengan apa yang mereka katakan sebelumnya, yang katanya ekonomi sedang sulit dan harga-harga merangkak naik.
Politikus yang sedang memburu kekuasaan terkadang lihai dan pinter menyerap aspirasi masyarakat bawah yang lagi berkeluh kesah soal sulitnya ekonomi dan mereka akan mendramatisir atau mengeksploitasi kemiskinan atau penderitaan masyarakat untuk kepentingan politik kekuasaan. Kalaupun terpilih, masyarakat tersebut akan tetap miskin dan nasibnya tidak akan berubah.
Tetapi jangan lupa, ini masa-masa "peperangan" Pilpres antarpendukung masing-masing pihak; kubu Prabowo-Sandiaga melawan Jokowi-Ma'ruf. Sama seperti Jokowi mengatakan ekonomi meroket, maka video yang menunjukkan tangan Jokowi yang melesat ke atas menjadi candaan pendukung oposisi, bahkan terus diputar-putar.
"Kesulitan ekonomi" yang digambarkan Sandiaga pun menjadi olok-olok kreatif yang ramai di media sosial. Tempe sudah setipis ATM misalnya, digambarkan ada orang yang mengambil uang di box ATM menggunakan tempe sebagai kartunya.
Juga ketika Rp100 ribu hanya bisa belanja cabe dan bawang, Guntur Romli bikin video tentang belanjaan istrinya di mana dengan uang sebesar itu memperoleh berbagai kebutuhan sehari-hari, lalu Guntur teriak, "Sandi, kamu bohong!"
Bik Narti, Ibu Yuli dan Ibu Lia bisa jadi hanyalah nama-nama rekaan yang digunakan oleh seorang politikus yang sedang berburu kekuasaan atau mengundi nasib.
Untuk membuktikan bahwa nama-nama itu ada dan bukan rekaan semata, beranikah kita bertanya kepada Sandiaga?
Kita? Kalian aja deh!
***
Welcome Citizen Polite!
Setelah melalui perjalanan cukup panjang sebagai website warga menulis politik yang ekslusif, kini PepNews terbuka untuk publik.
Para penulis warga yang memiliki minat dan fokus pada dunia politik mutakhir Tanah Air, dapat membuat akun dan mulai menuangan ide, pandangan, gagasan, opini, analisa maupun riset dalam bentuk narasi politik yang bernas, tajam, namun tetap sopan dalam penyampaian.
Wajah berganti, tampilan lebih “friendly”, nafas tetaplah sama. Perubahan ini bukan hanya pada wajah dan rupa tampilan, tetapi berikut jeroannya.
Apa makna dan konsekuensi “terbuka untuk publik”?
Maknanya, PepNews akan menjadi web portal warga yang tertarik menulis politik secara ringan, disampaikan secara bertutur, sebagaimana warga bercerita tentang peristiwa politik mutakhir yang mereka alami, lihat dan rasakan.
Konsekuensinya, akan ada serangkaian aturan adimistratif dan etis bagi warga yang bergabung di PepNews. Aturan paling mendasar adalah setiap penulis wajib menggunakan identitas asli sesuai kartu keterangan penduduk. Demikian juga foto profil yang digunakan.
Kewajiban menggunakan identitas asli berikut foto profil semata-mata keterbukaan itu sendiri, terlebih untuk menghindari fitnah serta upaya melawan hoax.
Terkait etis penulisan, setiap penulis bertanggung jawab terhadap apa yang ditulisnya dan terhadap gagasan yang dipikirkannya.
Penulis lainnya yang tergabung di PepNews dan bahkan pembaca umumnya, terbuka memberi tanggapan berupa dukungan maupun bantahan terhadap apa yang ditulisnya. Interaktivitas antarpenulis dan antara pembaca dengan penulis akan terbangun secara wajar.
Agar setiap tulisan layak baca, maka dilakukan “filtering” atau penyaringan tulisan berikut keterangan yang menyertainya seperti foto, video dan grafis sebelum ditayangkan.
Proses penyaringan oleh administrator atau editor dilakukan secepat mungkin, sehingga diupayakan dalam waktu paling lambat 1x24 jam sebuah tulisan warga sudah bisa ditayangkan.
Dengan mulai akan mengudaranya v2 (versi 2) PepNews ini, maka tagline pun berubah dari yang semula “Ga Penting Tapi Perlu” menjadi CITIZEN POLITE: “Write It Right!”
Mari Bergabung di PepNews dan mulailah menulis politik!
Pepih Nugraha,
CEO PepNews