SBY Mulai Gamang, Koalisi Belum Ada Kemajuan

Kamis, 2 Agustus 2018 | 09:16 WIB
0
383
SBY Mulai Gamang, Koalisi Belum Ada Kemajuan

Kegamangan Demokrat dalam koalisi Prabowo terlihat jelas, hal ini dinarasikan dari retorika SBY, juga dari gesture tubuhnya. Tidak bisa dipungkiri, karena keberadaan Demokrat dalam koalisi tersebut hanya dianggap sebagai partisipan -kalau tidak mau disebut pendompleng- meskipun SBY sesungguhnya ingin memperlihatkan bahwa dia yang akan memegang kemudi koalisi.

SBY memang tidak ingin memperlihatkan bahwa Demokrat berkoalisi dengan Gerindra, PKS dan PAN, satu paket dengan AHY untuk diusung sebagai Cawapres, tapi bahasa bersayap SBY tetap saja mengisyaratkan bahwa Demokrat ingin AHY sebagai Cawapres Prabowo. Dalam pertemuan kedua kalinya antara SBY dan Prabowo, SBY mengajukan cuma satu syarat, pilihlah Cawapres yang dinginkan masyarakat.

Dari pernyataan ini bisa diasumsikan bahwa maksud dari kata "diinginkan" tersebut erat kaitannya dengan "elektabilitas," karena keterpilihan itu jelas karena diinginkan. Dari Dua Cawapres hasil Ijtima Ulama GNPF bisa saja Ada yang tergolong diinginkan masyarakat, contohnya Ustadz Abdul Somad (UAS), tapi Salim Segaf Al Jufri, mungkin sebagian besar masyarakat belumlah terlalu mengenalnya.

Kalau berdasarkan hasil survey, Anies Baswedan dan Agus Harimurti Yudhoyono (AHY), adalah kandidat Cawapres yang sangat diinginkan masyarakat sebagai Cawapres Prabowo. Jadi cukup jelas sebetulnya apa yang dikehendaki oleh SBY. Boleh saja dia mengatakan bahwa tidak memaksakan AHY sebagai Cawapres, tapi seperti biasanya, apa yang dikatakan SBY lain dengan yang ada di hatinya.

Merapatnya SBY ke Prabowo sebetulnya dalam rangka untuk menaikkan posisi tawarnya terhadap Koalisi Jokowi.

Rupanya kubu Jokowi tidaklah terlalu mempersoalkan SBY mau merapat ke manapun. Keinginan SBY sebetulnya bergabung dengan Jokowi, namun dalam pandangan SBY terlalu banyak penghalangnya. SBY terlalu Baper, dan selalu Baper dalam segala Hal, sehingga terkesan selalu ragu. Mau ke Jokowi ragu, sudah di Prabowo pun tetap ragu.

Partai Demokrat menilai Koalisinya dengan Prabowo belum Ada kemajuan, hal ini dikatakan oleh wakil Ketua umum Partai Demokrat, Syarief Hasan. Syarief menyatakan, belum ada sikap legawa dari PAN dan PKS soal cawapres pendamping Ketua Umum Gerindra Prabowo Subianto di Pilpres 2019. Nah, apa tidak semakin mumet itu.

"Ya pokoknya saya pikir belum banyak kemajuan. Kemajuan, yang dikatakan kemajuan itu kalau semuanya sepakat menyerahkan kepada Prabowo cawapresnya, tanpa tekanan. Semua serahkan kepada Prabowo siapa yang mau dipilih. Itu baru ada kemajuan," kata Syarief saat dihubungi, Rabu 1 Agustus 2018.

Prabowo juga pastinya sangat dilematis, antara memenuhi rekomendasi ijtima Ulama GNPF, juga mempertimbangkan apakah Cawapres yang diajukan tersebut layak jual dengan memilih Cawapres di luar dari rekomendasi tersebut.

Kalau mengambil Cawapres di luar rekomendasi pastinya PKS akan merajuk. Menerima rekomendasi harus siap dengan resiko kalah. Sementara dalam kamus Koalisinya dengan SBY tidak ada istilah kalah, harus menang dengan strategi yang matang.

Jadi kegamangan SBY, mau bergabung ke Jokowi sudah tidak mungkin, kalaupun memaksakan bergabung dengan Prabowo ya harus siap terima nasib. Syukur-syukur kalau Prabowo menentukan sikap bahwa AHY menjadi Cawapresnya, dan siap menerima resiko tidak mendapat dukungan dari PA 212 dan GNPF.

Kalau Prabowo menerima rekomendasi Ijtima Ulama GNPF, dengan sangat terpaksa SBY harus manut.

***