Tiba-tiba Washington berubah arah. Kebijakan ‘America First’-nya Donald Trump kesandung "One Belt One Road"-nya Xi Jinping.
Ini terjadi dua hari lalu. Tanggal 30 Juli 2018. Amerika punya kebijakan baru: Many Belts Many Roads. Nama resminya: Indo Pasific Region Economic Vision.
Itu benar-benar visi baru. Atau visi lama yang diperbaharui. Yang akan menggabungkan tiga peluru: pembangunan, pertahanan dan diplomasi. Menjadi satu senjata.
Amerika akhirnya sangat khawatir. Dengan perluasan pengaruh Tiongkok. Yang kian gila-gilaan. Di Asia Pasific. Dan di Afrika. Lewat kebijakan OBOR-nya.
Apa kata Xi Jinping? Soal "many belts many roads" itu?
Positif. Katanya: Itu bagus. Bersaing dalam kebaikan. Daripada saling serang. Begitulah kurang lebihnya.
Ide Many Belts Many Roads itu sudah bergulir sejak beberapa bulan lalu. Saat pembahasan APBN di DPR. APBN Amerika 2018.
Di situ disebutkan dengan tegas: program OPIC harus diakhiri. Proyek-proyeknya harus dikurangi. Itu tidak sejalan dengan program Presiden Trump: America First. Juga bertentangan dengan isi kampanyenya dulu: bantuan luar negeri harus dikurangi.
Sejak dulu Amerika punya dua lembaga: USAID dan OPIC. Untuk bantuan luar negeri. Yang pernah dibantu pun tidak membantu Amerika. Begitu logika Trump.
Tugasnya sama-sama memberikan bantuan: USAID yang menyalurkan sumbangan. OPIC yang menyalurkan kredit murah.
Tujuannya sama: untuk memperluas pengaruh Amerika. Jelasnya: untuk membendung meluasnya pengaruh Uni Soviet. Pengaruh Russia. Pengaruh komunis. Musuh Amerika No.1. Sebelum ada terorisme.
Tiongkok tidak masuk hitungan. Saat itu. Masih kategorikan negara sangat miskin. Justru Tiongkoklah yang harus menerima bantuan. Seandainya Tiongkok tidak komunis.
Masih ada dua senjata lagi yang dimiliki Amerika: diplomasi dan invasi.
Tapi diplomasi saja tidak cukup. Untuk meminjam istilah politik di Indonesia: visi tanpa gizi tidak ada arti. Tanpa uang mana ada yang bisa menang?
Invasi juga tidak berhasil. Bahkan hanya menimbulkan citra negatip. Invasi ke Irak, misalnya, justru Amerika membantu Syiah. Sejak Saddam Husain dijatuhkan Syiahlah yang berkuasa: selalu menang Pemilu di Irak.
Kini Amerika ingin menggabungkan semua itu: visi-gizi-amunisi.
Caranya pun sudah ditemukan. Tanggal 17 Juli lalu, saat ViaVallen berulang tahun, DPR Amerika ketok palu: mengesahkan UU baru. Namanya: BUILD Act.
Itulah undang-undang yang jadi dasar hukum berdirinya USIDFC. Uuh sulitnya nama ini. Singkatan dari United States International Development and Financial Corporation.
Agar tidak lupa, saya ulangi lagi singkatannya: USIDFC. Sulit hafal kan? Dalam sastra Arab (ilmu balaghah) kata yang sulit diucapkan seperti itu disebut tanafurul kalam. Harus dihindari.
USIDFC adalah lembaga baru. Hasil merger antara USAID dengan OPIC. Mungkin tidak akan ada lagi bantuan murni. Yang selama ini disalurkan lewat USAID. Mungkin semua bantuan bentuknya menjadi kredit. Kredit lunak: bunga murah, jangka pengembalian panjang, tidak perlu bayar bunga dan cicilan di tahun-tahun pertama (grace period).
Semua itu masih rencana. Belum tahu pastinya. Presiden Trump pun masih harus mengangkat dulu siapa pimpinan USIDFC itu.
Jepang sudah lama punya lembaga seperti itu. Namanya: JBIC (baca: jebik). Bunga: cuma 2 persen. Masa pengembalian: 20 tahun. Grace period: 2 tahun. Murah dan ringan.
Maka JBIC-lah yang sejak awal orde baru membantu Indonesia. Karena itu proyek-proyek di Indonesia pernah didominasi Jepang. Serba Jepang. Mungkin seperti sekarang ini: serba Tiongkok.
Sampai-sampai muncul Malari. Yang mencuatkan nama Hariman Siregar. Yang menolak kedatangan perdana menteri Tanaka. Yang rusuh itu. Di tahun 1974 itu.
Dengan perubahan sikap Amerika, Indonesia tentu diuntungkan: banyak pilihan. Ada JBIC, ada OBOR dan kini ada USIDFC.
Tidak saya sangka Amerika berubah sikap. Secepat ini.
Amerika memang kian terkucil. Belakangan ini. Dan itu tidak enak. Biar pun kaya. Kaya terkucil ternyata tidak lebih enak dari MOMAK*. (dis).
*) Ideologi MOMAK (Mangan Ora Mangan Asal Kumpul).
Welcome Citizen Polite!
Setelah melalui perjalanan cukup panjang sebagai website warga menulis politik yang ekslusif, kini PepNews terbuka untuk publik.
Para penulis warga yang memiliki minat dan fokus pada dunia politik mutakhir Tanah Air, dapat membuat akun dan mulai menuangan ide, pandangan, gagasan, opini, analisa maupun riset dalam bentuk narasi politik yang bernas, tajam, namun tetap sopan dalam penyampaian.
Wajah berganti, tampilan lebih “friendly”, nafas tetaplah sama. Perubahan ini bukan hanya pada wajah dan rupa tampilan, tetapi berikut jeroannya.
Apa makna dan konsekuensi “terbuka untuk publik”?
Maknanya, PepNews akan menjadi web portal warga yang tertarik menulis politik secara ringan, disampaikan secara bertutur, sebagaimana warga bercerita tentang peristiwa politik mutakhir yang mereka alami, lihat dan rasakan.
Konsekuensinya, akan ada serangkaian aturan adimistratif dan etis bagi warga yang bergabung di PepNews. Aturan paling mendasar adalah setiap penulis wajib menggunakan identitas asli sesuai kartu keterangan penduduk. Demikian juga foto profil yang digunakan.
Kewajiban menggunakan identitas asli berikut foto profil semata-mata keterbukaan itu sendiri, terlebih untuk menghindari fitnah serta upaya melawan hoax.
Terkait etis penulisan, setiap penulis bertanggung jawab terhadap apa yang ditulisnya dan terhadap gagasan yang dipikirkannya.
Penulis lainnya yang tergabung di PepNews dan bahkan pembaca umumnya, terbuka memberi tanggapan berupa dukungan maupun bantahan terhadap apa yang ditulisnya. Interaktivitas antarpenulis dan antara pembaca dengan penulis akan terbangun secara wajar.
Agar setiap tulisan layak baca, maka dilakukan “filtering” atau penyaringan tulisan berikut keterangan yang menyertainya seperti foto, video dan grafis sebelum ditayangkan.
Proses penyaringan oleh administrator atau editor dilakukan secepat mungkin, sehingga diupayakan dalam waktu paling lambat 1x24 jam sebuah tulisan warga sudah bisa ditayangkan.
Dengan mulai akan mengudaranya v2 (versi 2) PepNews ini, maka tagline pun berubah dari yang semula “Ga Penting Tapi Perlu” menjadi CITIZEN POLITE: “Write It Right!”
Mari Bergabung di PepNews dan mulailah menulis politik!
Pepih Nugraha,
CEO PepNews