Tidak ada partai yang galaunya melebihi seperti PKS. Bagaimana tidak, semenjak masuknya partai Demokrat, peluang kader PKS untuk menjadi cawapres mendampingi Prabowo semakin kecil, tipis dan crispy.
Ini seperti orang pacaran yang sudah bertahun-tahun, runtang-runtung ke mana-mana, peluk dan cium, baik suka dan duka mereka lalui oleh kedua partai Gerindra dan PKS. Bahkan mereka berjanji untuk saling setia dan berkomitmen kelak pada tahun 2019 mau resmi nikahan. Eee... ada pihak ketiga yang nyosor tiba-tiba, melamar partai Gerindra dan sudah sepakat dan berkomitmen untuk mendukung Prabowo sebagai capres. Mumeeet nek ngene iki, pecah ndase.
Pacaran sudah bertahun-tahun tapi nikahnya atau ijab qobulnya dengan partai lain, sakitnya tuh di sini (sambil nunjuk ulu hati), sakit seperti disayat sembilu kata syair lagu.
Rencana yang sudah dibangun bertahun-tahun bisa bubar di tengah jalan karena ada pihak yang lebih gesit dan berani mengajukan lamaran, yaitu Demokrat.
PKS yang jauh-jauh hari menyodorkan 9 nama cawapres untuk mendampingi Prabowo sebagai pasangan capres dan cawapres, belum ada satu pun yang dipilih oleh Prabowo. Gerindra meminta mengerucutkan dari 9 nama tersebut menjadi dua atau satu nama biar pala Barbie, eh... biar Pak Prabowo tidak bingung dalam memilih kader PKS menjadi cawapres.
Akhirnya dikerucutkanlah menjadi dua nama, yaitu Ahmad Heryawan yang masih menjabat gubernur Jabar dan Salim Segaf Aljufri yang menjadi Ketua Makelis Syuro PKS. Sudah dikerucutkan sesuai permintaan, dua nama yang diajukan pun belum dipilih oleh Prabowo. Bagaimana PKS tidak senewen dibuatnya.
Bisa jadi Prabowo minta dikerucutkan lagi menjadi satu nama dari dua nama itu. Kalau tidak Aher ya Al Jufri, atau sebaliknya. Mungkin yang meringankan Prabowo kalau PKS tidak memberi pilihan satu pun kepadanya. Tapi apa tidak nambah mumet pala PKS kalau ini terjadi.
Hasil Ijtima Ulama juga merekomendasikan kader PKS, yaitu Salim Segaf Aljufri, inipun juga belum ada kejelasan dari Prabowo. Padahal dead line PKS dulu tanggal 30 Juli harus sudah ada keputusan siapa yang menjadi cawapres dari kader PKS untuk mendampingi Prabowo dalam pilpres 2019.
Bahkan PKS jauh-jauh hari sudah berjuang habis-habisan dengan kampanye yang lagi ramai, yaitu #2019GantiPresiden. Dan karena #2019GantiPresiden ini nyaris pasangan Sudrajat dan Ahmad Syaikhu mengalahkan pasangan Ridwal Kamil dan Uu dalam pilkada Jabar.
Dalam rapat bersama antara Demokrat, PKS, PAN dan Gerindra juga masih alot belum ada kesepakatan mengenai siapa yang akan menjadi cawapres untuk mendampingi Prabowo.
Malah menurut Syarif Hasan yang juga petinggi Demokrat, belum ada sikap legowo dari PAN dan PKS soal cawapres untuk mendampingi Prabowo dalam pilpres 2019. Ya jelaslah mana bisa legowo kalau Demokrat maksa AHY yang jadi cawapres untuk Prabowo. Orang betawi bilang, "Sialan ni anak kemarin sore nyelong gitu aja, ga tau sopan-santun!"
Jujur, ini bisa terjadi kebuntuan atau deadlock di antara partai pengusung Prabowo pada pilpres 2019.
Bahkan menurut Direktur Pencapresan PKS Suhud Aliyudin, tidak menutup kemungkinan PKS akan memilih opsi abstain pada Pilpres 2019 jika akhirnya tak ada kader PKS yang dipilih jadi cawapres.
"Itu salah satu opsi yang mungkin diambil kalau memang situasinya tidak memungkinkan, tapi itu tergantung pembahasan pimpinan DPP dan Majelis Syuro. Kira-kira sikap resmi PKS itu seperti apa ketika ada nama lain yang diusulkan," pungkas Suhud.
Bahkan Suhud mengingatkan kepada partai Gerindra dan Prabowo akan komitmen atau perjanjian yang sudah dibuat dan disepakati.
Sepertinya antara Gerindra dan PKS ada perjanjian hitam diatas putih atau bermaterai bahwa cawapres pada pilpres 2019 adalah dari kader PKS. Ini adil karena pada 2014 jatah itu diberika pada PAN.
Ini mengingatkan pada majunya Jokowi pada tahun 2014 sebagai calon presiden. Pada waktu itu Jokowi masih menjabat sebagai gubernur DKI Jakarta.
Tetapi karena dinamika politik yang dinamis, maka Megawati sebagai Ketum Partai memberikan mandat kepada Jokowi untuk maju sebagai capres 2014.
Rupanya pencalonan Jokowi sebagai capres 2014 membuat marah dan kecewa Partai Gerindra dengan mengeluarkan perjanjian Batu Tulis yang isinya salah satunya bahwa pada tahun 2014 Megawati akan mendukung Prabowo menjadi capres. Gerindra dan terlebih Prabowo merasa dikhianati pada waktu itu.
Ini bisa saja nanti kalau kader PKS tidak terpilih menjadi cawapres Prabowo, akan mengungkit dan mengeluarkan perjanjian atau kesepakatan yang telah dibuat oleh kedua partai tersebut di atas materai.
Inilah dinamika politik yang selalu seksi dipandang mata. Bisa jadi yang merasa sudah sehati dan sudah lama menjalin hubungan, malah tidak terpilih menjadi pendamping. Sedangkan yang baru kenal dan menjalin hubungan malah yang akan menjadi pendamping.
Inilah gambaran antara PKS dan Demokrat. Seperti pacaran sudah bertahun-tahun, tinggal naik pelaminan, eh... ada yang lebih cantik dan menarik. Cinta pun beralih seketika. Apalagi ternyata pendatang baru si pengganggu hubungan itu berduit dan ini yang penting.... menebarkan kehangatan pula.
Maka opsi abstain sebagaimana dilempar Suhud bisa terjadi. Abstain di sini tidak mendukung Prabowo, tidak juga mendukung Jokowi.
Kalau begini jadinya, PKS tak ubahnya layangan putus tali. Ia bisa melambung jauh tertiup angin dan jatuh di sebuah tempat yang bahkan anak-anak pemburu layangan pun tak tahu di mana jatuhnya.
Duh Gusti..... kenapa nasib jadi begini...!?
***
Welcome Citizen Polite!
Setelah melalui perjalanan cukup panjang sebagai website warga menulis politik yang ekslusif, kini PepNews terbuka untuk publik.
Para penulis warga yang memiliki minat dan fokus pada dunia politik mutakhir Tanah Air, dapat membuat akun dan mulai menuangan ide, pandangan, gagasan, opini, analisa maupun riset dalam bentuk narasi politik yang bernas, tajam, namun tetap sopan dalam penyampaian.
Wajah berganti, tampilan lebih “friendly”, nafas tetaplah sama. Perubahan ini bukan hanya pada wajah dan rupa tampilan, tetapi berikut jeroannya.
Apa makna dan konsekuensi “terbuka untuk publik”?
Maknanya, PepNews akan menjadi web portal warga yang tertarik menulis politik secara ringan, disampaikan secara bertutur, sebagaimana warga bercerita tentang peristiwa politik mutakhir yang mereka alami, lihat dan rasakan.
Konsekuensinya, akan ada serangkaian aturan adimistratif dan etis bagi warga yang bergabung di PepNews. Aturan paling mendasar adalah setiap penulis wajib menggunakan identitas asli sesuai kartu keterangan penduduk. Demikian juga foto profil yang digunakan.
Kewajiban menggunakan identitas asli berikut foto profil semata-mata keterbukaan itu sendiri, terlebih untuk menghindari fitnah serta upaya melawan hoax.
Terkait etis penulisan, setiap penulis bertanggung jawab terhadap apa yang ditulisnya dan terhadap gagasan yang dipikirkannya.
Penulis lainnya yang tergabung di PepNews dan bahkan pembaca umumnya, terbuka memberi tanggapan berupa dukungan maupun bantahan terhadap apa yang ditulisnya. Interaktivitas antarpenulis dan antara pembaca dengan penulis akan terbangun secara wajar.
Agar setiap tulisan layak baca, maka dilakukan “filtering” atau penyaringan tulisan berikut keterangan yang menyertainya seperti foto, video dan grafis sebelum ditayangkan.
Proses penyaringan oleh administrator atau editor dilakukan secepat mungkin, sehingga diupayakan dalam waktu paling lambat 1x24 jam sebuah tulisan warga sudah bisa ditayangkan.
Dengan mulai akan mengudaranya v2 (versi 2) PepNews ini, maka tagline pun berubah dari yang semula “Ga Penting Tapi Perlu” menjadi CITIZEN POLITE: “Write It Right!”
Mari Bergabung di PepNews dan mulailah menulis politik!
Pepih Nugraha,
CEO PepNews