Konstelasi Politik menjelang Pilpres 2019, terlebih lagi menjelang pendaftaran Capres dan Cawapres sudah mulai jelas arah koalisinya, baik dikubu Jokowi maupun kubu koalisi Prabowo. Pertemuan Prabowo dan SBY mengisyaratkan pemufakatan koalisi antara Partai Gerindra dan Partai Demokrat. Meskipun dari pertemuan tersebut belum membicarakan siapa kelak yang Akan menjadi Presiden dan Wakil Presidennya.
Bagi Partai Gerindra, Prabowo sebagai Capres adalah sesuatu yang tidak bisa ditawar lagi. Apakah Partai Demokrat masih keukeuh dengn syarat Koalisinya seperti sebelumnya, di mana Demokrat memberikan syarat mau berkoalisi dengan Gerindra, asal bukan Prabowo yang menjadi Capres. Pada pertemuan kemarin itu Demokrat tidak lagi mengajukan syarat tersebut, dan SBY sendiri juga tidak mengharuskan AHY sebagai Cawapres.
Saat Prabowo dan SBY melakukan pertemuan, 24 jam sebelumnya Jokowi dan Koalisinya Juga mengadakan pertemuan di Istana Bogor. Pertemuan yang dihadiri oleh 6 Ketua umum Parpol, Ketua Umum PDI-P, Megawati Soekarno Putri, Ketua Umum Partai Nasdem, Surya Paloh, Ketua Umum PKB, Muhaimin Iskandar, Ketua Umum Partai Golkar, Erlangga Hartarto, Ketua Umum PPP, M. Romahurmuziy, dan Ketua Umum Hanura, Osman Sapta Odang.
Sambil menyantap masakan padang, pertemuan inipun terbilang santai, sehingga memunculkan istilah "Rendang Koalisi." Seperti yang dikatakan Romy ketum PPP.
"Yang pasti, malam ini acaranya adalah makan malam dengan menu rendang koalisi," ujar Romy sapaan akrab Romahurmuziy sebelum pertemuan.
"Mestinya ini dilakukan sebelum 15 Juli, namun karena mencari waktu yang cocok untuk semua, maka baru hari ini, 23 Juli mulai jam 19.00 dapat dilaksanakan," imbuhnya.
Dua kubu ini sepertinya sudah memperlihatkan kejelasan siapa konco Koalisinya. Yang menjadi pertanyaan adalah, kemana PKS dan PAN akan berlabuh?
Kalau berdasarkan persyaratan ambang batas pencalonan Presiden, gabungan antara Gerindra sudah memenuhi syarat, begitu Juga bagi Koalisi Jokowi, malah melebihi persyaratan. Tanpa PKS dan PAN pun sudah tidak berpengaruh apa-apa bagi kedua kubu.
PKS akan menolak bergabung ke Gerindra, jika Gerindra mengusung Prabowo, PKS menginginkan Anies Baswedan berpasangan dengan Aher. PAN sudah menutup diri untuk bergabung dengan Koalisi Jokowi, sedang berusaha merapat ke Koalisi Prabowo dan SBY. Gesture Politik PAN memang pas merapat ke SBY dan Prabowo, karena Karakter politiknya memang ada disitu.
Sementara PKS, kalau tidak ikut gerbong Prabowo dan SBY, jelas berusaha merapat ke Koalisi Jokowi. Artinya posisi tawar PKS sudah turun, kalau sudah tidak memiliki posisi tawar, maka masuk di koalisi Jokowi pun tanpa syarat. Tidak bisa lagi meminta jatah Cawapres, atau minta jatah posisi Menteri sesuai dengan keinginan. Itu pun kalau PKS lolos parliamentary threshold (ambang batas parlemen), kalau tidak lolos ya apa boleh buat, terpaksa masuk kotak.
Jadi kalaupun PKS dan PAN masuk di koalisi sekarang ini sudah tanpa syarat apa pun, pilihannya cuma "Take it or Leave it," kalau leave it terus mau kemana.? Emang Ada poros ketiga...
kayaknya gak mungkin deh.
***
Welcome Citizen Polite!
Setelah melalui perjalanan cukup panjang sebagai website warga menulis politik yang ekslusif, kini PepNews terbuka untuk publik.
Para penulis warga yang memiliki minat dan fokus pada dunia politik mutakhir Tanah Air, dapat membuat akun dan mulai menuangan ide, pandangan, gagasan, opini, analisa maupun riset dalam bentuk narasi politik yang bernas, tajam, namun tetap sopan dalam penyampaian.
Wajah berganti, tampilan lebih “friendly”, nafas tetaplah sama. Perubahan ini bukan hanya pada wajah dan rupa tampilan, tetapi berikut jeroannya.
Apa makna dan konsekuensi “terbuka untuk publik”?
Maknanya, PepNews akan menjadi web portal warga yang tertarik menulis politik secara ringan, disampaikan secara bertutur, sebagaimana warga bercerita tentang peristiwa politik mutakhir yang mereka alami, lihat dan rasakan.
Konsekuensinya, akan ada serangkaian aturan adimistratif dan etis bagi warga yang bergabung di PepNews. Aturan paling mendasar adalah setiap penulis wajib menggunakan identitas asli sesuai kartu keterangan penduduk. Demikian juga foto profil yang digunakan.
Kewajiban menggunakan identitas asli berikut foto profil semata-mata keterbukaan itu sendiri, terlebih untuk menghindari fitnah serta upaya melawan hoax.
Terkait etis penulisan, setiap penulis bertanggung jawab terhadap apa yang ditulisnya dan terhadap gagasan yang dipikirkannya.
Penulis lainnya yang tergabung di PepNews dan bahkan pembaca umumnya, terbuka memberi tanggapan berupa dukungan maupun bantahan terhadap apa yang ditulisnya. Interaktivitas antarpenulis dan antara pembaca dengan penulis akan terbangun secara wajar.
Agar setiap tulisan layak baca, maka dilakukan “filtering” atau penyaringan tulisan berikut keterangan yang menyertainya seperti foto, video dan grafis sebelum ditayangkan.
Proses penyaringan oleh administrator atau editor dilakukan secepat mungkin, sehingga diupayakan dalam waktu paling lambat 1x24 jam sebuah tulisan warga sudah bisa ditayangkan.
Dengan mulai akan mengudaranya v2 (versi 2) PepNews ini, maka tagline pun berubah dari yang semula “Ga Penting Tapi Perlu” menjadi CITIZEN POLITE: “Write It Right!”
Mari Bergabung di PepNews dan mulailah menulis politik!
Pepih Nugraha,
CEO PepNews