Lagi dan lagi, Muhaimin Iskandar atau Cak Imin yang juga sebagai ketua partai PKB memberikan tekanan politik kepada Presiden Jokowi. Bentuk tekanan itu adalah Jokowi bisa kalah kalau tidak memilih dirinya menjadi cawapres.
Itu dulu, tapi sekarang diulang lagi.
Sebenarnya tekanan politik yang diucapkan oleh Cak Imin pernah diutarakan beberapa bulan lalu. Tetapi tekanan politik sekarang lebih gencar dilakukan karena sudah mendekati waktu untuk pendaftaran capres dan cawapres 2019.
Dan Cak Imin tetap optimis Jokowi akan memilih dirinya untuk menjadi pendamping sebagai cawapres. Menurut Cak Imin duet dirinya dengan Jokowi akan terwujud pada pilpres 2019. Jelas, pede banget Cak Imin ini. Nyalinya bolehlah.
"Buktikan saja. Kalau enggak JOIN (Jokowi-Muhaimin), bahaya," kata Cak Imin yang lebih memilih akronim JOIN (Jokowi-Muhaimin) daripada KOCAK (Jokowi-Cak Imin).
Dan menurut Cak Imin pula Presiden Jokowi berpotensi kalah dari penantangnya kalau tidak berpasangan dengan dirinya pada pilpres 2019.
Menurut Cak Imin, soliditas dukungan PKB tergantung pada sosok cawapres yang dipilih. Maksudnya sosok cawapres adalah dirinya.
Pokoknya Cak Imin akan terus mempromosikan dirinya untuk menjadi cawapres Jokowi tidak kenal malu, lelah atau sungkan, karena kalau malu dan sungkan, bisa disrobot oleh kader partai lain. Lelah? Lupakan saja.
Bahkan ketika nama Mahfud MD masuk nominasi sebagai cawapres Jokowi, Cak Imin langsung meng-counter dengan mengatakan bahwa Mahfud MD bukan mewakili alias representasi dari NU atau Nahdliyin.
Bisa jadi kalau Cak Imin tidak menjadi cawapres Jokowi akan lari ke kubu sebelah atau membentuk poros baru sebagai barisan yang kecewa karena tidak terpilih menjadi cawapres.
Bisa jadi kalau Cak Imin tidak menjadi cawapres Jokowi akan lari ke kubu sebelah atau membentuk poros baru sebagai barisan yang kecewa karena tidak terpilih menjadi cawapres.
Ini mirip PKS, kalau kadernya tidak terpilih menjadi cawapres Prabowo, lebih baik pecah kongsi atau jalan sendiri-sendiri. Cawapres dari kader PKS adalah harga mati yang tidak bisa ditawar, seperti yang diucapkan oleh Majeli Syuro Tifatul Sembiring.
Baik kubu petahana atau kubu oposisi hampir mempunyai permasalahan yang sama, yaitu penentuan cawapres.
Makanya penentuan cawapres dari dua kubu masih alot dan belum dideklarasikan atau di umumkan pada publik.
Bisa jadi untuk menghindari resitensi dari partai-partai pendukung, pengumuman atau pendaftaran capres dan cawapres pada menit-menit akhir sebagai strategi untuk menghindari gejolak dukungan politik dari partai pendukung.
Silahkan kasak-kusuk untuk menjadi cawapres, tetapi kalau tidak terpilih harus berjiwa besar, jangan kecewa atau mutung, terus balik kanan pindah dukungan.
***
Welcome Citizen Polite!
Setelah melalui perjalanan cukup panjang sebagai website warga menulis politik yang ekslusif, kini PepNews terbuka untuk publik.
Para penulis warga yang memiliki minat dan fokus pada dunia politik mutakhir Tanah Air, dapat membuat akun dan mulai menuangan ide, pandangan, gagasan, opini, analisa maupun riset dalam bentuk narasi politik yang bernas, tajam, namun tetap sopan dalam penyampaian.
Wajah berganti, tampilan lebih “friendly”, nafas tetaplah sama. Perubahan ini bukan hanya pada wajah dan rupa tampilan, tetapi berikut jeroannya.
Apa makna dan konsekuensi “terbuka untuk publik”?
Maknanya, PepNews akan menjadi web portal warga yang tertarik menulis politik secara ringan, disampaikan secara bertutur, sebagaimana warga bercerita tentang peristiwa politik mutakhir yang mereka alami, lihat dan rasakan.
Konsekuensinya, akan ada serangkaian aturan adimistratif dan etis bagi warga yang bergabung di PepNews. Aturan paling mendasar adalah setiap penulis wajib menggunakan identitas asli sesuai kartu keterangan penduduk. Demikian juga foto profil yang digunakan.
Kewajiban menggunakan identitas asli berikut foto profil semata-mata keterbukaan itu sendiri, terlebih untuk menghindari fitnah serta upaya melawan hoax.
Terkait etis penulisan, setiap penulis bertanggung jawab terhadap apa yang ditulisnya dan terhadap gagasan yang dipikirkannya.
Penulis lainnya yang tergabung di PepNews dan bahkan pembaca umumnya, terbuka memberi tanggapan berupa dukungan maupun bantahan terhadap apa yang ditulisnya. Interaktivitas antarpenulis dan antara pembaca dengan penulis akan terbangun secara wajar.
Agar setiap tulisan layak baca, maka dilakukan “filtering” atau penyaringan tulisan berikut keterangan yang menyertainya seperti foto, video dan grafis sebelum ditayangkan.
Proses penyaringan oleh administrator atau editor dilakukan secepat mungkin, sehingga diupayakan dalam waktu paling lambat 1x24 jam sebuah tulisan warga sudah bisa ditayangkan.
Dengan mulai akan mengudaranya v2 (versi 2) PepNews ini, maka tagline pun berubah dari yang semula “Ga Penting Tapi Perlu” menjadi CITIZEN POLITE: “Write It Right!”
Mari Bergabung di PepNews dan mulailah menulis politik!
Pepih Nugraha,
CEO PepNews