Demi Posisi Cawapres, Cak Imin Berkali-kali Menggertak Jokowi

Kamis, 12 Juli 2018 | 21:24 WIB
0
274
Demi Posisi Cawapres, Cak Imin Berkali-kali Menggertak Jokowi

Lagi dan lagi, Muhaimin Iskandar atau Cak Imin yang juga sebagai ketua partai PKB memberikan tekanan politik kepada Presiden Jokowi. Bentuk tekanan itu adalah Jokowi bisa kalah kalau tidak memilih dirinya menjadi cawapres.

Itu dulu, tapi sekarang diulang lagi.

Sebenarnya tekanan politik yang diucapkan oleh Cak Imin pernah diutarakan beberapa bulan lalu. Tetapi tekanan politik sekarang lebih gencar dilakukan karena sudah mendekati waktu untuk pendaftaran capres dan cawapres 2019.

Dan Cak Imin tetap optimis Jokowi akan memilih dirinya untuk menjadi pendamping sebagai cawapres. Menurut Cak Imin duet dirinya dengan Jokowi akan terwujud pada pilpres 2019. Jelas, pede banget Cak Imin ini. Nyalinya bolehlah.

"Buktikan saja. Kalau enggak JOIN (Jokowi-Muhaimin), bahaya," kata Cak Imin yang lebih memilih akronim JOIN (Jokowi-Muhaimin) daripada KOCAK (Jokowi-Cak Imin).

Dan menurut Cak Imin pula Presiden Jokowi berpotensi kalah dari penantangnya kalau tidak berpasangan dengan dirinya pada pilpres 2019.

Menurut Cak Imin, soliditas dukungan PKB tergantung pada sosok cawapres yang dipilih. Maksudnya sosok cawapres adalah dirinya.

Pokoknya Cak Imin akan terus mempromosikan dirinya untuk menjadi cawapres Jokowi tidak kenal malu, lelah atau sungkan, karena kalau malu dan sungkan, bisa disrobot oleh kader partai lain. Lelah? Lupakan saja.

Bahkan ketika nama Mahfud MD masuk nominasi sebagai cawapres Jokowi, Cak Imin langsung meng-counter dengan mengatakan bahwa Mahfud MD bukan mewakili alias representasi dari NU atau Nahdliyin.

Bisa jadi kalau Cak Imin tidak menjadi cawapres Jokowi akan lari ke kubu sebelah atau membentuk poros baru sebagai barisan yang kecewa karena tidak terpilih menjadi cawapres.

Bisa jadi kalau Cak Imin tidak menjadi cawapres Jokowi akan lari ke kubu sebelah atau membentuk poros baru sebagai barisan yang kecewa karena tidak terpilih menjadi cawapres.

Ini mirip PKS, kalau kadernya tidak terpilih menjadi cawapres Prabowo, lebih baik pecah kongsi atau jalan sendiri-sendiri. Cawapres dari kader PKS adalah harga mati yang tidak bisa ditawar, seperti yang diucapkan oleh Majeli Syuro Tifatul Sembiring.

Baik kubu petahana atau kubu oposisi hampir mempunyai permasalahan yang sama, yaitu penentuan cawapres.

Makanya penentuan cawapres dari dua kubu masih alot dan belum dideklarasikan atau di umumkan pada publik.

Bisa jadi untuk menghindari resitensi dari partai-partai pendukung, pengumuman atau pendaftaran capres dan cawapres pada menit-menit akhir sebagai strategi untuk menghindari gejolak dukungan politik dari partai pendukung.

Silahkan kasak-kusuk untuk menjadi cawapres, tetapi kalau tidak terpilih harus berjiwa besar, jangan kecewa atau mutung, terus balik kanan pindah dukungan.

***