Imunitas Nurdin Abdullah di Pilkada Sulawesi Selatan

Minggu, 1 Juli 2018 | 12:19 WIB
0
778
Imunitas Nurdin Abdullah di Pilkada Sulawesi Selatan

Sepotong dari catatan ini sudah lama tersimpan. Saya sarikan dari sebuah perbincangan kecil dan singkat. Kala itu, kami bertemu di warung kopi salah satu kabupaten sepekan sebelum Ramadan.

Kongkow di warung kopi, tapi menyeduh soda gembira. Terik matahari tak mau berdamai dengan aroma kafein.

Kami bertiga mantan wartawan.

Yang satu jadi dosen dan seorang lagi telah jadi pejabat pemerintah. Orang yang terakhir ini selain ASN, juga aktif menggawangi layar belakang pilkada selama 10 tahun terakhir di Sulawesi Selatan.

Kami tak basa basi memulai perbincangan. Kesempatan teman yang ASN sangat terbatas. Kami langsung membahas selintas pilkada di kabupaten itu lalu beranjak meneropong pemilihan Gubernur Sulawesi Selatan.

Saya lebih banyak menjadi pendengar. Lama tak pulang kampung, membuat banyak informasi terlewatkan.

"Pak NA sangat tangguh di Pilgub," kata sang ASN yang juga senior saya. NA adalah akronim dari Nurdin Abdullah.

Saya menyimak serius. Teman yang dosen senyum-senyum. Maka, tanpa pertanyaan susulan teman yang ASN lalu mengeluarkan anasir-anasirnya.

Menurut dia, NA memiliki keistimewaan khusus yang tak dipunyai tiga kandidat lainnya; Nurdin Halid, Agus Arifin Nu'mang dan Ichsan Yasin Limpo. NA, disebutnya, punya kekebalan politik.

Serangan apapun yang ditujukan kepada NA seolah-olah tak berpengaruh. Anehnya, tim pemenangan juga tidak melakukan tangkisan yang berlebihan.

"Kiprah NA selama menjabat bupati Bantaeng sudah mengakar kuat ke masyarakat Sulsel," ulas sang ASN.

Imunitas ini tidak hanya dimiliki secara pribadi, tapi ikut disebarkan kepada calon pemilih. Dengan begitu, sedikit demi sedikit figur NA menjadi lebih dominan mendapat perhatian dari pemilik suara.

Sampai di situ persamuhan bubar. Sang ASN melirik jam tangannya. Dia langsung beranjak ke meja kasir.

Lalu, bagaimana imunitas NA bekerja? Mari mereview sekilas proses Pilgub Sulsel.

Sepanjang proses pencalonan Nurdin Abdullah menuju pemilihan gubernur, memang tak henti-hentinya mendapat serangan dari rival-rivalnya. Mulai dari kampanye negatif berupa gelar profesor yang dia sandang hingga tudingan tak punya sikap komitmen.

Tuduhan ini masif dilancarkan setelah di tengah jalan Nurdin Abdullah membatalkan berpasangan dengan Ahmad Tanribali Lamo. Padahal, jauh sebelum gelaran bergulir, NA-Tanribali telah lebih dahulu mendeklarasikan diri. Bahkan, pasangan ini yang pertama kali menyatakan siap masuk di gelanggang Pilgub Sulsel.

Tanribali belakangan memilih maju bersama wakil gubernur petahana, Agus Arifin Nu'mang.

Setelah mendepak Tanribali, NA kemudian berdampingan dengan Andi Sudirman Sulaiman. Sudirman merupakan adik kandung Menteri Pertanian, Amran Sulaiman. Pasangan ini diusung PDI Perjuangan, Partai Keadilan Sejahtera dan Partai Amanat Nasional.

Tak punya komitmen inilah yang menjadi mainan lawan politik Nurdin-Sulaiman yang belakangan bertagline Prof(esor)-Andalan. Untuk menyindir itu, kandidat lainnya yakni Ichsan Yasin Limpo-Andi Mudzakkar menjadikan kata "komitmen" sebagai salah satu jargonnya dalam kampanye. Seolah-olah hanya pasangan inilah yang memiliki sifat komitmen.

[irp posts="3258" name="Akhirnya Dua Nurdin" Ini Harus Bertempur di Pilkada Sulawesi Selatan"]

Kehadiran Sudirman juga jadi bahan lulusan dan bullying. Sudirman, hanya berkarir sebagai seorang pengusaha di Jakarta. Dia "awam" di dunia politik. Satu-satunya jabatan "politik" yang pernah diduduki adalah sebagai ketua kelas dan ketua OSIS kala SMA.

Sudirman diolok sebagai boneka dari pihak-pihak yang bernafsu ingin berkuasa. Amran Sulaiman, kakak Sudirman, disebut menjadi tokoh sentral di balik pertautan pasangan ini.

Serangan lain yang diarahkan kepada NA adalah kondisi kesehatan. Peluru ini dilesatkan di sela-sela pemeriksaan kesehatan semua kandidat. NA disebut memiliki riwayat penyakit kronis. Dikabarkan pula bahwa NA rutin bolak ke luar untuk berobat.

NA juga diterjang dengan janji-janji saat menjabat bupati di Bantaeng. Proyek smelter dan pengiriman nikel yang pernah dijanjikan NA saat debat kandidat urung terealisasi. Pada sisi ini, NA disebut kerap mengumbar janji yang dengan mudah diingkari.

Prestasi-prestasi NA di Bantaeng juga tak lepas dari sentimen negatif. Bantaeng yang masuk kategori daerah kecil tidak layak dibandingkan dengan Kabupaten Gowa yang pernah dipimpin Ichsan Yasin Limpo, yang luasnya puluhan kali lipat, misalnya. Di mata rivalnya, Nurdin Abdullah "beruntung" memimpin wilayah kecil.

Rangkaian serangan itu ternyata tidak efektif menggerus elektabilitas NA. Sebaliknya, mayoritas pemilih kian menaruh simpati. NA dipandang sebagai sosok yang dizalimi di tengah timbunan prestasi.

Buktinya, berbagai survei tetap memprediksi keunggulan NA. Entah itu survei pesanan atau independen. Tapi, fakta lainnya adalah NA dan pasangannya juga menempati posisi kedua dari survei yang "dipesan" kandidat lain. Nyaris tak ada survei yang menempatkan elektoralnya kedodoran. Kalau bukan peringkat satu, yah, urutan kedua.

Perolehan simulasi elektabilitas NA stabil di semua sigi. Ini menandakan bahwa serangan yang dilancarkan kepadanya sama sekali tidak mempan. Sia-sia. NA terjaga karena punya imunitas. Dia miliki resistansi.

Dan, hasil hitung cepat sejumlah lembaga survei menempatkan Nurdin Abdullah-Sudirman Sulaiman sebagai pemenang telak. Perolehan lebih 40 persen suara menjadi pembuktian bahwa dia mendapat mandat mayoritas pemilih sebagai suksesor Syahrul Yasin Limpo.

Nurdin Abdullah meruntuhkan hasrat politik dinasti. Dia sekaligus memupus ambisi kandidat yang pernah terjerat kasus korupsi.

Selamat bagi warga Sulsel.

Sukses untuk gubernur baru.

***