Ironis, Minta Donasi di Saat Ekonomi Sulit dan Daya Beli Rendah

Sabtu, 23 Juni 2018 | 21:40 WIB
0
666
Ironis, Minta Donasi di Saat Ekonomi Sulit dan Daya Beli Rendah

Apakah Prabowo sedang bokek sampai harus meminta bantuan sumbangan atau donasi dari para simpatisan dan pendukungnya?

Kalau secara pribadi tentu Prabowo masih kaya raya dan asetnya berlimpah. Tetapi secara keuangan untuk maju sebagai capres Prabowo mengalami kesulitan logistik, sebagaimana yang diperkirakan banka pika selama ini. Untuk maju sebagai capres minimal membutuhkan dana Rp7 triliun. Ini angka diperoleh dari  tahun 2014 waktu Prabowo maju sebagai capres.

Jauh-jauh hari para pengamat sudah memprediksi atau menganalisa bahwa Prabowo untuk maju sebagai capres tahun 2019 akan mengalami kesulitan logistik. Tetapi anggapan ini langsung dibantah adiknya, yaitu Hashim Djojohadikusumo.

Indikator Prabowo lagi kesulitan logistik bisa dilihat: tidak adanya operasi udara alias iklan yang dalam momen-momen tertentu seperti hari raya kemarin tidak ada iklan Prabowo atau dalam momen bulan Ramadan juga tidak ada iklan sama sekali. Malah iklan yang sering muncul menjelang buka adalah Ketua Umum PPP Romahurmuziy. Hampir tiap hari selama Ramahan iklan Ketua Umum PPP selalu muncul. Tapi bukan berarti logistik Romy lebih besar dari Prabowo!

Pada pilpres tahun 2014, dua tahun sebelum pilpres, iklan Prabowo wira-wiri di media TV dan semua stasiun TV ada iklan Probawo. Dalam sehari bisa sepuluh kali lebih. Setiap momen-momen tertentu iklannya selalu baru. Menjelang pilpres 2014 iklan Prabowo semakin gencar. Tentu biaya iklan sangat menyedot dana yang sangat besar.

Keadaan sekarang berbalik, nyaris Prabowo tidak ada iklan di media TV untuk tahun ini!

Mungkin pada waktu tahun 2014 peluang Prabowo untuk memenangkan pilpres sangat besar sehingga banyak para pemodal besar atau donatur memberikan bantuan logistik untuk kampanye. Pada waktu itu untuk memperoleh sumbangan dana sangat mudah. Bahkan tidak diminta pun, para pengusaha yang mempunyai visi yang sama dengan Prabowo dengan mudah memberikan bantuan keuangan.

Para pengusaha atau pemodal tentu punya perhintungan sendiri dalam memberikan bantuan logistik kepada seorang calon presiden. Kalau peluang untuk menang sangat tinggi, tentu para pengusaha atau pemodal tidak pelit atau perhitungan. Tetapi kalau calon presiden itu peluang untuk menang sangat kecil, tentu mereka juga tidak mau memberikan bantuan.

Nah, mungkin inilah yang saat ini dialami oleh Prabowo kesulitan mendapatkan bantuan logistik dari para cukong atau pemodal besar.

Di saat ekonomi sedang sudah dan daya beli masyarakat rendah dan kebutuhan pangan yang serba naik, seperti yang sering Prabowo dengungkan, tiba-tiba Prabowo "mengiba-iba" atau memohon dengan memelas lewat medsos meminta sumbangan dan donasi untuk perjuangan politiknya.

[irp posts="17396" name="Penggalangan Dana Cara Prabowo Bukan Hal Baru, Apanya yang Aneh?"]

Menurut Prabowo, ia tidak mau dibiayai oleh para cukong dan pemodal besar yang suatu saat akan mengendalikannya. Ia ingin berjuang bersama masyarakat.

Ah, apa nya begitu, Pak? Bukannya pada waktu pilpres 2104 dibantu oleh para pengusaha dan cukong atau pemodal besar juga?

Jangan-jangan Pak Prabowo memang sudah mulai ditinggalkan oleh para cukong atau pemodal besar itu karena kans untuk menang sangat kecil. Tentu alasan para cukong dan pemodal besar sangat logis. Kalau mau membantu paling juga ala kadarnya sekedar menjaga hubungan baik saja.

Sebenarnya meminta sumbangan atau donasi kepada simpatisannya atau masyarakat, asal sesuai aturan KPU tidak menjadi masalah. Yang jadi masalah adalah masak seorang Prabowo yang dicitrakan seorang yang gagah yang kaya raya dan digadang-gadang menjadi macan Asia, malah meminta bantuan atau sumbangan dari masyarakat di kala ekonomi saat ini sedang sulit dan daya beli rendah, pengangguran meningkat, serta tenaga kerja China menyerbu Indonesia, sebagaimana yang sering didengung-dengungkan. Apakah bukan sebuah ironi namanya?

Kalau di Malaysia setelah Mahathir terpilih menjadi Perdana Menteri, masyarakatnya menggalang dana untuk membantu pemerintah membayar utang. Sedangkan di Indonesia seorang tokoh yang ingin menjadi presiden meminta bantuan atau sumbangan untuk biaya politik. Pihak penentang mengatakan, "Belum menjadi Presiden saja sudah nyusahin masyarakat, apalagi kalai sudah terpilih!"

Apalagi dalam setiap pernyataannya Probowo sering kali mengatakan bahwa negara Indonesia ini kekayaannya hanya dikuasai oleh segelintir elit. Tanpa sadar pernyataan itu juga menyindir dirinya sendiri yang juga termasuk dari segelintir elit. Bukankah Prabowo termasuk yang segelintir elit itu?

Coba tengok, berapa aset Prabowo di bidang tambang dan perkebunan sawit atau perusahaan kertas. Rumah Prabowo yang di Hambalang luasnya seperti lapangan Golf, bahkan pintu gerbang menuju rumah utama jaraknya ratusan meter. Belum lagi ada lapangan khusus kuda yang harganya untuk satu kuda mencapai milyaran.

Ayo sumbang Prabowo, mau seribu sampai lima ribu tidak apa-apa, asal ikhlas... demi merebut kekayaan negara yang dikuasi Aseng.

Mbelgedes, ah!!

***