Dolly Riwayatmu Kini (1): Omzet Turun, Ekonomi Rakyat Jadi Tumpuan

Jumat, 16 Maret 2018 | 09:43 WIB
0
579
Dolly Riwayatmu Kini (1): Omzet Turun, Ekonomi Rakyat Jadi Tumpuan

Oleh: Rindan Taufiqih

Mendengar nama Dolly pastinya sudah tidak asing lagi di telinga kita. Ya benar, Dolly adalah salah satu tempat prostitusi yang ada di Surabaya. Lokalisasi Dolly konon katanya adalah lokalisasi terbesar se-Asia Tenggara yang hidup sejak masa penjajahan Belanda dulu.

Pada awalnya tempat ini adalah makam Tionghoa meliputi daerah Girilaya yang kemudian pada tahun 1966 pemakaman itu dipindahkan melalui peraturan pemerintah dan diizinkan untuk mendirikan bangunan di atasnya. Dari situlah lokalisasi ini semakin membesar karena semakin banyaknya rumah bordil yang didirikan. Sebenarnya nama Dolly hanya ada dalam satu gang saja, tetapi wilayah Kelurahan Putat Jaya ini lebih dikenal dengan sebutan Dolly secara keseluruhan.

Memang menurut sejarahnya berdiri lokalisasi Dolly ini memang berasal dari salah satu noni Belanda yang bernama Dolly Chavid, dia membuka tempat prostitusi pertama dengan menyewakan gadis-gadis pekerja seks komersial kepada tentara-tentara Belanda yang singgah ke Surabaya.

Begitu banyak permasalahan yang di dapat apabila kita berbicara tentang salah satu bisnis hitam ini, mulai dari human trafficking, peredaran narkoba, dan miras ada di sini semuanya. Sikap negara yang menyatakan prostitusi ilegal pada akhirnya tidak pernah bisa menyelesaikan masalah prostitusi.

Penggusuran yang dilakukan pemerintah hanya akan membentuk prostitusi-prostitusi baru di tempat baru. Tidak hanya itu, penggusuran-penggusuran yang dilakukan pemerintah pada kenyataannya hanya menciptakan model-model prostitusi yang semakin berkembang, semakin canggih, dan semakin merugikan PSK, masyarakat, dan pemerintah.

Masih lekat diingatan kita pada 14 Juni 2014, Dolly resmi ditutup oleh Pemkot Surabaya di bawah pimpinan Tri Rismaharini, hal ini sebenarnya menimbulkan pro-kontra di berbagai kalangan termasuk warga eks lokalisasi Dolly sendiri.

Gang Dolly telah bertahun-tahun menjadi tempat ribuan orang mencari rezeki yang kala itu harus kehilangan mata pencahariannya. Tercatat lebih dari 800 wisma dan 9.000 orang Pekerja Seks Komersial (PSK), belum lagi pedagang kaki lima, tukang parkir, dan para calo yang juga mencari nafkah di sana.

Sebenarnya penolakan penutupan ini juga memiliki alasan yang mendasar yaitu berupa :

 

 

  • Akan semakin menjamurnya tempat-tempat prostitusi yang akan menyebar ke daerah-daerah karena tidak ada satu tempat yang mewadahi prostitusi dalam skala besar sehingga akan menimbulkan keresahan masayarakat di tempat lain.

 

 

  • Menimbulkan banyak penyakit semacam HIV/AIDS di daerah terdampak.

 

 

  • Hilangnya mata pencaharian masyarakat Dolly yang sudah puluhan tahun hidup dan mencari nafkah di sana.

 

 

Dari beberapa alasan yang disampaikan di atas, sebenarnya ada alasan utama dampak yang akan ditimbulkan ketika Dolly ditutup, yaitu masalah ekonomi warga eks-lokalisasi. Mereka resah ketika nanti pemerintah hanya akan memberikan kompensasi berupa uang yang kurang lebih hanya 5 Juta rupiah.

Uang ini di asa sangat kurang tepat karena tidak berdampak besar bagi kehidupan mereka. Warga eks-lokalisasi membutuhkan penanganan yang lebih berupa pendidikan dan pelatihan untuk bisa beralih kepada mata pencaharian yang halal.

Ekonomi sebagai Senjata

Sudah tidak dapat disangkal lagi penutupan lokalisasi berdampak langsung pada turunnya pendapatan masyarakat Gang Dolly. Hal ini bisa digambarkan ketika lokalisasi masih buka, banyak kendaraan yang terparkir menjadi lahan subur tukang parkir liar. Salon-salon diramaikan para wanita penjaja seks untuk memikat pelanggan mereka. Jasa pencucian baju juga mendapat berkah membersihkan pakaian maupun selimut yang kotor. Hingga warung-warung baik makanan berat maupun warkop selalu ramai dengan pelanggan.

Lompatan pendapatan inilah yang dipilih menjadi prioritas pemberdayaan para pemuda Surabaya yang tergabung dalam Gerakan Melukis Harapan (GMH) untuk mengubah wajah Dolly.

Berbagai ide dan inovasi coba diurai serta dikaji agar menghasilkan produk yang dapat mendatangkan keuntungan setinggi-tingginya dengan tempo sesingkat-singkatnya secara realistis.

Mulai dari produksi dan branding produk yang ringan seperti kripik Samijali, batik khas Surabaya, Tempe Bang Jarwo hingga Inspiratrip (jalan-jalan inspiratif) ditawarkan secara publik sebagai bentuk pemberdayaan ekonomi masyarakat Gang Dolly, kampung harapan.

Kripik Samijali dan Orumy salah satu contohnya. Produk yang berasal dari umbi ini diolah sedemikian rupa oleh ibu-ibu warga Gang Dolly menjadi makanan ringan yang khas dan cocok menjadi oleh-oleh Surabaya,sedangkan Orumy merupakan olahan dari rumput laut yang disulap menjadi minuman segar dan bergizi.

[irp posts="12022" name="Migo, Persewaan Sepeda Hijau (3): Lain Surabaya Lain Bandung"]

Bahkan di beberapa event besar Surabaya seperti rapat akbar PBB UN Habitat Precom III yang diselenggarakan bulan Juli 2016, lalu kerenyahan Samijali diperkenalkan di tengah ribuan peserta dari ratusan negara di seluruh dunia. Samijali dan orumy terbukti menjadi senjata ekonomi masyarakat Gang Dolly.

Selain pembuatan produk yang nantinya akan menjadi penopang hidup masyarakat Gang Dolly, masyarakat umum bisa terlibat dan melihat langsung bagaimana sejarah Gang Dolly berdiri, diruntuhkan, dan meniti kebangkitannya lagi. Inspitatrip jawabannya. Para peserta akan diajak berjalan-jalan dengan becak oleh warga Gang Dolly untuk melihat eks-wisma terbesar, wisma Barbara hingga pemberdayaan masyarkat Gang Dolly, Kampung Harapan.

Melalui program Inspiratrip sendiri sudah banyak masyarakat yang terberdayakan. Sebut saja tukang becak, tour guide lokal, para pengerajin, dan pembuat produk khas di wilayah yang masuk Surabaya Barat itu. Hal ini juga belum termasuk potensi penjualan dari pengunjung Inspiratrip yang memungkinkan untuk memborong produk-produk masyarakat Gang Dolly.

Kemudian relawan GMH juga memanfaatkan momentum bulan Ramadan. Melatih sampai mendampingi warga membuat makanan kering untuk lebaran seperti nastar, lidah kucing, hingga snow white. Masyarakat Gang Dolly juga diberdayakan untuk memenuhi kebutuhan buka dan sahur se-Surabaya melalui Catering Dolly.

Kebangkitan ekonomi masyarakat Gang Dolly mulai menunjukkan progresivitas yang positif jika dilihat pascapenutupan di tahun 2014. Kolaborasi relawan GMH jelas tidak bisa dipandang remeh terlebih selama hampir empat tahun hingga sekarang turut menemani masyarakat Gang Dolly dalam kebangkitan perekonomian mereka. Hal inilah yang juga menopang kegiatan di sektor-sektor lain agar tidak bertumpu pada donasi dan bantuan dari pihak lain.

(Bersambung)

***

Rindan Taufiqih, Mahasiswa Teknik Sistem Perkapalan FTK ITS, menulis untuk Selasar, platform tanya-jawab paling lengkap dan keren di Indonesia.