Perjalanan Panjang Harian Bernas sampai Menemui Kematiannya

Rabu, 7 Maret 2018 | 07:49 WIB
0
546
Perjalanan Panjang Harian Bernas sampai Menemui Kematiannya

Oleh: Gantyo Koespradono

Mengawali kuliah pertama dua pekan lalu, saya bertanya kepada para mahasiswa komunikasi (jurnalistik), berapa tahun lagi media cetak, khususnya surat kabar bertahan hidup?

Jawaban para mahasiswa bervariasi. Ada yang menjawab dua tahun lagi. Sebagian lagi menjawab lima tahun. Namun ada pula yang menjawab 10 tahun lagi.

Saat saya bertanya kepada mereka, apakah kalian masih membaca surat kabar? Lebih dari 90 persen mahasiswa yang saya dampingi belajar mata kuliah Editing Produksi Media dan Manajemen Media Massa mengaku tidak lagi membaca koran. Sebagian mengatakan di rumah, orangtuanya masih berlangganan surat kabar.

Jika memang faktanya seperti itu, saya mencoba "mengganggu" para mahasiswa, lantas buat apa Anda belajar jurnalistik jika ke depan perusahaan (industri) media cetak semakin sulit mempertahankan eksistensinya? Konsekuensinya, peluang mereka bekerja atau berkarier sebagai jurnalis di media cetak semakin sempit.

Tidak sampai sebulan saya berbincang-bincang dengan mahasiswa membahas soal itu, kabar tak sedap tentang masa depan industri datang dari Yogyakarta.

Sebagaimana diberitakan media (Rabu 28 Februari 2018), terhitung mulai 1 Maret 2018, manajemen PT. Media Bernas Jogja selaku penerbit Harian Berita Nasional (Bernas) memutuskan tidak lagi menerbitkan surat kabar yang telah berusia 71 tahun itu.

Tragis! Sebab Harian Bernas adalah surat kabar tiga zaman. Di Yogyakarta, Bernas adalah surat kabar kedua setelah Kedaulatan Rakyat. Para pendiri dan wartawan Bernas pada zamannya menjadi saksi sejarah berdirinya Republik Indonesia hingga bangsa ini masuk ke era Reformasi.

Harian Bernas didirikan Menteri Penerangan (pertama) RI, Mr Soemanang, pada 15 November 1946. Mengutip Pemimpin PT Media Bernas Jogja, Fransisca Diwati, Tempodotco memberitakan sebenarnya manajemen Bernas sudah berancang-ancang untuk tidak lagi menerbitkan koran Harian Bernas sejak 2015.

Namun, mengingat nilai sejarah Bernas bagi Yogyakarta dan pers nasional, termasuk tinggi, manajamen koran itu berusaha bertahan. "Saat itu kami masih tetap berusaha mempertahankan dan berjuang mengingat harian ini sudah lama berdiri. Kami ingin menghargai kawan-kawan yang berjuang di dalam agar koran ini eksis," ujar Fransisca kepada Tempo.

Rentang waktu tiga tahun ternyata dirasakan terlalu lama oleh manajemen Bernas. Memasuki bulan ketiga tahun 2018, manajemen Bernas tidak mampu lagi menanggung beban seperti biaya cetak yang semakin tinggi, biaya operasional, dan gaji karyawan. Seiring dengan itu, jumlah pembaca dan pendapatan iklan stagnan, bahkan cenderung menurun.

Langkah pahit pun ditempuh. Manajemen pamitan kepada para pembaca dan kliennya: tidak lagi menerbitkan Bernas dan memutuskan hubungan kerja (PHK) kepada 28 karyawan, termasuk wartawan.

Saat dihentikan penerbitannya, oplah terakhir Bernas hanya 2.000 eksemplar, padahal ketika masih berjaya di Daerah Istimewa Yogyakarta dan Jawa Tengah, sempat mencapai 80.000 eksemplar.

Seperti surat kabar yang sebelumnya sudah lebih dulu berstatus almarhum (antara lain Sinar Harapan), Bernas hanya akan tampil dalam bentuk online yang sudah disiapkan sejak 2,5 tahun yang lalu.

Dalam siaran persnya, Putu Putrayasa, Direktur Utama PT Media Bernas Jogja, menjelaskan manajemen Bernas tetap berkomitmen mengembangkan media online Bernas.id. Selain untuk membidik segmen pembaca generasi milenial yang akrab dengan gadget, sekaligus juga untuk mempertahankan nama Harian Bernas yang sudah melegenda dan menjadi sebuah heritage.

[irp posts="9496" name="Jokowi dan Kritikan John McBeth, Mengapa Media Nasional Bungkam?"]

Berbisnis media online di zaman now memang sesuatu yang tidak bisa dihindarkan, meskipun mengelola portal berita juga tidak mudah, sebab jika tidak ditangani secara serius dan profesional, lama-lama juga akan mati.

Jumlah media online (portal berita) kini tak terbilang. Namun, banyak pula yang tak terurus dengan baik dan akhirnya mati karena berbagai sebab.

Penyebab kematian media online periodik umumnya adalah keterbatasan SDM, infrastruktur (sistem teknologi informasi), dan tidak siapnya SDM dalam mengelola informasi yang detik demi detik terus berubah. Jika sebuah portal berita tidak siap mengaktualkan informasi (berita) yang diperoleh, maka bersiap-siaplah mati. Ini belum termasuk kesiapan tim konten dalam mengolah dan menggarap isu.

Dilatarbelakangi kenyataan itu, jangan heran jika hanya media online tertentu saja yang mampu eksis di belantara dunia maya, seperti: Tribunnews, Detik, Kompas, Liputan6, Kapanlagi, Merdeka, dan Okezone.

Dunia online kini memang telah menggusur dunia cetak mencetak atau dunia old yang disebut Renald Kasali dalam bukunya Disruption sebagai incumbent.

Jika para incumbent tidak mau berubah menyesuaikan diri dengan situasi kekinian, maka cepat atau lambat, mereka bakal ditelan bumi.

Para mahasiswa selayaknya juga harus siap berubah, sebab sangat mungkin sesuatu yang mereka impikan masih bersuasana incumbent. Kebiasaan dan karakter mereka ternyata juga masih seperti incumbent yang lazimnya mempertahankan cara-cara lama dalam meraih kemenangan (sukses), baik dalam menempuh studi, maupun mempersiapkan diri masuk ke dunia kerja.

Para mahasiswa mengaku membaca berita lewat smartphone (online). Namun, dalam kelas yang berbeda, para mahasiswa menyatakan tidak pernah memanfaatkan media sosial, seperti Facebook, blog, Steller, portal opini, dan sejenisnya untuk mengekspresikan isi pernyataan mereka lewat tulisan, gambar, atau video.

Mereka sehari-hari telah berkomunikasi lewat smartphone. HP mereka juga telah dilengkapi aplikasi yang bisa diakses melalui Android, namun tidak ada yang menyimpan aplikasi untuk membaca buku, seperti Google Book (Play Book) atau Toko Buku (TB).

Terus terang, saya tidak bisa memerkirakan kapan para mahasiswa zaman now akan semakin akrab dengan dunia digital di saat mereka sudah tidak lagi membaca surat kabar cetak.

"Matinya" Harian Bernas tentunya memunculkan nostalgia tersendiri bagi para penulis lepas di surat kabar itu. Mereka pasti punya kenangan tidak mengenakkan (namun punya kesan mendalam) saat naskah yang mereka tulis dan dikirim ke koran itu ditolak redaksi.

Kebanggaan seorang penulis -- juga wartawan -- adalah saat karya tulis dan berita yang mereka  tulis dimuat di media cetak. Diakui atau tidak, media cetak, khususnya surat kabar sampai sekarang masih dipercaya memiliki kredibilitas tinggi.

Di saat hoaks merajalela di dunia maya dan disebarluaskan secara terstruktur dan masif lewat media sosial dan media online abal-abal, surat kabar dijadikan rujukan yang bisa dipercaya oleh masyarakat untuk memastikan kebenaran sebuah informasi yang simpang siur.

Salah satu rujukan, Bernas, kini telah tiada. Semoga sosoknya yang baru, Bernasdotid dapat tetap dijadikan rujukan bagi masyarakat, khususnya warga Yogyakarta dan Jawa Tengah untuk mengetahui dan menikmati mana berita yang memang bisa dipercaya. Kita mesti belajar dari kematian koran Bernas.

Media cetak, sesuai tuntutan zaman, boleh saja mati. Namun, jurnalistik -- di dalamnya ada etika -- tak akan dan tak boleh mati.

***

Gantyo Koespradono, mantan wartawan Media Indonesia, penulis dan dosen jurnalistik di IISIP Jakarta, menulis untuk Selasar, situs tanya-jawab pengetahuan dan pengalaman paling lengkap dan keren di Indonesia.