Sabar, Sareh, Seleh

Selasa, 12 Desember 2017 | 06:00 WIB
0
372
Sabar, Sareh, Seleh

Ini sebenarnya hanya sebuah kesalahan kecil yang bisa saja dianggap sepele. Menjadi tidak sepele karena menyangkut: sebuah prinsip seorang jendral besar yang berkuasa di Indonesia selama 32 tahun. Sebuah rekor masa jabatan, yang saya pikir tidak akan pernah terpecahkan di masa datang.

Arkian, salah seorang anaknya Titiek Soeharto sedang sangat berambisi untuk menjadi Ketua Umum Golkar. Dan niatnya ini didukung oleh saudara-saudaranya, terutama mbak Tutut dan Tommy.

Saya tidak tahu, kemana saja selama ini Sigit, Bambang dan Mamiek berada. Kenapa mereka tak pernah disebut-sebut lagi oleh media, kecuali dalam kasus-kasus miring perusahaan-perusahaan off-shore, tempat mereka mendirikan perusahaan siluman untuk menghindari bayar pajak.

[irp posts="5477" name="Ingin Selamatkan Golkar, Titiek Soeharto Undang 23 Politikus Sepuh"]

Dalam sebuah acara di Cendana yang mengundang para sesepuh Golkar, secara tidak langsung Titiek mengungkapkan rencananya tersebut, seraya membuat argumentasi "absurd" sekali, bahwa rakyat ingin Golkar kembali ke tangan keluarga Cendana. Sebuah keinginan, yang saya yakin justru bakal membuat ayah-ibu mereka makin tidak tenang di alam penantian mereka. Ada beberapa keganjilan yang bahkan mereka pun tidak menyadari!

[caption id="attachment_5675" align="alignright" width="474"] Prabowo di bekas kediaman Soeharto (Tribunnews.com)[/caption]

Dalam kesempatan yang sama, diungkapkan pula rencana alih fungsi kediaman Pak Harto di Cendana sebagai museum. Dan di antara memorabilia yang dianggap penting yang diceritakan (kebetulan) oleh Mbak Tutut adalah sederet huruf Jawa: yang intinya menunjukkan konsonan S S S atau Triple S. Mbak Tutut menjelaskan itu singkatan dari tiga prinsip hidup yang selama ini menjadi dasar berpikir, bertindak dan berperilaku Pak Harto.

Sialnya, sebagaimana saya kutip dari Detik.com, menurut saya mbak Tutut salah menjabarkannya. Saya heran bagaimana mungkin ia sampai salah, padahal ini prinsip mendasar. Apalagi seingat saya, ia adalah penyususn buku legendaris "Butir-butir Budaya Jawa". Ia mengatakannya sabar, sareh, dan saleh. Sedangkan yang seharusnya adalah sabar, sareh, dan seleh.

Pada dua kata yang pertma maknanya sangat jelas sabar dan ikhlas. Sedangkan pada kata ketiga, ternyata sekali fatalnya: saleh dan seleh sama sekali berbeda. Dikatakan saleh artinya beragama, sedangkan seleh makna sebenarnya adalah penerimaan dengan segenap ketulusan dan kerendahan hati.

Dalam kultur Jawa seleh menunjukkan tingkatan tertinggi seorang manusia yang sudah menjauhkan dirinya dari berbagai kepentingan duniawi, tertera dalam kata kembangannya "semeleh" yang dalam bahasa populer hari ini disebut tawadhu. Ia menekankan pada penerimaan atas segala kehendak Gusti Allah, tanpa perlawanan bahkan pertanyaan sedikitpun.

Menurut saya itulah warisan dan wasiat terbaik yang diberikan oleh Pak Harto untuk anak turunnya. Untuk tidak-tidak lagi menginjakkan kaki di dunia politik yang mungkin tidak sepenuhnya mereka pahami. Yen wis salah, ya seleh. Kalau sudah mengakui adanya kesalahan, yang berhentilah, akhirilah.

[irp posts="5601" name="Jusuf Kalla Tahu Luhut dan Jokowi Bakal Khianati Titiek Soeharto"]

Saya yakin, di luar hujatan yang mungkin masih deras mengalir pada Presiden kedua RI ini, ia sangat menyadari banyaknya kesalahan yang telah diperbuatnya selama ini. Dan itu telah ditunjukkannya dalam akhir masa hidupnya bahwa "ia telah seleh".

[caption id="attachment_5674" align="alignleft" width="463"]

Presiden Soeharto (Foto: Liputan6.com)[/caption]

Harusnya, sekali lagi harusnya dengan warisan kekayaan, kehormatan, kebanggaan yang ditinggalkan Pak Harto. Keluarga Cendana ini mestinya telah merasa dicukupkan. Sayangnya, godaan kekuasaan terus mengejar mereka. Pun ketika, dera hukum sudah tidak mengejar-ngejar mereka lagi. Pun ketika, masyarakat ingin segera menghapus jejak masa lalu mereka.

Dalam konteks inilah mungkin mbak Tutut bisa jadi malah benar, tidak perlu seleh tapi saleh (beragama, beriman atau mungkin seiman). Saleh dalam tataran paling rendah tentu saja.

Dan ini adalah typical masyarakat Indonesia hari ini, yang sedang tergila-gila pada masalah agama. tapi lupa untuk apa ia beragama. Ia hanya bisa mengeja tetapi gagal membaca apalagi memaknai tanda-tanda zaman. Tak heran, bila mereka, keluarga Cendana ini, merasa sangat dibutuhkan lagi!

***